RSS

Nobita Kruso

"Kyaa... Ibu... kupikir, aku tak akan bertemu dengan Ibu lagi... Huhuhu," Nobita memeluk pinggang Ibu, menangis. 

--

Di hari Minggu pagi yang cerah, matahari bersinar indahnya. Ibu menyodorkan mi ramen kepada Nobita dan Doraemon untuk sarapan pagi. "Bu, sumpitnya boleh kuambil, tidak?" kata Nobita dengan mata berbinar-binar. Lalu ia pergi diiringi tatapan Ibu yang terheran-heran.
Untuk apa Nobita mengumpulkan sumpit?

"Apa? Kamu mau apa, Nobita?" mata Doraemon membesar dan mengecil, tak percaya dengan usul gila Nobita yang entah ke berapa kalinya itu. Doraemon melihat buku petualangan (Crush : dibaca dengan ejaan Jepang jadinya Kruso) Nobita tergeletak di samping sumpit-sumpit itu.

"Iya, Doraemon! Aku ingin bertahan hidup! Aku ingin punya pulau sendiri. Dan aku akan membuktikan bahwa aku bisa mengandalkan diriku sendiri!" tangannya terlipat di depan dada. Nobita terinspirasi dari buku yang dibacanya. Doraemon hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat hal itu.

Doraemon mengambil satu sumpit. "Haduuu, kamu ini, memangnya mau sampai kapan mengumpulkan sumpit-sumpit ini untuk dijadikan rakit yang bisa mengarungi lautan? Butuh berapa tahun? Ada-ada saja kamu."

--

"Yee.. akhirnya, aku punya pulau sendiri... Ini pulauku! Sekarang aku bebas dan aku buktikan bahwa aku bisa hidup sendirian!" kata Nobita. Saat itu juga, Nobita kelaparan. Dia mencari-cari apapun yang bisa dimakan di hutan terdekat. Baru beberapa langkah, tapi sudah "Aku lapaar..." kata Nobita lemah. "Kenapa tidak ada yang bisa dimakan..."

Lagi-lagi, Doraemon memberikan ransel yang berisi makanan.

Tak lama kemudian, datanglah hujan deras yang mengguyur seluruh tubuh Nobita. Ini membuatnya kedinginan. "Brrr.. dingin sekali ya... Huh, ini pulau apa sih? Masa aku tak bisa menemukan apapun di pulau ini? Aaarrrggh...."

Terpaksa, Doraemon pun mendorongnya hingga ia jatuh dan menemukan goa terdekat.

Meski sudah di dalam goa, Nobita masih menggigil. Tiba-tiba ia ingin pulang. "Huh, merepotkan saja." meski begitu, Doraemon memberikan sepotong baju dari daun-daunan agar Nobita tak kedinginan.

Ketika hujan sudah reda, panas pun mulai terik. Panas sekali. "Butuh minuuum... Aku haaaauuuuss... Harusnya, aku tadi menyimpan air hujan untuk persediaan..." keluh Nobita.

Doraemon pun datang dengan pengebor sumur dan membuatkan mata air mini di dekat Nobita.

Lama-lama, Nobita merasa lelah. Ia lelah hidup sendirian, ia butuh teman bicara, ia butuh Ibu, butuh Doraemon, dan teman-temannya. Kini, ia terduduk sendirian di dalam goa. Menunggu siapapun datang menyelamatkannya. Ia ingin pulang. Ia rindu rumah.

Kini, ada tangan yang menjewer telinganya. "Auh, Ibu..."
"Kamu ini, main ke mana saja. Sampai malam begini tidak pulang-pulang..."

--

Dan cerita berlanjut ke bagian awal. Dan aku, melihat diriku sendiri pada Nobita. Dari sini, harusnya kita sadar, bisa itu bermula dari biasa.

Mozaik Cangkir



            “Ika, Ika... cepat bangun, Nak! Ayo, bangunlah sekarang. Ika...” suara gemetar di dekat telingaku mendesakku bangun. Aku tahu itu suara panik Ayah. Mataku masih berkunang-kunang, pandangan ini kabur. Rasa pusing dan sakit gara-gara terjatuh tadi sore masih setia menjalari seluruh tubuhku. Sekali lagi Ayah mengguncang-guncangku kuat.
            Aku mengerutkan wajah, “Ada apa...”. Suara –suara keras, tiang-tiang yang harusnya kutahu pasti menyangga rumahku, tiba-tiba roboh. Ruang tamu sudah tak kelihatan lagi bentuknya. Genteng cokelat yang menaungi hari-hariku, terpelanting ke sana kemari. Rumah itu kini bobrok, rusak terseret angin.
Seketika aku sigap menandai suara-suara tetanggaku yang meraung-raung, entah menangis, atau apa. Yang jelas, hujan dengan kejam membasahi pundak mereka, pundakku, dan Ayah. Aku baru merasakan Ayah membawaku berlari, menggendongku tanpa tujuan yang jelas.
Kuamati, mendung masih gelap. Aku tahu Ayah juga hampir kelelahan. “Yah, kita turun di situ sebentar ya, “ aku menunjuk sebuah pohon kelapa di ladang Pak Budi, kepala desa ini. “Jangan, Nak. Bahaya, Ika. Ayah tidak apa-apa. Kita terus saja, ya?” pinta Ayah.
Lalu aku terdiam. Saat itu pula, sesuatu yang dahsyat, menghantam dada kecilku. Aku hanya bisa melihat, tanpa melakukan apapun, terpaku. Melihat satu-satunya orang yang mengajakku membuat mozaik dengan pecahan cangkir itu terjatuh. Kaku.
Dan aku pun mempunyai seribu pertanyaan, seperti apakah mozaik cangkir-cangkir itu dalam bentuk nyata? Sakitkah jika aku merangkainya? Mampukah aku menyusunnya menjadi sebuah cangkir yang indah? Sore itu, ketika aku terjatuh, sebelumnya Ayah telah menjelaskan tentang satu kuncinya, tunggu angin yang mengabarkan.
--
Udara dingin kota Tokyo mulai merayap. Jendela kamar di Sakura Hoteru yang kutempati meninggalkan bekas-bekas uap, menunggu sinar mentari lembut yang hanya datang 15 menit di pagi hari pada pukul 7. Tapi tidak dengan keringatku yang kini membasahi hampir seluruh tubuh.
Seseorang menyunggingkan senyum dan membuatkan mi instan hangat khas Indonesia plus secangkir teh hijau. “Mimpi buruk lagi, Ika-chan? Ini, sarapanlah dulu. Masih ada dua jam sebelum kita ke festival,” kata Rina, sahabatku yang juga peserta Festival Koinobori.
“Wah, makasih ya, Rina. Baiknya dirimu. Aku makan dulu ya, Itadakimasu!” ujarku tersenyum. Sambil menyeruput teh hijau khas Jepang, aku memandang langit-langit kamar. Membayangkan dua minggu lalu aku masih di kontrakan sempitku di Bandung. Berkutat dengan ribetnya penerbangan perdana ke luar negeri ini. Menyiapkan dokumen, baju-baju, file presentasi, dan tetek bengek lainnya.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga kenapa aku bisa terdampar di Tokyo. Sungguh, aku berterima kasih kepada Joni and the gank yang telah mengejekku habis-habisan di hari peresmian kantor cabang wilayah Bandung. “Lu kalo ngomong dijaga! Emangnya bisa, Mr. Nojima makan rendang yang banyak lemaknya? Lu sih, nggak pernah ke Jepang,” semprot Joni di dapur. Clara ikut-ikutan, “Aduh, aduh, jangankan ke Jepang... buat ke makam bapaknya aja dia nggak punya biaya. Hahaha. Dasar, tengil! Yuk, udah ditungguin meeting sama Mr. Nojima di atas. Daa... tengil!” Enak saja mereka bilang begitu! Ayah, maafkan aku. Aku belum mengunjungi Ayah sebulan ini. Nanti ya Yah, kalau aku ada uang, aku segera ke Surabaya. Sabar ya Yah. Ayah tahu kan, kalau aku sedang sedih? Tapi, aku ingat Yah, dan aku tahu, kalau aku harus terus semangat!
Tak terasa, air mataku kembali menetes, mengingat peristiwa itu. Mangkok mi instan di tanganku juga mulai dingin. Tapi, bolehkah aku melanjutkan apa yang terjadi setelahnya?
Miss Taeko mendengar percakapan kami saat itu. Setelah Joni and the gank pergi, putri semata wayang Mr. Nojima itu menghampiriku. “Ika-san, Anda tidak apa-apa? Maafkan kelakuan staf Ayah saya, ya,” parasnya yang khas Jepang itu menyejukkan. “Tidak apa-apa, Miss. Saya tahu saya salah. Sumimasen, Miss.” Aku segera berlalu setelah membuatkan secangkir kopi untuknya dan untukku sendiri. Dan tahukah, beberapa hari kemudian, aku mendapat surat keputusan resmi yang membawaku ke Tokyo, menghadiri Festival Koinobori bersama Rina, salah satu staf Miss Taeko.
“Ika, siap-siap ya. Aku mau turun mengambil cucian kita di bawah. Kutunggu setengah jam lagi,” Rina bergegas keluar kamar dan melambaikan tangan. Lalu aku berdiri mematung di depan jendela, memandangi kota impianku ini. Kubuka sedikit jendelanya. Tiba-tiba, angin yang beraroma sama saat ayah meninggal itu hadir. Bau segar buah kelapa.

Beastly

So, this was a simple conversation between the English drama today.

She said, "Nis, why was being a bad person easier than a kind one?"

"Because you don't have to pretend who you're," I said.

Another girl said, "Because there's no one has all the good attitudes at him/her."

"Yeah, like on the film. That's bull****," a man looked at us.

IT

"Have you ever walked on the thorny way? Have you?" said Ubay one day.
"Ya, of course," Umar answered.
"How did you walk it?"
"I really did carefully. So I could do without any thorn in my foot."
"That's the real Taqwa means." said Ubay bin Ka'ab.

Islam and Taqwa.

All of us, have been explained that Taqwa is do what Allah asked to us and go away from the things're prohibited. That's right. But, have ever we thought about the thorny way in front of us? Have ever we realized it?

So, Ubay bin Kaab said that we're walking on it, nowadays. We are on it. Then, there's a picture we're pulling the thorn one by one. Kicking it out. Maybe, that's totally tired, but we're fighting for it. So, Allah can do the promise to us. Giving us the Jannah. Is it wonderful?

The taqwa may not easy. But, surely with Allah's help, we can do it. Although it's hurt, it's painful in early, be strong. There's He who always keeping an eye for you.

Well, that's the point. I just read an amazing article about this. Taken from Nurul Hayat magazine, part 110, March 2013. Maybe, this will give you some "anusual experience".

"Playing" the Person You're

I believe, that someone has some "bad attitudes"
and, how did you feel to your heart, if you're getting mad with it?
and, how did you feel when you had to play your "bad attitudes" outside
the sides which no one can know it?
I've ever seen this
about myself was playing it,
being arrogant, cocky, and selfish
that's totally annoying

but, from the stage, I realized
You can't trust the bad image then
You can try to against them
And, you still have a chance to change
Every second, every minute, every hour,
are chances to choose

Thanks to all my beloved friends
have taught me some precious steps
to see the world,
have allowed me knowing my true self

even though,  the stage was over,
the life must be going on
just a word of thankyou
and a little prayer
for you