RSS

Do Min Joon-ssi!





Ah, terakhir aku tergila-gila dengan drama Korea adalah detik-detik menjelang UN SMP; tahun 2009-2010. Boys Before Flowers! Drama remake Hana Yori Dango itu sukses membuatku terjangkiti hallyu (demam Korea). Dulu, ya... dulu sempat bela-belain langganan majalah Bintang biar dapet koleksi posternya F4 versi Korea: Goo Jun Pyo, Yoon Ji Hoo, Geum Jan Di, So Yi Jung, dan Song Woo Bin. Dua tahun lalu,  mungkin masih ada posternya. Tertempel di dinding kamar, tapi sekarang entahlah ke mana.

Setiap kali beli majalah Bintang, besoknya pasti langsung karaokean gratis di kelas bareng temen-temen sambil ngafalin lirik soundtracknya ini dramkor. Hah, such a child memory! Setiap kali ada kesempatan, lagu yang dihafal juga itu. Setiap Senin dan Selasa malem, channel Indosiar nggak boleh diganti; bahkan jika besok harus UTS. Tak ketinggalan pula ikutan sesenggukan waktu Jan Di dapet musibah, atau rencana Goo Jun Pyo digagalin ibunya, atau banyak rintangan yang dihadapi couple aneh itu. Belum lagi komentar-komentar via SMS waktu nonton BBF di TV.

Satu hal yang tidak akan kulupakan. Gara-gara dramkor ini, I found new episode in my life with someone special. Inilah yang tidak akan kuulangi lagi. Tidak. Sudah cukup. Mungkin ini hukuman dari Allah gara-gara aku terlalu addicted sama dramkor. Yaaa, segala sesuatu yang berlebihan jelas tidak baik :)

Okay. Di SMA, aku tak suka lagi nonton drama Korea, film Korea, atau apapun bentuk hallyu. Sudah terjebak dengan budaya Jepang, budaya Islam, dan budaya Arab? Bisa jadi. Walaupun masih banyak temanku yang tetap setia menjadi K-fans; di dramanya, K-popnya, atau filmnya. Kondisi ini berlanjut hingga aku kuliah.

Dan tiba-tiba di semester 2; RCTI nayangin Kau yang Berasal dari Bintang. Promosinya menurutku cukup eye catching. Adegan yang terjadi adalah si Nikita Willy yang kesandung di red carpet tiba-tiba terhentikan oleh kedatangan Morgan. Mana ada sinetron Indonesia yang kaya gitu ceritanya? Kan rata-rata sinetron Indonesia pada bahas anak sekolahan yang menor-menor, kehidupan keluarga yang berantakan, atau paling bagus semacam Tukang Bubur Naik Haji ya yang entah kenapa tiba-tiba episodenya beranak pinak begitu. Tapi mending lah, sinetron keluarga sekarang banyak yang memberikan nasihat; walaupun masih banyak yang cuma cerita artifisial plus percintaan semu semata. Tapi, sinetron terbarunya Nikita Willy itu menampilkan sesuatu yang berbeda. Suatu malam, teman-teman kuliahku yang K-popers komentar soal sinetron itu. Katanya jiplakan. Oh, ternyata! Ini lho film aslinya: The Man From The Stars/You Who Came from The Stars.

Setelah nonton episodenya sampai habis, well, aku kembali jatuh cinta dengan drama Korea. Ceritanya yang nggak biasa, pemainnya yang profesional, alur cerita yang logis (terpengaruh filsafat), dan Do Min Joon! bagaimanapun berhasil membuatku jatuh cinta sekali lagi. Tapi, sejak aku berpengalaman dengan BBF, aku tak mau lagi keterlaluan jatuh cinta. Setidaknya, ada beberapa scene di dalam drama itu yang pernah kualami dan sekali lagi menyeretku jauh ke dalam ceritanya. *dasar melankolis* *tapi sudah rasional*.

Terutama peran Do Min Joon-ssi yang dibawakan Kim Soo Hyun sukses membawakan sosok *ehm suami idaman untukku #plak. Simak dialog-dialog yang diucapkan tentang Do Min Joon,

"Kau selalu ada di sampingku saat aku kesulitan..."
"Kau yang menyelamatkanku. Terima kasih."

Model-model dialog seperti itu masih bertebaran terkait peran Do Min Joon pada orang yang dicintainya, Cheon Song Yi. Karena Do Min Joon selalu ada saat Song Yi butuh bantuan, butuh diselamatkan, butuh dikasih uang, butuh perlindungan, dan bahkan butuh temen curhat. Min Joon-ssi melakukan itu juga karena dia punya kekuatan yang bisa ngilang, bisa menembus benda bening dan gelap, bisa menghentikan waktu, dan bisa mendengarkan percakapan orang lain saat dia ingin melakukannya. Mirip-mirip Edward Cullen lah. Betewe ini kenapa jadi curhat.

I would like to continue this writing in English. I have ever imagined that I will have "my man from the stars" too. How can I think like that? Look, everyone has her/his own couple. My man from the stars means he is sent by God to be my life companion, isn't it? Is that so simple thought? I don't care. Yeah, now, I am waiting for my own Do Min Joon and he is not an alien!

Come Back Home

Well, since I created an account in wordpress ( I really love it! Love that simple design this blogger doesn't have); I have moved out to there. But, let's say welcome back for me!

Jadi, alhamdulillah, aku sudah semester 2! Banyak yang harus diurus: paper, organisasi, PR (pekerjaan rumah tangga), ruhani, dan finansial. Everything must be fixed before I am being asked to be married. Hihihi.
Kalo kata Mbak Hanif, "Kamu cuma waktu persiapan 2 tahun!" Waktu yang cepat. Pilihan yang segambreng dengan sifatku yang gampang teralihkan, bosen, tapi sekaligus gampang tertarik adalah ya cukup susah. Aku termasuk orang yang agak sulit menentukan pilihan. Kalo bisa, aku akan meng-cover seluruhnya. Tapi ternyata diriku punya kemampuan terbatas. I am totally excited in imagining something, but I can't do it without someone helps me. It really is. 

Ada satu hal yang bisa jadi solusi mantap dan ini sedang kulakukan. Solusi ini dari Pak Doddy (fotografer kondang) yang kemungkinan, kepribadiannya mirip-mirip aku. "Kerjakan satu-satu dengan tuntas dan jadilah yang terbaik. Kalau satu sudah selesai, baru grasping yang lain." Begitulah kata beliau ketika mengisi seminar fotografi bulan Ramadhan lalu di salah satu acara USC. Kata-kata itu begitu melekat.

Di semester ini, aku ingin jadi orang organisatoris, punya banyak teman, punya kenalan banyak, dan memperbanyak jaringan. Artinya, aku bakalan ketemu orang baru setiap hari, kenalan sama mereka, menjadi ekstrovert, dan sedikit berbeda lah dengan Annisa yang dulu. Bahkan aku harus mengurangi jatah SKS-ku. Ngga apa-apa. Demi pencapaian satu-satu ini, dan demi lulus 3,5 tahun, rela deh. :)

Yang penting, belajarku tetap di dalam jalurnya, kebiasaan baca tetap terjaga, dan tetap berkumpul dengan orang-orang shalih. InsyaAllah, semuanya juga ikut terjaga.

Mungkin, mereka semua bilang kalau ya, aku belum masuk 'gerbang neraka'. Padahal sebenarnya, ketika kita sudah siap dengan apapun yang ada didepan kita dan sadar dengan keberadaan Allah di sekitar kita, everything will be fine. I am really sure, everything will be fine. Aal izz Well!

Beginilah, rasanya kembali ke rumah.

Tengger, Nuansa Baru Indonesia (2) - Stay Inside



Untuk mencapai Pendopo Agung, kami harus ganti naik ... ELF, mobil keluarga yang agak gede dikit dan cuma berisikan 15 orang. Oh iya... aku nemu temen-temen baru yang asyik di perjalanan kali ini. Soalnya sama dosen sengaja dipisah biar gak kumpul se-fakultas. Ada Rani anak FKH, Selvi anak FKM yang baik banget mau minjemin kameranya (kameraku ngadat! Iki muangkeli pol kok. Di saat banyak objek buat dijepret dan tiba-tiba ngehang), Dirga anak FKH yang jago IT, Baskoro anak Komunikasi, Affan anak FKG si tukang foto, beserta 2 cewek FKG yang aku lupa namanya, Mario anak FISIP si Komting bis 2, ada anak FKP yang aku lupa namanya, Dian & Ilham anak FIB yang sejurusan denganku, dan beberapa anak lain yang entahlah tiba-tiba saja lupa namanya. Bersama merekalah, hidupku selama dua hari itu akan berlangsung.

kelompok bus 2 - aku gak ikut kefoto karena aku yang ngefoto -__-
Oukay... Perjalanan yang cukup membahayakan dengan jalanan yang ekstrim. Kata Bu Azizah, dosen pendamping, kami disuruh dzikir banyak-banyak biar selamet sampe tujuan. Ketawaan ngakak pun tergantikan dengan komat-kamit anak-anak. Nah, di tengah jalan, kami sempet menangkap bau wangi entah darimana. Padahal yo nggak onok sing pake minyak wangi... Misterius dan horor, iyooh! Namanya saja kampung adat, ya wajar kalo bau-baunya kek gitu. Hehehe.

Then, sampailah kami di Pendopo Agung. Di sana, kami dipertemukan oleh 3 narasumber yang notabene para tokoh keagamaan dan tokoh adat. Ya, kami dapet penjelasan soal upacara Karo, adat Tengger, kehidupan multikulturalisme di sana, dan salam orang Tengger, Houng Ulum Basuki Langgeng. Artinya *kira-kira* semoga kesejahteraan abadi untuk kita semua. Terus jawabannya Langgeng Basuki. Salam itu digunakan di masyarakat Tengger, entah itu orang Islam, orang Hindu, orang Kristen, maupun agama lainnya.

Malam pun mulai menyapa... #cieh. Dan berikutnya adalah kami harus menginap di rumah-rumah penduduk. Homestay! Biarin deh, walaupun homestay masih di sekitar Surabaya dan belum ke luar negeri, yang penting kan homestay. Hahaha. Lagian, di sini juga nggak ada hotel/villa kok. Plus, kalo kita lebih ngenal dengan masyarakatnya, kan juga lebih enak.

Unfortunately, kelompokku baru dapet penginapan jam 8 malem, itu bagi cowoknya. Buat ceweknya, jam setengah 10 malem baru bisa tidur di rumah Pak Kades Ngadirejo. Udah gitu, tidurnya mindang, jejer-jejer kaya ikan pindang di karpet. Hm, begitu nginjek keramiknya, seakan berjalan di atas balok es. Setiap milimeter dari lantai itu adalah balok es! Mati rasa pokoknyalah. Apalagi airnya, wes nggak ada yang berani mandi deh. Karena dingin, nggak bau kok yang pasti :)

But, sadly... aku dan beberapa anak FIB yang rencana muncak, batal gara-gara penginapan kami jaraknya sekitar 5 km dan ketidakjelasan transport. Ya iyalah, kirain deket sama puncak. Eh... nyata-nyata harus sewa hartop dulu 450.000/6 orang. Belum lagi, operator hape apapun gak fungsi kecuali pake CERIA. Well, rada nyebelin tuh di sini. Selain kameraku ngadat tentunya. Segala bekal yang sudah kami siapkan akhirnya juga dimakan sendiri-sendiri. Aarrgh, pokoknya kudu kesampean muncak deh sama mereka kapan-kapan. Tapi yang ekstra njengkeli lagi, cowok-cowok kelompokku, Mario cs berhasil sampe ke penanjakan via pick-up dengan bayar 300.000 berberapa puluh cowok. Dan dengan lebaynya jam 7 pagi, mereka melambai-lambai di depan cewek-cewek yang lagi asyik foto-foto di sekitaran rumah Pak Kades. Zzzz. Ngiri, sumpah.



Tengger at Night
 - B e r s a m b u n g -