RSS

Trip to Samboja #1

Gelisah membuatku tak nyenyak tidur. Kenapa lagi kalau bukan gara-gara tanggal 18 kemarin aku bakalan trip ke Samboja, Kaltim. Walaupun aslinya memang mudik dan bersilaturahim ke saudara-saudara di sana.

Aku sudah packing sejak tanggal 15 dan searching di Google soal trip ke Samboja. Well, aku menemukan 2 tempat wisata: Bukit Bangkirai dan Pantai Tanah Merah (as known as: Tanjung). Lihat di sini.

Jam 6 lebih, 2 taksi sudah berhenti di depan rumah. Setelah cuap-cuap bentar dan minal aidzinan dulu sama keluarga besar plus tetangga kanan-kiri, meluncurlah aku berempat dengan adikku, Uti, dan Mbah Muk ke Juanda. Kenapa mesti 2 taksi? Karena kedua ortuku ikut. Mau nganter.
(Bayar taksi dari rumah: Rp 75.000, 00)

Di Juanda... hm, foto-foto dulu dong. Maklum, Mbah Muk belum pernah naik pesawat. Jadi gaya-gayaan dulu di bandara, menandakan kalau beliau ready to fly dan biar bisa ditunjukin sama teman-temannya. XD
Pukul 08.00, check in loket udah dibuka. Saatnya masuk.
(Btw, bayar peronnya Rp 40.000, 00 per orang. Naik 10 ribu rupiah seluruh Indonesia)

Setelah semua sudah beres, kami melenggang masuk ke waiting room. Untung pesawatnya ndak terlambat. Sementara itu, Pakde mengabarkan bahwa Kalimantan hujan deras. Rrrr.... berdoa semoga nggak terjadi apa-apa di pesawat.
(Bayar pesawat Rp 356.000, 00 - pake Batavia Air)

Samboja: warna hijau

Time to take off. Bismillah. Ya Allah selamatkan kami.
15 menit kemudian, Laut Jawa terhampar di bawahku. Indah sekali. Lautnya biru terkena pantulan langit.

Hm... karena aku duduk di sebelah jendela dan bisa melihat awan-awan indah (tapi aku belum bisa mengidentifikasinya), pas pesawat terbang di Kalimantan, rada ngeri. Awannya.... Awannya.... mengganggu pendaratan pesawat. Jadi, pesawatnya muter-muter dulu di atas Balikpapan. Tapi beberapa menit kemudian pukul 11.20 WITA, kami berhasil mendarat dengan mulus di bandara Sepinggan, Balikpapan.


Welcome to East Borneo!




Ternyata, Pakde sudah menjemput dengan mobil sewaan karena jam segitu udah gak ada taksi (jangan bayangkan taksi di Balikpapan sama dengan taksi Surabaya/Jakarta). Harga sewanya sekitar Rp 300.000 sekali jalan. Kalo naik taksi cuma Rp 150.000 aja berlima. Murah kan? Padahal jaraknya 60 km.

Jadi, taksi Balikpapan itu adalah sebuah mobil putih semacam colt L300 yang yah... sedikit tua. Dan hanya ada 5 taksi jurusan Balikpapan-Samboja. Jamnya juga tertentu. Ada yang jam 5, jam 8, jam 11, jam 14, dan jam 16. Karena aku tiba di sana sudah jam 11.40, maka naik mobil sewaan sajalah (Iya, gak ada taksi...). Sekalian bersantai, menikmati panorama Balikpapan-Samboja.

Ah, tiba-tiba aku melihat pemandangan yang... full of coconut tree. Samboja itu daerah pantai mamen. Iih... seneng banget begitu tahu kalo rumahnya Pakde daerah pantai. Alias, bisa main pasir seharian. Pasirnya model-model pasir yang di Bali. Bersih, halus, dan gampangnya, bayangkan aja kalo lagi ada di pesisir pantai Sanur. :)
Kebayang indahnya kaaan?

TRAPPED!

Trapped
Tiba-tiba mbaca sesuatu yang gak ngenaki itu asline yo nggarai BM. Kaya nelan obat yang puahit banget, tapi manjur.

Well, paling nggak aku sadar kalo sudah terperangkap di sini selama dua tahun dan memang banyak yang terjadi. Larikah aku dari kenyataan? Kok kesannya nggak strong-girlie banget ya?
Mungkin, karena mindsetku seperti ini, jadinya tindakanku juga terkesan "lupa kalo aku ada dalam perangkap".

Ha, sisi positifnya adalah aku berhasil membawa mimpiku (di mana dunia-sekolahku) nggak ada "perangkapnya" dengan caraku sendiri: menulis. Yap, menulis fiksi dan fakta, kadang-kadang mencampuradukkan keduanya. Itulah kenapa aku berhasil menjadikan setahun kemarin a year of a dream. Walaupun efek perangkapnya masih sedikit terasa menjerat langkah.

Jadi, sepertinya caraku itu tak akan berhasil di tahun ketiga ini. Karena sekali lagi aku disadarkan obat itu, jalan keluarku cuma satu. Jadi, daripada aku mimpi terus-terusan, inilah waktuku untuk bangun. Inget kata-katanya Mario Teguh;

Seorang pemenang tidak akan mengeluh terus-terusan, tapi ia akan melakukan apapun yang dia bisa untuk mencapai tujuannya.
Bisa dikatakan aku memang tidak minat, tapi takdirNya adalah minat nggak minat, aku harus MAU. Ya, aku MAU dan aku melakukannya. Bangun! Bangunlah dari mimpi indah! Ada kehidupan yang lebih indah di sini. Aku pantas memperolehnya dan aku harus mendapatkannya: EXIT DOOR!

Allah akan mengubah nasib seseorang ketika ia benar-benar bisa mengkombinasikan antara niat+doa+usaha. Bukankah itu harusnya sesuatu yang mudah? Ayolah, ada dua sosok yang pantas untuk dijadikan alasan+semangat! 

Walk to Exit Door-Walk to Exit Door-Walk to Exit Door

Dead Poets Society

1989. Breakable film!

Carpe Diem...

Dead Poets Society

Aneh aja begitu tahu dapet tugas menganalisis film ini dari guru Bahasa Indonesia-ku. Kenapa harus film barat dan bukan film Indonesia? Kayaknya pernah denger dan setelah browsing sana-sini, film ini adalah salah satu film lawas yang dibuat pada tahun 1989.

Awalnya sempet mengira ini film standar anak sekolahan yang cuma cerita soal percintaan ala Hollywood. Mana pembukaannya upacara penyambutan murid baru di sebuah sekolah unggulan; terus lighting filmnya juga belum sebagus sekarang. Duh, pasti ngantuk ya.

Weits, saya salah besar! Robin Williams sukses berat meranin captain John Keating yang dengan berani-beraninya melawan empat pilar (jadi teringat sesuatu mengenai pilar-pilar, lupakan) yang menjadi prinsip turun temurun sekolah itu. Tau nggak pilarnya apa?

TRADITION-HONOR-DISCIPLINE-EXCELLENCE

Nah, tugasnya Pak Keating adalah menjadi guru Bahasa Inggris pengganti seorang guru yang pensiun. Sama kayak saya, pertama masuk kelas murid-muridnya juga bete abis karena ternyata beliau nyuruh baca "definisi puisi secara komprehensif" dari profesor siapa gitu. Setelah selesai, Pak Keating malah nyuruh, "RIP THE BOOK, we don't need any trash like that."
Ngapain itu? Disuruh nyobek-nyobek bukunya. Heh? Sumpah, bener. Pak Keating bersikap begitu karena bagi beliau, puisi adalah manifestasi (ciyeh) dari perasaan seorang manusia.

Pandang dengan cara berbeda!
Menurut Pak Keating, manusia menulis puisi karena ia "berperan aktif" dalam kehidupan. Kan muncul masalah-masalah tuh, jadi ada beberapa manusia yang mengungkapkan curhatannya melalui puisi. Jadi, pengertian puisi yang sebegitu ruwet dan kompleksnya memang benar, itu kalo mahami pake akal. But, ketika kita memahami puisi dari perasaan dan benar-benar menggunakan hati, makna puisi itu sebenernya simpel banget. 

Perbedaan mengajar yang out of the box ini tak berhenti di situ saja. Ia bahkan menerapkan mantranya kepada seluruh muridnya. CARPE DIEM. SEIZE the DAY. BUATLAH HARI-HARIMU BERBEDA. Beliau pingin banget murid-muridnya sukses dengan cara yang nggak biasa. Dengan cara yang spektakuler dan sekaligus menunjukkan jati dirinya masing-masing. Seperti semboyannya, "Lihatlah segala sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda."

Kata Pak Keating soal puisi

Cara itulah yang sukses membuat Pak Keating disenangi dan disegani oleh para muridnya; terutama oleh Neil dan keenam sohibnya. Hingga ketujuh cowok keren itu menemukan skandal Dead Poets Society, sebuah perkumpulan pecinta puisi rahasia di sekolah itu. Yep, Pak Keating menjadi anggotanya, dan artinya dulu Pak Keating juga pernah menjadi murid sekolah itu.

Dipelopori oleh Neil, mereka bertujuh sering banget mengadakan pertemuan di dalam gua malem-malem. Dengan tema Dead Poets Society 2. Walopun awalnya mereka cuma bahas soal puisi, tapi akhirnya malah saling bertukar ide buat protes ke sekolah khusus yang peraturannya sangat ketat itu. Bahkan di sinilah setiap cowok itu mulai berani meraih mimpi-mimpi mereka. Pak Keating tentu saja senang dengan keberanian itu.

Dead Poets Society jilid 2

Well, masalah muncul pas mendadak ayah Neil dateng ke kamarnya dan memintanya buat berhenti terobsesi jadi aktor. Padahal Neil dapet peran utama dalam drama yang dibintanginya. Selain itu, Charlie juga berani mengedarkan artikel "harusnya cewek diterima di sekolah itu" di koran sekolah. Mereka berdua pun dimarahi habis-habisan; Neil oleh ayahnya, Charlie oleh Pak Kepsek.
Pak Keating pun mengatakan, "Be wise, not stupid" dan tetap menyemangati mereka.

Pak Keating dan 7 Muridnya


Malang bagi Neil, dia harus pulang dan memilih jalan yang sesat-sesesat sesatnya. Sementara, dari insiden itu, akhirnya Dead Poets Society ketahuan juga. Di sini, Pak Keating merasa bersalah dan sangat menyesal atas Neil. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana nasib Pak Keating?

Ending

Penasaran kan? Yuk, tonton aja filmnya. Dijamin nggak bikin kecewa!
(jangan lupa sediain tisu yah)

Pre-Time

Kok dipikir-pikir, tulisanku itu bau-bau fakta semua sih?
Esai, catatan perjalanan, berita, artikel, tips, resensi. Yang gitu-gitu itu modelnya.

Kalopun cerpen, seringkali "belum ngena". 
Apanya yang belum ngena? Tema-nya lah, konfliknya lah, karakternya lah, alurnya-lah. Aku heran, kenapa nggak belum bisa ngimajinasi dengan benar? Apa yang salah dengan otak kananku?
Apa kurang latihan dan mengasah otak kali ya? Apa terlalu banyak bermain sama yang namanya science-based-minded yang digrojok abis-abisan di sekolah?
Haduh, wes gak usah menyalahkan hal-hal yang memang sudah terjadi. 
Cintai saja semua pekerjaanmu dan semuanya akan beres
Biar ampuh, sugesti aja tiap bangun dan mau tidur: 

I Love My Life. And I will do the best for that, today. 

Ah, well sekarang aku tahu! Eureka!
Aku masih belum bisa melihat sisi lain dari sebuah peristiwa dan kejadian. Dan mungkin aku belum terlalu mahir pula merangkaikan momen-momen yang tepat untuk diramu dalam cerpen. Teoriku sih, ini pasti gara-gara aku sering banget out of time. Nggak enak sih rasanya, tapi. Ah, gak pake tapi-tapian! 

KUDU DIUBAH!

Out of time itu harus diubah menjadi Pre-time
Eh, sedekah dan shalat juga wajib ditingkatkan ding. Semoga saja, apa yang kujalani tersebut bisa memacu produktivitas yang lebih. Hehe, semangat 1 juta per bulan! Selama itu positif, kenapa nggak? 

Bismillah... Biidznillah...

Love it! Get it!