RSS

Mozaik Cangkir



            “Ika, Ika... cepat bangun, Nak! Ayo, bangunlah sekarang. Ika...” suara gemetar di dekat telingaku mendesakku bangun. Aku tahu itu suara panik Ayah. Mataku masih berkunang-kunang, pandangan ini kabur. Rasa pusing dan sakit gara-gara terjatuh tadi sore masih setia menjalari seluruh tubuhku. Sekali lagi Ayah mengguncang-guncangku kuat.
            Aku mengerutkan wajah, “Ada apa...”. Suara –suara keras, tiang-tiang yang harusnya kutahu pasti menyangga rumahku, tiba-tiba roboh. Ruang tamu sudah tak kelihatan lagi bentuknya. Genteng cokelat yang menaungi hari-hariku, terpelanting ke sana kemari. Rumah itu kini bobrok, rusak terseret angin.
Seketika aku sigap menandai suara-suara tetanggaku yang meraung-raung, entah menangis, atau apa. Yang jelas, hujan dengan kejam membasahi pundak mereka, pundakku, dan Ayah. Aku baru merasakan Ayah membawaku berlari, menggendongku tanpa tujuan yang jelas.
Kuamati, mendung masih gelap. Aku tahu Ayah juga hampir kelelahan. “Yah, kita turun di situ sebentar ya, “ aku menunjuk sebuah pohon kelapa di ladang Pak Budi, kepala desa ini. “Jangan, Nak. Bahaya, Ika. Ayah tidak apa-apa. Kita terus saja, ya?” pinta Ayah.
Lalu aku terdiam. Saat itu pula, sesuatu yang dahsyat, menghantam dada kecilku. Aku hanya bisa melihat, tanpa melakukan apapun, terpaku. Melihat satu-satunya orang yang mengajakku membuat mozaik dengan pecahan cangkir itu terjatuh. Kaku.
Dan aku pun mempunyai seribu pertanyaan, seperti apakah mozaik cangkir-cangkir itu dalam bentuk nyata? Sakitkah jika aku merangkainya? Mampukah aku menyusunnya menjadi sebuah cangkir yang indah? Sore itu, ketika aku terjatuh, sebelumnya Ayah telah menjelaskan tentang satu kuncinya, tunggu angin yang mengabarkan.
--
Udara dingin kota Tokyo mulai merayap. Jendela kamar di Sakura Hoteru yang kutempati meninggalkan bekas-bekas uap, menunggu sinar mentari lembut yang hanya datang 15 menit di pagi hari pada pukul 7. Tapi tidak dengan keringatku yang kini membasahi hampir seluruh tubuh.
Seseorang menyunggingkan senyum dan membuatkan mi instan hangat khas Indonesia plus secangkir teh hijau. “Mimpi buruk lagi, Ika-chan? Ini, sarapanlah dulu. Masih ada dua jam sebelum kita ke festival,” kata Rina, sahabatku yang juga peserta Festival Koinobori.
“Wah, makasih ya, Rina. Baiknya dirimu. Aku makan dulu ya, Itadakimasu!” ujarku tersenyum. Sambil menyeruput teh hijau khas Jepang, aku memandang langit-langit kamar. Membayangkan dua minggu lalu aku masih di kontrakan sempitku di Bandung. Berkutat dengan ribetnya penerbangan perdana ke luar negeri ini. Menyiapkan dokumen, baju-baju, file presentasi, dan tetek bengek lainnya.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga kenapa aku bisa terdampar di Tokyo. Sungguh, aku berterima kasih kepada Joni and the gank yang telah mengejekku habis-habisan di hari peresmian kantor cabang wilayah Bandung. “Lu kalo ngomong dijaga! Emangnya bisa, Mr. Nojima makan rendang yang banyak lemaknya? Lu sih, nggak pernah ke Jepang,” semprot Joni di dapur. Clara ikut-ikutan, “Aduh, aduh, jangankan ke Jepang... buat ke makam bapaknya aja dia nggak punya biaya. Hahaha. Dasar, tengil! Yuk, udah ditungguin meeting sama Mr. Nojima di atas. Daa... tengil!” Enak saja mereka bilang begitu! Ayah, maafkan aku. Aku belum mengunjungi Ayah sebulan ini. Nanti ya Yah, kalau aku ada uang, aku segera ke Surabaya. Sabar ya Yah. Ayah tahu kan, kalau aku sedang sedih? Tapi, aku ingat Yah, dan aku tahu, kalau aku harus terus semangat!
Tak terasa, air mataku kembali menetes, mengingat peristiwa itu. Mangkok mi instan di tanganku juga mulai dingin. Tapi, bolehkah aku melanjutkan apa yang terjadi setelahnya?
Miss Taeko mendengar percakapan kami saat itu. Setelah Joni and the gank pergi, putri semata wayang Mr. Nojima itu menghampiriku. “Ika-san, Anda tidak apa-apa? Maafkan kelakuan staf Ayah saya, ya,” parasnya yang khas Jepang itu menyejukkan. “Tidak apa-apa, Miss. Saya tahu saya salah. Sumimasen, Miss.” Aku segera berlalu setelah membuatkan secangkir kopi untuknya dan untukku sendiri. Dan tahukah, beberapa hari kemudian, aku mendapat surat keputusan resmi yang membawaku ke Tokyo, menghadiri Festival Koinobori bersama Rina, salah satu staf Miss Taeko.
“Ika, siap-siap ya. Aku mau turun mengambil cucian kita di bawah. Kutunggu setengah jam lagi,” Rina bergegas keluar kamar dan melambaikan tangan. Lalu aku berdiri mematung di depan jendela, memandangi kota impianku ini. Kubuka sedikit jendelanya. Tiba-tiba, angin yang beraroma sama saat ayah meninggal itu hadir. Bau segar buah kelapa.