RSS

My Great Family

Pagi-pagi di depan meja makan, Om ku yang baru datang dari Mojokerto, langsung bertanya, "Bagaimana keadaanmu, Sa?"

Aku diam saja. Tak langsung menjawab.

"Sakit, Om. Cuma yaah, kemarin baru aja berobat. Dipijetkan." kataku terbata. Dalam hati, aku mbatin, wah ini Om ku pasti tahu ada sesuatu yang nggak beres denganku. Tapi, aku tetap saja menyimpan rapat apa yang selama ini yang membuatku pusing.

Om ku memandangku lurus. "Om yakin, kamu belum bisa membuang masalahmu kan? Masalah seperti itu harus diceritakan supaya kamu tahu solusinya. Terus, kalo tanya, jangan sesama anak muda. Ntar gak ketemu, malah semakin parah. Ceritakan sama orang tua. Kan ada ayah dan mama, om-om dan tante-tantemu. Uti juga bisa. Semuanya, dimintai pendapat,"

Ya, dari sini aku tak henti mengucap syukur Alhamdulillah. Aku mempunyai keluarga besar yang begitu peduli dan tak bisa digantikan apapun. Keluarga yang menjaga sesama anggotanya. Inilah yang belum kumengerti sebelumnya, bahwa sejak zaman buyut-buyutku, beliau-beliau itu telah menanamkan pola pikir yang hebat kepada anak-anaknya: tentang a great family.

"Kalau kamu mau cerita, pasti kami semua akan membantu mencarikan solusi."

---

Beliau memang tak belajar ilmu psikologi, sosiologi, atau seminar-seminar parenting; tapi cukup dengan pengertian sederhana bahwa sesama aggota keluarga itu saling melindungi, saling menghargai, dan saling menyayangi.