RSS

Antara rumput, air, dan pancuran

"Mau kubantu?" katanya sembari mengambil busa yang biasanya kugunakan untuk mencuci. Rupanya ia datang sendirian, tak menggubris teman-temannya di ujung sana.
Aku meliriknya sekilas. Tetap menggosok piring dan gelas kotor bekas sarapan. Air dari pancuran mengalir di atas punggung kaki, menyela ke jemarinya. Menambah dingin suhu kaki yang telah dibungkus sayatan dingin tadi malam di bukit ini. Ingin sekali aku menahannya, tapi aku sangat tahu diri di sini.
"Taruh saja di situ," aku menunjuk tumpukan piring di sebelah kiri ember merah. Jelas aku tak ingin mengambil resiko apapun. Aku tahu, tugasnya masih sangat banyak. Tanpa banyak kata, ia pun meletakkan busa yang telah dibasahinya dengan air. Lantas, ia pergi. Menyisakan beribu tanya, sejuta cahaya, dan selentikan makna.

Entahlah, aku juga masih tak mengerti dengan dua patah kata darinya itu. Aku berbicara pada diriku sendiri, jadi itukah rasanya ketika seseorang yang tidak kau kenal tiba-tiba hadir dalam hidupmu dan menyapamu, walau sedetik.

Selayaknya rumput bukit itu yang baru berkenalan dan akrab dengan slang pancuran yang kubawa. Merasa asing, tapi... menyejukkan.