RSS

Saat Semuanya Sama #1

Inilah yang terjadi pada semua orang di sekolahku (khusus kelas 12)
a. Galau jurusan
b. Nyepik orang tua yang gak ada ujungnya
c. Kejar-kejaran sama deadline UNAS dan SNMPTN
d. Ngadepin panitia undangan yang mood-mood-an nggak jelas
dan yang paling parah adalah:
e. Berusaha menyatukan idealisme dan realisme

Ketika mimpi sudah terbayang, tapi ternyata tidak seperti itu;
aku hanya ingin bilang, masa dewasa itu adalah "saatnya berbagi"
Ketika nyali ini tertantang besar, tapi ternyata tidak seperti itu;
aku hanya ingin bilang, masa dewasa itu "mengubah aliran nyali"

Siapa bilang jadi orang dewasa harus penuh sikap realistis?
Justru, sikap realisme itu mengajarkan kita "kesadaran" tentang seberapa besar usaha kita
Justru, mimpi-mimpi kita yang berkaitan dengan idealisme masa muda akan tertantang di sini

6 tahun lalu, kita berkata, "Aku ingin jadi dokter," "Aku ingin jadi insinyur," "Aku ingin jadi ilmuwan," dan sebagainya

lalu, 4 tahun berikutnya kita berkata, "Hm, sepertinya dokter itu sudah banyak, jadi apa ya? Jalani masa SMA dulu deh,"

lalu, masuk SMA.
Di beberapa sekolah, tentu ada yang namanya pembangkit mimpi.
"Aku ingin jadi dokter lagi deh! Pasti bisa!"

lalu, ketika kelas 12,
"Waduh, ternyata yang mau masuk ke FK banyak banget. Kalah saingan nih ntar... Terus, aku mau jadi apa dong besok-besok?"
Galau lagi...

Baiklah. Jadi berdasarkan penelitian singkat penulis (opo ae iki), pergalauan itu terbentuk karena adanya perbedaan tanggung jawab. Mari kita buktikan. Ketika kecil, masih SD, tentu ada orang tua yang selalu siap sedia melayani permintaan kita (kok jadi pembantu sih, gak boleh).
#Ini menggunakan kondisi standar ya.

Begitu sudah beranjak SMP, tentu saja orang tua kita sedikit demi sedikit mewanti-wanti kita tiap kali ada kesempatan. Beliau pasti bilang, "Kamu kan sudah mulai besar. Coba belajar mandiri ya, Nak..."

Apalagi waktu masuk SMA, orang tua sudah berani bilang, "Kamu harus menjadi yang terbaik dan belajar bertanggung jawab pada dirimu sendiri!"

Orang tua itu, pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Itu adalah postulat (lupakan artinya) yang nggak bisa dibantah. Jadi ada dua probabilitas arti kalimat itu: ada orang tua yang memaksakan kehendak dan ada juga yang memberi kebebasan penuh, menerapkan sistem demokrasi dalam keluarganya. Tapi, inti pernyataan mereka adalah, menjadi yang terbaik untuk keluarga ini dan belajar bertanggung jawab pada diri sendiri.

Bertanggung jawab itu butuh nyali. Bermimpi juga butuh nyali. Nah, jika antara bertanggung jawab dan bermimpi itu diekuivalenkan, jadi ya, nyalinya menjadi dua kali (masih untung bukan kuadrat).

Itulah kenapa kadang-kadang orang dewasa terlalu penuh realitas. Mereka hanya enggan mengalikan nyali menjadi dua kali lipatnya.