RSS

Pepi-chan

Pembaca, kenalkan! Dia adalah salah satu adik saya yang paling kecil. Namanya Pepi-chan. Dia baru saja ulang tahun. Bukan, itu nama panggilan saya kepadanya. Nama aslinya tak perlu lah, saya publish di sini :D

Nah, baiklah. Dia adalah prototype anak balita zaman sekarang yang masyaAllah... proses pendewasaannya cepat sekali. Mainannya saja dari kecil sudah HP, laptop, dan banyak disuguhi (paling tidak, mendengarkan) cerita-cerita sinetron yang hanya pantas ditonton orang dewasa.

Pepi-chan masih berumur 6 tahun saat ini. Di sini, saya tak akan membahas kelakuannya yang seperti setengah kelakuan orang dewasa di sekitarnya. Tapi, saya ingin mengungkapkan bahwa dialah yang selalu mengingatkan saya tentang keberanian, tekad yang kuat, dan ketulusan yang justru semakin langka saya dapatkan dalam Dunia Dewasa.

Pernah, suatu ketika saya takut dan nangis, dia nyeletuk "Mbak, aku di sini sama Mbak ya. Jangan nangis, Mbak..."

Pernah, saya berjanji padanya untuk hadir di acara sekolahnya di pantai. Padahal, waktu itu, saya sedang ada banyak agenda yang penting. Saya sempatkan datang, walau sebentar untuk memenuhi janji yang mungkin, sangat sepele. Tapi, begitu saya datang, Pepi-chan langsung senang sekali. Senyumnya tak henti-henti melihat saya datang. Kata Mama, sejak pagi dia cerewet bin merepotkan. Saya tahu, betapa besar arti janji kepada seorang anak kecil. Itulah, kenapa saya memaksakan diri datang sebentar.

Ya, Pepi-chan, semoga kau tahu, you're my best little sister.

Mencari Jati Diri

Bismillah.

Jadi ini temanya Flashback 2012. Kalo sekedar flashback tanpa resolusi yo percuma ae. Dan, tiba-tiba aku teringat kata sensei (guru). Beliau bilang gini, "Kalian itu harusnya sudah menemukan jati diri. Bukan pencari jati diri lagi. Udah mau kuliah gitu masih mencari-cari..."

Aku cuma garuk-garuk kepala.

Well, menginjak usia 18 tahun, tantangan dan antitesis itu banyak sekali. Dan aku harusnya membesarkan impian untuk bisa menghadapi itu semua. Ya, tahun 2013, impian dan usaha harus lebih besar dari suguhan hidup. Percaya kan, kalau kuasa Allah jauh lebih besar?

Pelangi ada setelah mendung dan hujan, kan?
Bantuan selalu menyertai kesulitan, itu pasti
Yakinkan diri, menatap masa depan!

Dream Flowers   Rainbow Wallpaper by farwen07
Add caption

Habibie & Ainun: Full of Love

Film yang... pol romantis, sarat hikmah, dan diwarnai kesetiaan.
Cinta Mereka Sejati


*bagi yang masih bujang, wajib menonton film ini; biar punya gambaran ketika berumah tangga
*bagi yang sudah berkeluarga, malah wajib nonton; biar gak gampang selingkuh
*bagi yang sudah janda/duda, wajib juga; biar inget kalo suami/istrinya menantinya di surga

Dengarkanlah...

Dengarkanlah dengan Hatimu

"Cobalah dengar orang lain, nanti pasti kamu akan belajar lebih banyak...."

Jujur saja, berorganisasi di masyarakat jauh lebih menantang dibanding di sekolah atau di suatu komunitas. Karena, tentu faktor 'keberagaman' (anggota yang totally heterogen) lah yang menjadi penyebabnya. Meskipun, pada intinya kita itu satu tujuan, tapi tetap saja masalah penyatuan persepsi, etos kerja, dan kemampuan berorganisasi nggak bisa sama. Karena ya itu tadi, ada perbedaan prinsip yang mendasar dan lebar di antara pribadi yang menghuninya.

Dan, well aku baru saja belajar dari seseorang yang super koleris (entah orang ini mengetahui kepribadiannya atau tidak), tentang cara mendengarkan orang lain. Beliau adalah salah satu Dewan Pembina di Remas (Remaja Masjid). Beliau SD memang nggak tamat, tapi kemauan untuk belajar dari lingkungan, alam, dan kekayaan dalam masyarakat plus ngaji, masyaAllah, itulah yang membuat sosok ini menjadi segelintir orang 'super' di kampungku yang... yah, bisa dikatakan masyarakatnya masih terlalu sederhana dalam berpikir.

Aku sendiri, mengenal organisasi dari sekolahku tercinta, Smala. Aku berkecimpung di beberapa organisasi. Tetapi, namanya juga masih remaja, kan? Pasti masih terbalut emosi yang meluap-luap dan susah dimengerti. Tahulah ya, remaja cewek. Baru seneng-senengnya. Alhamdulillah, positif. Kan yang penting nggak terjerumus di bidang negatif.

Karena 'merasa' sudah mendapatkan bekal yang cukup dari sekolah, aku pun ingin menjajal yang di rumah. Soalnya di rumah cuma ada Remas, lagi pula, di TPA tempat Remas bernaung, aku dulu sempat menjadi santrinya. Jadi, apa salahnya kalau aku mencoba mengabdi di sana. :)
Baiklah, aku pun mulai sotoy dan masih bingung menyesuaikan. Di sekolah dan di Remas, jauhnya seperti langit dan bumi.

Di sekolah, pantesan semua berjalan lancar. satu komunitas, satu latar belakang, satu prinsip, satu tujuan. Enak, udah sama semua. Tinggal meningkatkan etos kerja. Lah di Remas, beda prinsip, beda latar belakang, beda komunitas! Bagaimanakah menyatukan orang dengan sebegitu banyaknya perbedaan? Oh, jadi gini ya, susahnya kalo jadi Presiden, hehehe.
Mau ngambil keputusan gini, ntar yang sana masih nggak ngerti. Mau gitu, yang Dewan Pembina nolak. Mau pergi ke sana, beberapa komunitas gak setuju. Ya Allah, banyak tantangannya.

Katanya Uti (eyang putri) yang biasa kuajak curhat, simpel aja, "Yo, jenenge ae wong akeh (namanya saja orang banyak). Mau diapakan lagi? Kamu ndak bisa menyamakan, Ndhuk,"

Walopun aku gak jadi ketua, tapi biasanya aku menjadi inisiator. Soalnya, ketuanya sendiri nggak pernah punya pengalaman organisasi. Duh, kan? Ini tambah gimana gitu ya?? Muncullah perasaan superior, astaghfirullah. Aku tau, itu nggak boleh. Tapi ya mau gimana? Ketuanya jauh lebih plegmatis (lagi-lagi Ketuanya nggak tau kepribadiannya tipe apa) dariku :(

Dan, salah satu Dewan Pembina Remas yang kusebutkan di atas cuma ngomong simpel, "Kamu itu cuma perlu komunikasi, Nis. Kalo kamu pinter koordinasi, bisa komunikasi, apapun lancar. Coba dengarkan orang lain. Belajarlah dari sana," oke Pak.

Oke. Sekarang, kita fokus pada kegiatan mendengarkan. Jauh-jauh hari sebelum menulis post ini, aku sudah berkali-kali mendapatkan kalimat itu: DENGARKAN ORANG LAIN, MAKA MEREKA AKAN MENDENGARMU.

Ya, tapi mendengarkan yang seperti apa. Perasaan, selama ini aku sudah mendengarkan orang lain. Ng... aku juga sudah mencoba memahami orang lain. Tapi, kenapa aku masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya? Kenapa aku masih saja ketakutan berpijak di kaki sendiri?

Ternyata, malam ini, aku menemukan sebabnya:
- Cara mendengarkanku kurang benar. Aku menggunakan kata 'perasaan', yang masih berarti ada keraguan di dalamnya.
- Kurang mempertahankan prinsip. Prinsip apa? Prinsip yang sesuai dengan syariatNya dan qadarullah yang terjadi pada diri kita.

Hei, mendengarkan 'maksud' orang lain, beda dengan mendengarkan 'perkataan'nya. Maksud, seringkali terletak di dalam hati yang implisit. Dan hanya orang-orang yang peka-lah yang bisa mengerti maksud orang lain.

Maka, setiap kali orang-orang di sekitarmu bereaksi atas sesuatu, mengatakan sesuatu, pahami maksud mereka. Dengarlah perkataan mereka. Maka kau akan belajar sesuatu darinya.

3 Kunci Sukses

Baru dapet materi TFT dari Uswah Student Center. Kemarin, berasa gimanaa gitu. Meskipun belum jadi trainer, tapi well setidaknya aku bisa mencuri sedikit ilmu dari Kak Ilo @hermansusilo dan Kak Syam @tanyasyamsudin.

Berpikir Positif : as always, di mana-mana, berpikir positif itu adalah yang paling penting. Soalnya, Allah itu sesuai prasangka hambaNya. Jadi, ya berpikir positif sajalah :)
Toh, nggak ada ruginya. Justru dengan kita berpikir positif ini, akan menghambat proses penuaan dini.

Pro-Aktif : beda dengan re-aktif. Kalau reaktif itu hanya akan melakukan ketika mendapat permintaan. Tapi orang-orang proaktif sudah jelas orientasinya ke mana, apa saja dan apa yang harus dia lakukan. Lebih-lebih, orang proaktif memiliki motivasi yang besar untuk tetap stay closed dengan tujuannya melalui langkah-langkah efektifnya. Sifat proaktif, juga nggak asal merespon. Hanya merespon sesuatu yang perlu dan penting direspon

Terbuka : Mind-nya terbuka dan nggak terbelanggu dengan rantai gajah. Apa itu? Ketakutan yang nggak ada alasannya dan hanya dibuat-buat oleh pikiran kita sendiri. Rantai gajah itu, terbentuk melalui kebiasaan. Sehingga, muncullah semacam mind-blocked yang membuat kita enggan melakukan sesuatu yang baru. Caranya adalah: self-asking secara kontinyu sampai rasa takut itu hilang dengan sendirinya.

Key of Succes

Agak susah sih, kalo buat orang yang mendapatkan rantai gajah ini dari tradisi orang tua/saudara yang mendidiknya. Karena ya mau gimana lagi, masa kecil kan dihabiskan dengan mereka. Apalagi, golden periodic ada di masa-masa tersebut.

Triknya, sering-sering aja kumpul sama orang baik yang pemberani ato nonton film yang tokoh utamanya pemberani seperti 3 Idiots. Kalo punya temen pemberani, masak iya sih kita tetep memertahankan ketakutan kita. Lama-lama, insyaAllah kita juga akan ikut berani dengan cara yang benar. Kalo sering nonton film dengan tokoh utama yang pemberani, pola pikir kita sedikit demi sedikit akan ikut berubah kok. Berubah menjadi orang baik dan benar yang pemberani.

Keep learning!

Puzzle Pertama Kesederhanaan

Setelah mengalami berkali-kali remidi Fisika, sudah saatnya aku berpikir:

Aku mungkin bukan orang yang terlalu rumit memandang sesuatu. Dan aku memang tidak dilahirkan untuk menghadapi sesuatu yang rumit. Sekarang aku baru tahu, apa yang dimaksud Mama dengan 'cara hidup sederhana'.

Karena memang tidak semua orang ditakdirkan menghadapi masalah-masalah rumit dalam hidupnya. Dan tentu saja itu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Ya kan?

Simpulannya adalah, jalani saja hidup ini. Allah sudah emngatur semua skenario sejak kita belum ada. Sudah paten itu. Telah tertulis atas rezeki, jodoh, kehidupan, dan kematian. Ngapain pake ribet? Asal kita mau sedikit usaha. :)

Semangat dong !

When I'm Being "Galau"

Saat semuanya tak sesuai harapan...

 1. Makan cokelat banyak-banyak. Terbukti, cokelat bisa menurunkan rasa marah-marah dan jengkel. Sebaliknya, cokelat itu, bisa meningkatkan rasa gembira. Gak percaya? Dicoba deh. Ng... tapi, buat yang kelebihan BB (udah tau singkatannya kan), jangan kebanyakan yah makannya.

2. Bolak-balik halaman Qur'an. Cari ayat yang bisa menghibur hati. Menguatkan hati itu ternyata jauh lebih penting daripada menguatkan menguji kekuatan gigi dengan banyak-banyak makan cokelat :)
Wudhu, shalat, istighfar juga recommended banget bagi yang muslim. Intinya, berdoa. Memohon biar gak galau lagi.

3. Nulis. Apapun yang ada di kepala, kukeluarkan dalam paragraf-paragraf singkat di laptop. Kadang, laptop juga jadi sasaran amukanku dengan menggebrak-gebrak keyboardnya. Lalu kusesali karena habis itu ternyata laptopku heng. ^_^. Yah, kalo bukan nulis, lakukanlah hobimu. Sesukamu.

4. Curhat sama sohib-sohib seperjuangan (ceileh). Tapi asli, curhat sama mereka, serasa ada embun penyegar atau mata air yang menyegarkan di tengah gurun pasir galau. Great thanks to them. You all bring me back to His path, Ukhti... Jazakillah. Btw, apa itu sohib seperjuangan ya? Yaitu mereka-mereka yang bersamaku membentuk sebuah bangunan kokoh, di mana jika salah satu bangunan itu nggak terisi, maka ia akan runtuh seketika. #DakwahSekolah

5. Represhing singkat, naik motor terus keliling Surabaya. Ngabisin bensin, entahlah mau ke Kampung Ilmu Jalan Semarang, Togamas Pucang, Togamas Diponegoro, ato cuma mampir buat beli es krim di KFC Delta.

6. Nangis dan kemudian terTidur. Adalah cara terakhir dan teraman plus ternyaman. Beningkan dulu hati, baru dihadapi esok pagi. Kita perlu kepala jernih untuk berpikir ulang menghadapi masalah-masalah yang ada.

^_^

5 cm.


kita perlu...

~ tangan yang bekerja keras lebih dari biasanya
~ kaki yang melangkah lebih jauh dari biasanya
~ mata yang melihat lebih lama dari biasanya
~ leher yang selalu melihat jauh ke depan
~ tekad yang seribu kali lebih kuat
~ dan mulut yang akan terus berdoa

letakkan mimpi itu 5 cm di depan matamu
agar ia tak mudah hilang dari jangkauanmu

Add caption

Tentang Husnudzon

Kembalikan masalahmu pada Allah
Tidak.

Tidak ada yang perlu disikapi secara berlebihan dalam hidup ini.
Teoriku tentang hidup itu ya cuma ada tiga:

1. Segala kemungkinan hidup itu bisa saja terjadi; mau sejuta, sepuluh juta, bisa. Tapi, yang namanya pilihan itu tetep aja cuma dua. Tolong, ini jangan dibantah.

2. Untuk menghadapinya, dibutuhkan kesungguhan dan keikhlasan dalam melakukan persiapan. Dalam hal apa? Ya apa saja. Mulai dari kesiapan pribadi, mental, materi, apapun. Terutama, kesiapan rohani. Supaya kalo kemungkinan itu menyakitkan hati, kita masih punya stok rohani yang lapang dan pikiran jernih, seluas telaga. Dan itu adalah pemberian terindah dari Allah Yang Maha Bijaksana.

3. Tetaplah menjadi orang jujur yang kuat untuk terus berusaha, belajar, dan berdoa padaNya. Karena Allah mencintai kejujuran dan kekuatan hati yang berserah diri, setelah berusaha. Setelah itu, tawakkal saja. Tak ada yang perlu dirisaukan. Karena sekali lagi, apa yang terbaik menurut Allah, mungkin tidak menurut kita (Al-Baqarah:216).

Karena hidup itu adalah sebuah puzzle yang kita tak pernah tahu wujud lengkapnya seperti apa. Iya, kan? Biarlah Allah yang berkehendak. Toh, kita ini milikNya. Asal kita tetap berusaha fastabiqul khairat dan mencari ridhoNya dalam segala aktivitas kita. Asal di sisi kita ada Allah, maka apa yang harus kita takutkan?

How to Make the Best of Lectures at School

Reblogged from this


As Muslims, we must be proficient in whatever we do: be it our worship, our career, or our academic lives. The Muslims in the so-called ‘Dark Ages’ excelled not only in Islamic sciences, but advanced sciences of medicine, astronomy, and mathematics. The host of contributions in that golden age could not have been possible without their self-discipline in both their ‘Ibaadah(worship) and in their academic routines. Both in our quests for Islamic knowledge and that of the worldly sciences, we must make the most of the resources available to us.  The time spent during school lectures is the best time to glean and retain information – so how can we make the most of this time? Read on!
  • Pray First, pray sincerely to Allah to grant you knowledge. Here are two du’as that you can incorporate into your routine:
    • On waking up in the morning, read the following du’a: Allaahumma ‘innee ‘as’aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan tayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. O Allah, I ask You for knowledge that is of benefit, a good provision, and deeds that will be accepted . [i]
    • Read the following du’a from the Qu’ran (Surah Taha, verse 114): Rabbi Ziddni ‘Ilmaa. My Lord, increase me in knowledge.

  • Be Involved – During the lecture, try to be as actively involved as possible. Ask questions if you don’t understand something, or offer your opinion on any of the points mentioned. This will help you retain and understand material much better than if you just listen passively!

  • Focus – Don’t be afraid to sit in the front row – it helps you avoid distraction. Needless to say, your cellphone must also be safely tucked away so that you don’t get tempted to text someone (or to Google the lecture material)!

  • Plan and prepare – Go over notes from the last class before the next lecture. If you can arrive 10 minutes before your class begins, this is the best time to scan your previous notes. It is also good to get an idea of the lecture material ahead of the lecture by getting copies of the syllabus or course outline. If possible, get previous exam papers from the same lecturer so that you know which points to focus on during class.

  • Eat well – Have a healthy snack before the lecture. This is vital as numerous studies show the relationship between a good breakfasts and attention levels at school.

  • Make great notes – There are more than a few ways to make better notes; and your notes are the best aid to retaining information.
    • Make your notes colorful and interesting. Carry colored pens and highlighters with you so you can quickly emphasize the important points during the lecture. Use colored index tabs or sticky notes to neatly organize your notes.
    • Write clearly. Although this might seem unnecessary, I cannot emphasize the importance of this. There have been times when I have not understood formulae or concepts because my handwriting simply was not legible enough!
    • Try learning shorthand so that you can write quicker in class and spend more time listening. The most common methods of shorthand are Gregg’s, Pitman and Teeline. Learning shorthand will be worth your time and will be useful in any career you choose in the future.
    • I have recently discovered the Cornell method, which is a highly effective way to condense and organize your notes. This process was developed in the 50s by Walter Pauk of Cornell University, and it will help you enormously when it is time to study for your exams! See a sample of the Cornell method below:How to Make the Best of Lectures at School

Build My Future

Di saat mereka ketawa-ketiwi gembira,
mungkin belum saatnya.
Di saat mereka jalan-jalan ke sana-sini, nenteng ini itu,
sama; belum saatnya juga.
Di saat mereka cerita habis beli ini itu,
juga belum saatnya.

Hahaha.
Tak apa.
Belum saatnya bukan berarti tak bisa
Hanya saja menundanya untuk hal yang lebih penting

Dewasa dulu,
senang-senangnya nanti
pasti ada waktunya.

^_^