RSS

Konsisten?

Di banyak jalanan, entah sudut atau pusat kota Surabaya sekarang, aku mendapati spanduk-spanduk anti suap macam ini:




Masalah klasik yang seringkali menjangkiti masyarakat kalo sudah kena kasus "tilang" adalah "penyuapan". Well, sudah jadi rahasia umum kalo tiap kali tilang pasti harus bayar denda di tempat. Biar urusannya nggak diperpanjang, biar urusannya nggak ribet, dan sebagai hukuman ekstra instan yang nggak bisa membuat jera. 

Denda yang cukup ringan atau bahkan jaminan-jaminan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak terkait, seperti anggota TNI, anggota polisi yang lain, dan sekelumit perlindungan di mata hukum; tampaknya masih sangat belum membuat jera. Nggak heran, kalau banyak kecelakaan di jalan. Nggak heran juga, kalau banyak penyalahgunaan kendaraan bermotor. Nggak heran juga, kalau akhirnya banyak orang yang tersiksa sepanjang hidupnya gara-gara kesalahan kecil seperti ini.

Bicara soal suap, sama saja bicara soal uang. Lucunya, KPK bisa menangkap para koruptor besar di Indonesia tapi masih saja membiarkan korupsi kecil-kecilan terjadi. Padahal, korupsi besar awalnya juga berasal dari korupsi kecil. Contohnya ya seperti kasus suap menyuap di jalan ini. Mungkin orang-orang sekarang nggak mau repot dan berpikir instan. Udah pusing mikir hidup, nggak mau mikir yang agak panjang. 

Salah satu penyebab suap di jalan raya adalah tilangan. Tilangan pun sebabnya macam-macam. Ada yang nggak bawa surat-surat lengkap, melanggar marka jalan, kena razia, kebut-kebutan, dan segudang hal lain. Dan tiba-tiba, wuuuz... selesailah  masalah itu dengan satu kali suap. Padahal, gimana kalau akhirnya perilaku-perilaku itu ternyata dampak akhirnya lebih besar dari kehilangan uang Rp 50.000 - Rp 100.000? Gimana kalau ternyata perilaku yang ceroboh itu sampai mengorbankan nyawa orang lain? Apakah akan selesai begitu saja?

Padahal nggak kan. Tindakan ceroboh itu adalah kebiasaan yang nggak mau dihentikan. Dan bisa bayangkan kalau terlalu banyak tindakan ceroboh di jalan raya. Yang rugi bukan cuma diri sendiri, tapi orang banyak. Sebaiknya, kalau emang ditilang ya ditilang saja. Toh itu juga kesalahan kita. Nggak mau ditilang ya, biasakan disiplin di jalan, bawa surat-surat lengkap, lengkapi kendaraan. Lampu merah ya merah, ijo ya ijo. 

Ini sedikit referensi sih dari Cina, diambil dari sini. Jadi bagi mereka yang melanggar, akan dikenakan sistem poin. Jika sudah melewati 12 poin, maka izin mengemudi akan dicabut dan wajib latihan mengemudi supaya dapat izin lagi. Kalau saja, sistem seperti ini bisa diterapkan di Indonesia ya. Ini akan mengurangi tingkat kecelakaan di jalan dan banyak kerugian lain.

Soal spanduk, ya meskipun masih sekedar spanduk, setidaknya langkah pertama sudah ada. Setidaknya sudah mengingatkan baik polisi maupun masyarakat. Tinggal bagaimana kita saja, mau berpikir maju atau tidak. Orang-orang yang punya mindset 'maju' pasti nggak akan lari dari tanggung jawab. Mulai saja dari diri sendiri.