RSS

Tengger, Nuansa Baru Indonesia (1) - Lilin Kecil




Yah, berhubung sedang stuck nulis BAB I PKM, nulis blog aja dulu deh. Bisa jadi prompt writing nih. Well, kali ini aku nulis tentang Suku Tengger yang hidup di (hampir) puncak Gunung Bromo. Minggu lalu ke sana dan tujuannya bukan wisata sih *alibi*, buat Study Excursie perkara Kehidupan Multikulralisme di Indonesia. Tanpa banyak cincong di kelas, aku dan 275 teman lainnya dari berbagai fakultas berkumpul di kampus dan langsung cus ke Bromo.

Suku Tengger hidup di puncak pegunungan Bromo. Iya noh, kalo kata dosenku, negeri di atas awan ya perkampungannya suku Tengger itu. Jam 2 siang di sana, tebingnya udah pada gak keliatan kecuali kalo pake lampu senter kuning yang ekstra terang atau lampu mobil. Jalanannya naik, berkelok-kelok dengan belokan yang hampir 360 derajat, plus sempit -cuma bisa dilewatin satu mobil-; bisa dipastikan hanya para sopir handal yang bisa nyetir di situ, harus extra advanced. Bus aja sampe gak berani masuk, hanya mobil-mobil seukuran Avanza, Ertiga, ya yang model-model segitu lah.

 Asal-usul suku Tengger itu dulunya berawal dari pernikahan Roro Anteng dan Jaka Seger. Mereka menikah lama, tapi belum dikaruniai anak. Merekapun bersemedi selama 6 tahun dan akhirnya dikabulkan doanya oleh dewa. Syaratnya, mereka harus mengorbankan anak terakhirnya untuk menjaga keselamatan seluruh keluarga dan lingkungannya. Singkat cerita, mereka diberi 25 orang anak. Harusnya, anak terakhir yang bernama Kusuma dikorbankan. Namanya orang tua ya pasti gak tega lah! Tapi ya... akhirnya dewa penunggu Gunung Bromo ngamuk dan menyeret Kusuma ke kawah via lahar! *peristiwa gaib, terserah mau gimana aja caranya*

It's time to tell you about the traveling! Pertama sih disambut di Pendopo Kabupaten Pasuruan sama Sekda *Bupati nya nggak bisa dateng* dan diberi jamuan makan siang. Acaranya ya gitu itu, perkenalan wilayah Bromo, sambutan-sambutan, terus makan-makan. Udah gitu doang. Tapi, ada satu hal yang menarik; lagunya! Waktu makan, kita diiringi lagu Lilin-Lilin Kecil. Tahu kan, lagunya Chrisye.

Lagu itu pas banget dengan tema mengenal multikulturalisme oleh mahasiswa. Secara, mahasiswa mau nggak mau ya besok-besok bakal jadi pejabat juga kan? Ngewarisi jabatan dari pemerintah sekarang. Perhatikan liriknya,

Engkau lilin-lilin kecil, sanggupkah kau mengganti, 
Sanggupkah kau memberi seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil, sanggupkah kau berpijar 
Sanggupkah kau menyengat seisi dunia

Para dosen kami sadar kalau kami bakalan mimpin negeri sejuta umat ini dengan berbagai perbedaannya. Duh, bayangkan kalau kami akhirnya gampang bersikap diskriminasi dan malah superior sama salah satu budaya. Entahlah, yang lain noticed atau nggak, tapi satu hal baru yang kusadari di Stadium Generale I ini: tantangan multikulturalisme yang harus dijawab oleh para mahasiswa.

Setelah makan siang syahdu plus foto-foto geje bareng anak-anak *ini salah satu tujuan juga, bisa foto-foto!*, kami pun digiring ke Pendopo Agung, yang terletak tempat pemberhentian terakhir para mobil dan angkutan lain dan harus diganti hartop kalo mau muncak ke Bromo. 

- B e r s a m b u n g -