RSS

Wanita Tangguh Tulang Punggung Keluarga?

Jadi, pas GN 2K13 lalu itu... para peserta disuruh buat bikin sobekan kertas kecil-kecil ukuran 4x6. Eh, yaa nggak kecil-kecil amat laah :3 Sebanyak 800 lembar, tapi dimasukin dalam 4 amplop yang berbeda. Awalnya sih udah dapet bocoran, itu kertas mau diapain.

>>EVALUASI DIRI<<

Kalo bicara evaluasi, jadi inget pertama kali jaman SMA kelas X -aku masih inget banget, nget, nget, pada hari ke-30, gimana aku dievaluasi sama anak-anak sekelas- jadi nangis-nangisan. Gak pake malu-maluan, well, somehow, itu caranya yang kurang tepat.

Okay, back to present. Entah kenapa, aku menunggu-nunggu saat sesi evaluasi diri ini. Tentunya, dengan mempergilirkan amplop-amplop yang sudah kita buat dan diisi kertas itu. Justru, itulah fungsi kertas. Kita bisa ngasih pesan apa saja (curhat, kritik, cerita, bahkan nembak! dan opini pedes sekalipun) tanpa nama. Yah, tujuannya memang menjaga objektivitas diri ya. Maklum, di kuliah ini, aku membuat diriku sedikit terbuka dengan berbagai penyesuaian. Yah, makna "sedikit" yang akhirnya bersamaan juga dengan "berbagai" ini memang nyata. Plis, aku besok-besok juga akan emnghadapi banyak orang dan aku nggak mungkin kan menutup diri terus? Impossible -dibaca mirip tulisannya-!

Sayangnya, waktu itu gerimis datang menyapa -cieh- dan sesi lingkaran besar di lapangan pun batal dengan alasan keamanan dan keimanan. Padahal kalo dapet komen dari senior kan asyik-seru gimanaa gitu. Nope, nope, ini bukan modus. Ya, sok terkenal lah ya. Dapet komen dari senior. Itu berarti ngeksis. Akhirnya, kami terpecah, terbelah, dan terpisah! Aku dan beberapa kelompok dan beberapa senior mendapat tempat di mushala deket kamar cowok.

Kami mengular, membentuk ular-ularan duduknya *jadi ketularan gaya bahasa seorang temen*. Kemudian, amplop itu tergilir begitu saja. Begitu pula aku. Tiba-tiba di depanku berkeliaran amplop-amplop yang beberapa wajahnya kukenal dan beberapa wajahnya kulupa(kan). Kepada mereka yang kulupa(kan), aku hanya ingin sebisa mungkin memberikan pesan baik: Keep positive thinking. Yaa, biar yang baca adem, gitu kan? Biar yang baca itu ngerti, kalo masih ada yang peduli sama dia. Iyalah, katanya "We're family". Ya harus diterapkan dalam kenyataan dong.

Akhirnya, amplopku kembali. Aku mengudari apa isinya. Sebagian sudah kubaca, tapi gara-gara "Heee mbacanya di rumah aja. Lebih seru tauuk," Trainerku berkata dan bersungut-sungut memintanya. Pasrah. Alhamdulillah, ternyata mereka juga berpesan yang baik padaku. Dan, tadaaa... 50% aku berhasil mengubah sejarah hidupku: pendiam. Hanya satu kertas yang mengatakan "Kamu pendiam ya?". Hahaha, yeah, aku berhasil jadi anak cerewet. Jadi inget kata Trainer, "Nis, maaf ya. Aku telah mengubahmu dari sosok alim menjadi alay..." sambil mukanya nahan ketawa.

I think, it's not a problem. As long as I keep my faith, Mbak.

Dan satu lagi komentar yang berbunyi begini, "Wanita tangguh tulang punggung keluarga...". Komentarku: ini nih yang agak lebay. Ya, aku memang kerja part-time, ngelesi anak SMP sama SMA. Bagi anak kuliahan, yaa mungkin itu sesuatu yang amazing. Padahal aku yo biasa ae. Cari duit sendiri, mbiayai apa-apa sendiri, dan ujungnya dianggap mandiri. Walaupun aku sebenernya bersyukur dapat stigma yang seperti itu. Tapinya lagi, entahlah aku kok justru merasa terlalu mengeluh dengan keadaan.

Kalo boleh jujur, aku memang berusaha mandiri. Terlepas dari otomasi dan doktrin ayahku yang dengan ajaibnya memberikanku kekuatan lebih. Secara pemikiran positif, apa yang dilakukan ayahku adalah mendorongku untuk berperilaku mandiri. Meskipun harus membuatku lelah, tapi intinya adalah aku tahu gimana rasanya kerja. Gimana rasanya nerima gaji hasil jerih payah tangan dan pikiran kita. Gimana susahnya membangun komunikasi serta bermasyarakat. Sementara ini, hasilnya memang untuk diriku sendiri. Paling nggak, aku bisa beli buku-buku tanpa diomeli ayah, atau ngerepotin mama. Bisa beli kerudung warna-warni, rok, girl stuffs lainnya tanpa dikomentari ini itu. Bisa ikut kegiatan ini itu yang juga perlu uang. Dan yang paling penting: beli buku semau gue. Well, it's truly amazing! Bolehlah, aku memandang dengan hal-hal positif. Karena semuanya akan menjadi lebih indah.

Di sini, aku hanya merefleksi diriku sendiri. Mungkin juga mengklarifikasi bahwa, aku memang kerja. Tapi, kalau untuk predikat tulang punggung keluarga, itu belum. Bagiku, predikat tersebut sangat agung. Hanya orang-orang yang sangar lah yang bisa melakukannya. Seperti kedua orang tuaku. Beliau berdua adalah tulang punggung keluarga dan sampai sekarang belum tergantikan. Tapi, terima kasih kawan -siapapun yang telah menulisnya- karena telah mendoakanku menjadi wanita tangguh yang akan menjadi tulang punggung keluarga, di posisi terhormat itu.