RSS

Fisika Setahun

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru hari ini merasa,
"Oh, ternyata jadi orang yang gak mampu ini begini ya,"
Rasanya sakit banget. Terbersit rasa diinjak-injak sih. Walaupun ini sama sekali tidak menyangkut soal finansial. Bukan. Tapi, soal lain yang berhubungan erat dengan profesiku sebagai PELAJAR.

Well, Allah pasti mentakdirkanku mengalami hal ini pasti ada sebabnya dan Dia hanya ingin yang terbaik untukku. Hm, disyukuri sajalah ya. Apapun keadaannya, baik atau buruk, itu merupakan keputusan Allah yang terbaik untukku. Alhamdulillahirabbil'alamiin.

Tadi, guru Fisika-ku memanggilku bersama ketiga anak lain di depan teman-teman sekelas.
Pertanyaanku adalah, mengapa harus di depan anak-anak sekelas ketika proses pemanggilannya?
By the way, justru ada satu hal menarik. Yakni mengenai pemanggilan seseorang gara-gara ketidaksiapan atau kesalahan yang dilakukannya.

Beberapa minggu yang lalu, aku ditugasi menjaga adik-adik SMP yang mengikuti kegiatan try out. Kegiatan ini diprakarsai oleh Teens Club yang pesertanya mencapai 800 siswa. Waktu itu, aku teringat Omku yang berkata bahwa dengan menjadi pengawas, maka kita akan tahu mana anak yang pintar, pintar tapi lupa, kurang bisa, bahkan anak yang mengerjakan dengan pikiran kosong sama sekali. Kupandangi satu persatu wajah-wajah generasi penerus bangsaku itu.

Upps, sayang, ada beberapa dari mereka yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan kepastian jawaban yang benar. Kupandangi terus saja mereka. Sesekali pula kuingatkan. Lantas, tibalah saat pengumpulan jawaban. Ketika ini, kuingat kata murabbi-ku, jangan pernah membeberkan kesalahan seseorang di depan orang lain. Karena hal itu pasti sangat menyinggung dan menyakiti mereka.

Jadi, solusinya adalah tentu saja mereka kubilangi secara personal. Bukan dengan dipanggil satu-satu. Karena, apalagi statement yang bisa menjelaskan adanya pemanggilan tersebut kalau bukan hal yang menyatakan bahwa, "Ih, anak itu pasti melakukan suatu kesalahan."

Dan tadi siang, aku merasa tindakan guruku itu, benar-benar membuatku malu. Untuk efek jera kali yah, biar belajar Fisika-nya lebih rajin. Hehehe. Tapi, tetep aja... Malu tak tertanggungkan.

Yah, hingga akhirnya konklusiku hari ini, TANTANGAN 17-ku selanjutnya adalah

GAK REMIDI FISIKA pas UAS nanti dan SELANJUTNYA sampai UNAS!

Ah, tadi entah kenapa guruku menyinggung-nyinggung soal "demi almamater" lagi. Setelah kemarin waktu debat aku juga diingatkan perkara "jangan mengecewakan almamatermu". Hingga aku akhirnya punya alasan besar nan kuat mengapa aku harus melakukan suatu pekerjaan tertentu (epek I'm a phlegmatic girl).
Oooo berarti, ketika kamu tak lagi punya semangat, pikirkan sesuatu yang besar yang pasti akan kau kecewakan jika kau tak mau berjuang keras melakukan yang terbaik.

Jadi inget statusnya Sir Rizal, maka pada akhirnya ini adalah urusan antara kau dan Tuhanmu. Biarkanlah Ia yang menentukan yang terbaik untukmu.

Rrr.. tentu saja, ini adalah tantangan yang tingkatannya lebih sulit daripada pas debat. You know, debat hanya berlangsung selama 2 minggu. Ini? SETAHUN! Duh, Allah... berikanlah hambaMu ini kekuatan... Bismillah, bisa!

Dilema The Struggle Way


Entahlah, selama ini aku belum pernah mendengar orang tua sebagai kunci pertama untuk penunjang kesuksesan. Taat pada Allah? Tentu modal utama. Tetapi apakah kita bisa disebut taat pada Allah jika kepada orang tua saja kita masih berkata “Ah”; “Males, Ma”; “Ntar aja”; “Jangan ganggu aku dulu. Aku sibuk.”; dan beribu bentuk ucapan lain bernada sama yang sudah pasti tertuju kepada orang tua kita di kala kita sudah penuh dengan amanah.

Kita menganggap bahwa amanah adalah sesuatu yang sangat wajib dipertanggungjawabkan kelak. Tapi… dibalik itu, tentu saja, tetaplah amanah utama kita adalah menjadi seorang anak yang shalih/shalihah dan berbakti kepada kedua orang tua kita. Bukankah ini juga termasuk menaati perintah Allah?

Aku jadi bertanya-tanya, apakah kita yang selama ini selalu disibukkan dengan bejibun aktivitas, jadi melupakan kewajiban paling utama tersebut? Apakah kita yang selama ini digaung-gaungkan menjadi aktivis, jadi melupakan kewajiban untuk membantu pekerjaan rumah tangga yang tengah dilakukan Ibu kita? Apakah kita yang selama ini getol mencatat skala prioritas, sama sekali tak mencantumkan daftar "Kapan menggantikan tugas Ibu"?

Mungkin, banyak yang bilang "Di rumah adalah zona nyaman. Dan zona nyaman sangat tidak baik bagi tumbuh kembang kita. Bagi luasnya pergaulan kita dalam arti yang positif. 
Namun, lihatlah faktanya...

Saat kita terseok-seok berjalan di "The Struggle Way", siapakah yang menolong kita pertama kali dan bahkan sering mencemaskan kita?
Keluarga -- orang-orang di rumah.

Saat kita menangis di kamar, mengadukan perbuatan rekan kita yang sangat tidak berkenan, siapakah yang pertama kali tahu dan terus-menerus menasehati agar kita menguatkan diri?
Ibu -- keluarga -- orang-orang di rumah.

Saat kita kelelahan dan pulang malam karena banyaknya aktivitas hari ini, siapakah yang membuatkan kita segelas coklat panas dan roti?
Ibu -- keluarga -- orang-orang di rumah.

Tapi, begitu Ibu, atau siapapun orang-orang di rumah meminta bantuan kita, bahkan untuk sekedar datang ke acara keluarga pun, seringkali kita acuh. 
Sadarkah, lama-kelamaan kita telah terlalu banyak melontarkan kata maaf yang tak beralasan.
Bahwa selama ini kita terkesan menyisihkan mereka dari sisi bahagia kehidupan kita.
Justru, terasa semakin egois.
Dan menganggap mereka -- orang-orang di rumah itu -- sebagai penganggu.

Memang, kita memerlukan The Struggle Way,
justru, fungsinya adalah untuk menyiapkan kita menjadi pribadi yang peduli dengan lingkungan terdekat
justru, fungsinya adalah bagaimana cara kita menghargai senyum ketulusan yang selalu mereka tampakkan
dan yang lebih penting lagi adalah, ia berfungsi untuk menjadi sarana pelatihan mental kita menghadapi kehidupan tanpa melalaikan orang-orang tercinta di rumah.

Itulah fungsi The Struggle Way sebenarnya.

Ketika The Struggle Way mengikis niat-niat kita dengan kejam,
Datanglah sebuah kelembutan tanpa embel-embel imbalan yang dipancarkan dari Ibunda, Ayahanda, bahkan dari Adik dan Kakak kita
Dari mereka yang mungkin belum pernah merasakan ganasnya gelombang The Struggle Way, 
Namun selalu menyiapkan gelombang cinta yang dahsyat untuk membuat kita bertahan

Akankah kita terus mengacuhkan mereka?

遥か

Mado kara nagareru keshiki kawaranai kono machi tabidatsu
まどから ながれる けしきかわらない このまちたびだつ
Harukaze maichiru sakura akogare bakari tsuyoku natteku
 はるかぜ まいちる さくら あこがればかりつよく なってく

“Dore dake sabishikutemo jibun de kimeta michi shinjite…”
どれだけ さびしくても じぶんで きめた みち しんじて
Tegami no saigo no gyou ga aitsu rashikute waraeru
てがみのさいごの ぎょうが あいつ らしくて わらえる

“Dareka ni uso wo tsuku youna hito ni natte kureru na” chichi no negai to
だれかにうそを つく ようなひとに なってくれるな ちちのねがいと
“Kizu tsuitatte warai tobashite kizu tsukeru yori zenzen ii ne” haha no ai
きず ついたって わらい とばして、きずつけるより ぜんぜん いいね (母の愛)

Ano sora nagareru kumo omoidasu ano koro no boku wa
あのそら ながれるくも おもいだす あのころ ぼくは
Hito no itami ni kizukazu nasakenai yowasa wo kakushiteita
ひとのいたみにきずかず なさけない よわさを かくしていた

Kizukeba itsumo dareka ni sasaerare koko made aruita
きずkべ いつも だれかに させられ ここ まで あるいた
Dakara kondo wa jibun ga dareka wo sasaerareru you ni
だから こんどは じぶんが だれかを ささえられる ように

“Massugu ni yare yosomi wa suruna hetakuso de ii” chichi no egao to
まっすぐにやれ よそみは するな へたくそ で いい ちちの えがおと
“Shinjiru koto wa kantan na koto utagau yori mo kimochi ga ii ne” haha no namida
しんじつことは かんたんな こと うたがう よりも きもちが いいね (母の涙)

Sayounara mata aeru hi made
さようなら また あえるひまで
Fuan to kitai wo seou tte
ふあんと きたいをせおうって
Kanarazu yume wo kanaete egao de kaeru tame ni
かならず ゆめを かなえて えがおで かえるために

Hontou no tsuyosa Hontou no jiyuu
ほんとうのつよさ ほんとうのじゆう
Hontou no ai to Hountou no yasashisa
ほんとうのあいと 本当のやさしさ
Wakaranai mama susumenai kara
わからないまま すすめないから
“Jibun sagasu” to kokoro ni kimeta
じぶんさがすと こころに きめた

Harukaze omoi todokete namida wo sagashiku tsutsunde
はるかぜ おもい とどけて なみだを さがしく つつんで
Kanarazu yume wo kanaete egao de kaeru tame ni
かならず ゆめを かなえて えがおで かえる ために


Sayounara Shikarareru koto mo sukunaku natte yuku keredo
さようなら、しかれる ことも すくなく なってゆくけれど
Itsu demo soba ni iru kara egao de kaeru kara
いつでも そばに いるから えがおで かえるから
Dore dake sabishikute mo bokura wa aruki tsuzukeru
どれだけ さびしくても ぼくらは あるき つずける
Kanarazu kaeru kara omoi ga kaze ni mau
かならず かえるから おもいが かぜ にまう
Anata no hokori ni naru
あなとの ほこりに なる
Iza ikou
いざ いこう。。。

Well, now it's the English...

The scenery goes by outside the window
I’m leaving this unchanging town
The cherry blossoms scatter in the spring breeze
And my longing grows stronger and stronger

“No matter how lonely it gets, believe in the road you chose...”
The last part of her letter is so like her that it makes me laugh

“Don’t become the kind of person who lies” Dad’s wish, and
“If you get hurt, laugh it off, it’s much better than hurting someone else” (Mum’s love)

The clouds drifting along in that sky remind me of how I was then
I hid my pathetic weakness without even noticing other people’s pain
I’ve realised that the reason I’ve come this far
Is because I always had someone supporting me
So this time I pray that I can support somebody

“Be straightforward, don’t get distracted, it’s OK if you’re bad at it” Dad’s smile, and
“It’s easy to trust, it feels much better than doubting” (Mum’s tears)

Goodbye, I’ll carry this apprehension and anticipation
Until the day we meet again
I’ll make my dreams come true no matter what
So I can come home smiling

True strength, true freedom
True love, true kindness
I can’t move on without knowing what they are
So I made up my mind to find myself

Spring breeze, deliver my feelings
And gently cover my tears
I’ll make my dreams come true no matter what
So I can come home smiling

Goodbye, I’ll be scolded less too now
But I’ll always be by your side, I’ll come home smiling
No matter how lonely it gets, we’ll keep going

I’ll be back no matter what
My feelings will blow in the wind and become your pride

I’ll go now

That song's from Greeeen.
I like this J-pop band so much.
After saw Rookies and realized "Hey! A nice song."
If you want more spirit, hear this song @mp3take.com.
Type Greeeen and find the Haruka.

Seribu Bangau Kertas



Seribu bangau kertas untuk sang kekasih tercinta. Di dalamnya berisikan seribu alasan yang ditulis oleh seorang cowok (sebut saja X) untuk ceweknya --berjilbab-- (sebut saja Y); nama bunga dan joko tidak berlaku. Kronologinya, Y datang ke sebuah restoran dengan X. Tiba-tiba, mengalunlah lagu favoritnya Y. Lantas seorang pelayan memberinya sebuah bangau kertas. Y membacanya hingga tersipu malu. Sorot keduanya bertatapan mesra, Y mengaku perasaannya terbang tinggi ke angkasa.

Sembari didampingi X, Y membuka bangau-bangau kertas yang ada di depannya. Hingga tibalah pada satu meja. Di sini, ratusan bangau-bangau kertas menunggu untuk dibuka. X dan Y tak pernah berhenti tersenyum satu sama lain. Oh, ternyata lebih dari itu. X menghadirkan lukisan mereka berdua yang diedit sedemikian rupa dengan warna-warni yang mencolok. "Karena kita sudah menjalani hari-hari yang berwarna. Ini juga karena ada kamu." kata X kepada Y.

Menurut pengakuan X, dia sempat diopname sehari sebelum seribu bangau kertas itu komplit dan bahkan dia berusaha menguatkan diri demi sang kekasih yang telah membuatnya bahagia tersebut. Dan di hari itu, X dan Y akhirnya bisa duduk berduaan di sebuah jembatan mungil nan cantik di tengah danau buatan yang ada di restoran itu.

Ternyata, mereka baru saja menjalani hubungannya selama 1 tahun 4 bulan!

Kisah ini memenangkan event kado paling romantis yang diadakan oleh salah satu media massa besar di Indonesia.

Oh well, mari kita telisik lebih jauh. Di sini, bukannya aku ingin mengkritisi ya. Hanya saja, aku gak ngeh dengan fakta kecil yang (barangkali) sweet ini.

Pertama, tentang lamanya hubungan. Masih setahun empat bulan. Hmmm... Itu mah, masih sebentar. Kalo diibaratkan motor, masih 1400 km. Padahal, ganti oli-nya haruslah 2000 km. Apa, ya... menurutku hubungan yang belum pasti (instead of illegal relationship), setahun empat bulan aja udah dianggap lama itu terlalu berlebihan. Toh, yang dijalani juga begitu-begitu aja kan? Kalo gak dinner, hang out, ya semacamnya lah.

Kedua, faktor yang paling bikin gak ngeh adalah, ceweknya berjilbab. Ya... maaf kalo agak anarkis gini. Tapi, apa ya. Muslimah yang berjilbab itu harusnya tahu batas. Terus, apa dong fungsi jilbabnya? Oke, aku sangat menghargai usaha si Y mengenakan jilbab. Ya, yang penting berjilbab fisik dulu. Jilbab hati menyusul.

Kuakui, menjilbabi hati memang berat banget tantangannya.
Weits... tapi, bukankah Allah telah berjanji bahwa Allah akan memberikan balasan yang sangat-lebih baik daripada di dunia. Dan, tentu saja balasan itu tidak datang dengan kita berleha-leha tanpa berusaha lebih keras dong? Iya nggak. Please deh, hidayah datang kalau kita mencari. Bukan menunggu.
Kuakui, menjilbabi hati memang tak semudah membalikkan telapak tangan.
Tapi, bukankah Allah telah berjanji akan menunjukkan orang-orang yang benar-benar berserah diri padaNya? Dan, tahukah bahwa janji Allah merupakan sesuatu yang menjadi kemutlakan? Bukankah Ia sendiri yang menjamin orang-orang yang taat padaNya dan rasulNya dengan surgaNya?

Mungkin kalian (selainku) pasti berargumen, "Lhah kan susah untuk meninggalkan seseorang yang sudah begitu lama perhatian pada kita? Apalagi dia sudah melakukan hal-hal yang romantis untuk kita?"
Percayalah, berada di zona nyaman sama dengan mengerdilkan diri sendiri dan membunuh kesempatanmu untuk berkembang! Hubungannya adalah kalau kita mempertahankan hubungan yang sudah jelas-jelas nggak halal, itu sama saja kita sudah berenang di zona nyaman yang terlalu memanjakan kita dengan bayang-bayang semu. Pikir deh, itu cowok bakal jadi jodoh kita nggak?

Wong, kita aja nggak tahu apa yang terjadi pada kita sejam yang akan datang. Apalagi sok-sok'an nentuin di jodoh kita atau nggak. Atau, mungkin komentar kalian akan seperti ini, "Aku pingin tahu dia lebih jauh sebelum aku benar-benar menjadi pasangan legalnya."

Untuk menjawabnya, aku ingin menyatakan suatu analogi. Kita ingin beli pedang yang bagus, tajam, mengilat, dan blablabla. Pilihannya adalah kita beli di toko pedang atau ke tukang besi yang buat pedang supaya sesuai dengan keinginan kita? Hayo pilih yang mana? Pasti kita bakalan milih ke tukang besi dan memesan pedang seperti apa yang kita inginkan, bukan?
Sama juga kaya cari pasangan. Kalau dunia ini diibaratkan toko pedang (orang-orang yang kemungkinan menjadi pasangan kita), maka Allah-lah sang pembuat pedang tersebut (jodoh kita). So, ya mestinya kita minta ke Allah dong. Pesen deh, sesuka kita. Kriteria cowok kaya apa yang kita pingin.

Nah, kemudian masalah harga pedang. Tentu saja harga pedang sesuai pesanan jauh lebih mahal daripada pedang instan di toko. Begitu juga ketika kita minta sama Allah tentang kriteria pasangan. Harganya tentu lebih mahal. Tapi mahalnya pasti bisa kita penuhi kalo kita memang bener-bener pingin cowok itu hadir menemani kita. Kita harus jadi sosok muslimah yang kuat, terjaga, taat pada Allah dan Rasulullah dan hanif. Karena kualitas pasangan kita adalah setara dengan kualitas kita. Allah berkata, laki-laki yang baik hanya untuk wanita-wanita yang baik. Harganya sebanding, kan? Sepakat?
Ketiga. Masalah burung bangau. Walaupun aku ngefans banget sama negeri sakura ini, tapi aku tetep lebih percaya sama ketentuan Allah daripada mitos bangau itu. Well, burung bangau yang dijadiin origami emang bagus. Tapi fungsinya kan buat pajangan doang.
Dan lagi, Allah kan selalu mendengarkan kita sekaligus Maha Pendengar, jadi kenapa nggak langsung disampaikan aja ke Allah? Iya nggak? Allah juga melihat kita. Kenapa nggak menengadah ke langit atau menunduk dalam-dalam sembari mengucapkan doa-doa tulus nan jujur dari hati kita. Oh, ayolah.... selalu ada cara lebih simple dan halal yang disediakan Allah buat hambaNya yang mau berpikir. Mending, uang buat beli kertas itu, disumbangkan aja ke panti asuhan. Lebih bermanfaat kan?

#Epek geregetan

Pemimpin?




Berawal dari baca tag headline di salah satu TV swasta Indonesia. Teks berjalan itu bunyinya “Partai Demokrat akan mencalonkan Ani Yudhoyono menjadi Capres”.
Jadi pingin cerita sesuatu dan silakan dinikmati. :)

=========================================================================

Ketika itu, barisan topi abu-abu dan seragam putih abu-abu lengkap dengan atribut menyambut saya sebagai murid baru. Belum apa-apa, bahkan masih di pintu gerbang pun, saya terpaku menatap spanduk yang terletak tepat di depan saya. Inilah bunyinya: SELAMAT DATANG CALON PEMIMPIN PERADABAN.
Tentunya saya nggak tahu kenapa pakai dipasang spanduk begituan. Pikir saya waktu itu, ah ini paling penyambutan biasa. Kaya MOS yang di sekolah-sekolah lain, yang basisnya perpeloncoan dan pencarian kesalahan. Tapi etapi, pernyataan saya tersebut salah besar TERNYATA. Semakin saya mendekati barisan topi abu-abu itu, nyatalah di sana berjajar orang-orang yang tengah menyiapkan dirinya beserta seluruh komponen almamaternya untuk menjadi pemimpin peradaban!

Beginilah sambutan awal yang saya dapatkan dari Mbak-Mas saya di sekolah saya ini.

Ketika saya menelisik lebih jauh, justru tinggal tiga kata yang paling membekas di benak saya; “CALON PEMIMPIN PERADABAN”. Yah, kalau golongan teroris menyebutnya brainwashing, maka saya pun melakukan hal serupa. Tapi brainwashing ini murni saya lakukan sendiri dan dengan penuh kesadaran. Karena saya tahu pasti, di sekolah saya yang diajarkan hanyalah hal-hal yang baik. Mengapa? Jelas jawabannya, untuk menghasilkan CALON PEMIMPIN PERADABAN yang baik dan bertanggungjawab.
Dengan perasaan yang campuraduk antara senang, susah, bangga, marah, gatal, dan sebagainya saya diberi sebuah lagu yang berjudul KAMI PEMIMPIN BANGSA. Liriknya seperti ini:

Kami pemimpin bangsa tak kenal kata menyerah
Walaupun lelah, letih melanda
Badan ditegakkan lihat lurus ke depan
Dengan semangat baja
Jangan hiraukan tipu daya kemalasan
Pikiran jernih, hatipun suci
Dengan petunjuk Tuhan Yang Maha Pengasih
Meraih terus, Prestasi! Prestasi!

Oh, jadi inilah pribadi-pribadi yang saya hadapi di depan saya saat itu. Akhirnya, konklusi saya, seorang pemimpin bangsa itu haruslah tidak malas dan tak kenal menyerah, bekerja dengan hati yang suci. Sehingga pikiran juga jernih. Dan tentunya ini tidak lepas dari Yang Maha Kuasa, bukan? Terbukti, beberapa bulan setelahnya saya benar-benar membuktikannya. Dan setahun kemudian saya membuktikannya sendiri, via diri saya.

Baiklah, kembali lagi ke cerita awal. Begitulah hari-hari saya ketika MOS. Kami selalu diberi situasi dan kondisi di mana kami memang harus bersikap layaknya pemimpin. Saya masih ingat, ketika face to face dengan salah satu Mbak, saya ditanya. Apa bedanya pimpinan dengan pemimpin?

Saya jawab tidak ada bedanya. Begitu terus saya ditanyai. Dan dengan jawaban yang sama saya mengulang. Di batas waktu yang ditentukan, akhirnya saya diberitahu. Pimpinan itu beda dengan pemimpin. Gara-gara hal ini pula, sampai sekarang saya tidak pernah nyaman menyebut kata “pimpinan”. Jujur, saya nggak ngeh banget mendengarnya. Saya lebih suka istilah pemimpin yang mencerminkan seseorang yang dedikasinya tinggi, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.

Timbul pertanyaan, kenapa saya nggak ngeh mendengar kata “pimpinan”? Orang-orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai pimpinan, adalah orang-orang yang mengindikasikan bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak bertanggung jawab. Lihat saja, banyak orang yang menyebut bos atau kepala bagian atau ketua suatu organisasi dengan gelar pimpinan. Celakanya, orang yang disebut pimpinan malah seakan-akan lupa apa yang diembannya adalah amanah orang banyak. Nanti di akhirat itu lho ditanyai perkara kepemimpinannya. Mendengar istilah pimpinan, entah kenapa menurut survey kecil-kecilan yang saya buat; orang-orang menjadi sering kufur nikmat, gengsi, dan kejayaannya alay. Padahal nyatanya kejayaan itu fana.
Sekarang coba pikir, berapa orang yang digelari kata “Pemimpin” oleh rakyatnya? Sedikit sekali, kan? 

Kata Allah, setiap dari kita adalah pemimpin (khalifah) di bumiNya.
Kata Rasulullah, pemimpinlah yang akan mempertanggung jawabkan tugasnya di hadapan Allah
So? Masihkah kita nekad meminta-minta untuk diberi jabatan/amanah tanpa pembuktian yang layak? Mari tanya diri sendiri, apakah kita memang mampu? 
Apakah kita siap jika kelak kita akan diinterogasi mendetail mengenai kepemimpinan kita?

Kata Mario Teguh, pemimpin hanya punya dua tugas: Menciptakan tujuan beserta jalan untuk mencapainya.
Sudahkah kita memikirkannya? Sudahkah ada plan A-Z di pikiran kita?

Toh, kalaupun kita memang berkapasitas di bidangnya, Allah tahu kok. Dan Allah gak tidur. Dia pasti akan menjatuhkan amanah tersebut kepada kita. Tentu saja ini sekaligus sebagai ujian. Bila lulus, selamat! Nggak lulus? Ya Wallahu 'alam.

Jadi inget di sekolah saya, bagaimana kolengnya saya dan teman-teman bila diberi amanah yang kadang bukan kapasitas kami. Karena apa? Ya karena kita takut buat jadi PIMPINAN semata. kan sudah saya bilang, kata pimpinan itu agak gimanaa gitu. Alay barangkali. Di sekolah saya, berkat metode MOS tersebut semua orang menempatkan dirinya sebagai pemimpin. Semua memiliki tujuan terarah yang akan mengubah Smala menjadi baik lagi. Bukan. Kami ingin peradaban ini kembali menjadi baik. Kami ingin Indonesia menjadi negeri yang lebih baik dan bermartabat.

Saatnya menjadi PEMIMPIN, bukan pimpinan!                                      

Muslimah... Inilah kita



“Wanita tercantik bagi pria terbaik; bukanlah yang paling jelita; tapi dia yang jika dipandang memberi tenang, maka surgapun terbayang.

Wanita terkuat bagi pria semangat bukanlah yang terlihat hebat; tapi yang menundukkan diri dengan ibadat, menempatkan diri dalam taat.

Wanita terdahsyat bagi pria sejati, bukan yang pesonanya memukau banyak mata; tapi dia nan siap menjadi madrasah cinta bagi anak-anaknya.

Wanita terkukuh bagi pria yang ampuh, bukan yang tak pernah berair mata; tapi yang senyumnya meneguhkan dan tangisnya jadi pengingat taqwa.

Wanita paling bermakna bagi pria bahagia; dia yang kala berpisah menenangkan, kala berjumpa menggelorakan, dan tiap masa saling menguatkan.

Wanita terkaya di mata pria, bukan dia yang bertumpuk harta; tapi yang ridha pada halal semata dan qana’ahnya jadi simpanan tak fana.

-Salim A. Fillah-


Dan, muslimah punya semua itu...

Dunia adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah." (H.R.Muslim)

Debating





Debating...
is not just writing and reading your script in your brain

It's about case building, rebuttal, repeating statement, and destroying (a.k.a menjatuhkan dengan segala cara yang terhormat) your rival.

Dan aku bukanlah orang yang bisa berpikir spontan. Ngomong juga klagep-klagep. Kalo gak penting ya gak ngomong. At least, Ijad @irsyadaneh menghasutku agar aku mau diajak jadi lomba debat. Lucunya, aku tertarik sama fase penulisan esai sebagai tahap penyisihan debat yang paling awal. Pikirku, halah onok Irsyad kok. Tapi celakanya, kami kurang seorang lagi. Karena Farhad gak bisa.

Cling... Ijad pun mencetuskan Mas Rifqi @RifqiAlfian. Wos, tambah ndewo pindho wong iki...
Yah... akhirnya, kami hanya punya waktu seminggu untuk berlatih debat ke Sir Rizal (dosen b.ing @PENS plus pelatihnya Glass).

Aku jujur, hampir putus asa. Bayangin aja, aku yang gak pernah ahli public speaking tiba-tiba disuruh jadi 2nd speaker yang fungsinya pemapar data yang buanyak dan harus hafal (lek iki relatif) dan harus disampaikan dalam waktu 3 menit 20 detik. Dan aku, biasanya speechless di depan umum! Masalahku tentu aja yang terakhir, SPEECHLESS.

Ijad dan Mas Rifqi udah mencoba berbagai cara supaya membuatku ngomong. Mulai dari ngitungin waktu lah, pidato di depan mereka lah, sampe via ngomong birama yang gak ada mirip2nya kek debat. Tapi tidak cukup efektif. Rupanya, tempaan diklat dan mos gak cukup membuatku ngomong banyak. Tapi, yoweslah. Untung temane gampang. Alhamdulillahnya, kami lolos ke semifinal.

Ugh, tapi pas itu wes aku ngomongnya gak banget (AIB). Ngeblank.

Oke, setelah selama Kamis berleha-leha, Jum'at tiba dan aku ngefull latihan @PENS. Well, gara-gara aku gak bisa ngomong, akhirnya Sir Rizal ngomong sesuatu, intinya motivasi pake Inggrisan pula (ini membuatku cepet lupa). Tapi yang jelas aku mudeng pokoknya. Dan ada sederet kalimat yang kayaknya gak bakal bisa kulupain. Intinya ae wes...

"Di sini kamu bekerja sebagai satu tim. Kamu kalo nggak berusaha, kamu akan membuat saya kecewa, membuat tim mu kecewa, dan yang lebih parah, membuat sekolahmu kecewa! Lakukanlah yang terbaik. Dan biarkan Allah yang menentukan segalanya besok. Feel the hot stage."

Yang kupikirkan adalah kekecewaan banyak pihak tambahan yang akan kutimbulkan jika aku tak berusaha.
Ketika itu, aku sudah menimbulkan kecewanya banyak pihak. Dan aku nggak mau menciptakan kekecewaan lagi bagi pihak-pihak selanjutnya. So, akhirnya aku mengingat kata-kata Mario Teguh,

"Yang dilakukan seorang pemenang adalah bukan terus mengeluh. Tetapi ia akan memanfaatkan semua hal yang bisa dia lakukan untuk mencapai tujuannya. Mencapai kesuksesannya."

Aku pun berpikir. Aku punya kelebihan dengan menulis. Maka, satu-satunya cara yang bisa kulakukan sementara dan dalam waktu yang sangat mendesak ini adalah menuliskan semua ide-ideku di sebuah skrip yang terstruktur. Cara ngomongnya, ntar aja. Pasti ada jalan!
Hm... alhamdulillah. Jadilah sebuah skrip itu. Bukan hanya kerangka, tapi naskah jadi dari apa yang akan kusampaikan waktu debat keesokan harinya.

Setelah menulis skrip, efeknya luar biasa. Aku ngomong lebih dari 3 menit! Woow. Itu sebuah prestasi bagiku. Lantas, Sir Rizal menyuruh kami (Ijad, Mas Rifqi, dan aku) untuk berteriak-teriak di luar ruangan. Sekencang-kencangnya. Ya, akhirnya aku bisa!

Dan keesokan harinya, aku meskipun agak gugup, tapi paling tidak aku sudah berbicara jauh lebih banyak. Oke, dan tim Smala masuk FINAL, tanggal 20 Mei 2012.
Kami hanya diberi waktu kurang dari 24 jam untuk merumuskan mosi "Parpol sebagai Pencetak Pemimpin Bangsa".

Di sini, aku bingung lagi. Maklum, aku udah terlalu science minded. Dan kurang mengikuti perkembangan sos-pol di Indonesia. Pelajaran PKn pun jarang. Akhirnya Sabtu malam kemarin, full time searching about parpol. Mpe kudu yaopo ngono mocone. Well, bahkan sampai Minggu pagi pun, aku masih kebingungan akan menyusun skrip seperti apa. Setali tiga uang sama Mas Rifqi dan Ijad. Walopun kenyataannya udah dipandu sama Mas Rizal. Tetep aja bingung.

But, alhamdulillah. Di menit-menit terakhir kami berhasil case building tentang apa yang akan kami bicarakan. Jadi pas maju debat, aku udah punya skrip yang ajaibnya bisa kusampaikan dengan suara yang super cepat tapi tetap bisa dicerna oleh juri dan penonton :)
Golku masuk dengan waktu yang tepat. Sebuah prestasi lagi.

Yah, perkara hasil akhir, aku sudah tak peduli lagi. Karena bagiku, lomba debat pertamaku ini menjadi rangkaian hari yang sangat indah dan berkah (semoga). Banyak pelajaran yang bisa kuambil selama 2 minggu ini. Di kompetisi ini, menang bukan berarti segepok uang, selembar piagam, dan sebuah piala. Tetapi sungguh menjadi suatu prestasi sejati, kemenangan yang berbekal usaha, doa, dan kepasrahan yang tinggi kepada Allah. Aku benar-benar mengamalkan tiga hal itu. Dan, berhasil :)

Aku sadar, tanpa Allah tim kami tidak akan membuat statement2 yang begitu memukau
Tanpa Mas Rizal, tim kami tidak akan pernah sadar bahwa sebenarnya kami mampu (terutama aku)
Tanpa Mas Rifqi, tim kami tidak akan pernah menjadi debaters yang untouchable dan superstar
Tanpa Ijad, tim kami tidak akan pernah menjadi tim dengan strengthen yang 'sangar'

Irsyad (megang piala) - Sir Rizal (megang piagam) - Mas Rifqi (the 'suangar' speaker) - and... you know who :)
Buat kalian bertiga, aku sungguh-sungguh mengucapkan terima kasih. Kalian adalah para juara yang sesungguhnya. Terima kasih karena sudah mau menemuiku di episode kehidupan kalian.
Doumo arigatou gozaimasu yo :D

Jagalah Hati



Asyhadu alla ilaahaillallah
Wa asyhadu anna muhammadur rasulullah

Jagalah hati
Jangan kau kotori,
Jagalah hati
Lentera hidup ini...

Ketika hati sedih dan pilu, kerana ujian melanda
Iangatlah Ia sementara
Ucapkanlah Innalillah...

Bersyukur sepanjang waktu,
Setiap nafasmu, seluruh hidupmu
Semoga diberkahi Allah
Bersabar taat pada Allah
Menjaga keikhlasannya
Semoga dirimu, semoga langkahmu diiringi oleh rahmatNya

Hati terasa kebesaranNya
Ucapkanlah Allahu Akbar!

Tantangan 17



Kini, aku semakin menyadari.
Tantangan itu ada di depanku! Dan sama sekali, TIDAK BERJARAK! (Selama ini aku mengabaikan itu)

Di suatu buku, dan aku sangat merasa tertampar akan hal ini: Guru Goblok ketemu Murid Goblok. Itu yang bisa kuingat barangkali tentang bukunya. Alhamdulillah, kemarin langsung menyambar buku itu di perpustakaan setelah beberapa bulan lalu mendapat rekomendasi buku tersebut dari seseorang di FB. Ya... walaupun itu tentang bisnis, tapi well masuk juga sih di kehidupan sehari-hari.

Satu hal yang kupercaya, Allah selalu tahu apa yang akan terjadi. Dan itu memang sudah skenario Allah tentang bagaimana cara kita hidup dan apa saja yang akan kita peroleh. Eeeeehh... Ketika itu, aku berusia 17 tahun kurang 2 jam. Jadi, di titik inilah Allah mempertemukanku dengan buku tersebut. Epek aku maniak buku.

Srett.. terbukalah halaman itu...
Aku langsung diceramahi si penulis tentang intinya seperti ini, "Selama ini, saya sekolah dan kemudian kuliah. Lalu, bagaimana perbedaannya? Dulu ketika SMA, saya belum bisa menulis karya yang baik. Tetapi kini, setelah saya lulus S-1, saya sudah bisa menulis skripsi yang baik. Dan ketika lulus S-2, saya sudah menghasilkan banyak buku. Buku ini (Guru Goblok ketemu Murid Goblok) adalah buku ke-7 saya. Lantas, ketika nantinya saya akan lulus S-3, perbedaan dalam hal positif apa yang bisa saya berikan?"

Ng... mengindikasikan diriku untuk BERUBAH! Maybe aku harus jadi Power Ranger Pink yang tugasnya adalah selalu menyelamatkan orang-orang, ramah kepada setiap orang, dan pokoknya yang baik-baik gitu deh. Dan sekilas aku memutar balik... Detik-detik di mana usiaku akan berkurang, inilah yang terjadi:
1. Tiba-tiba, aku dihasud salah seorang temanku untuk lomba DEBAT. You know, I'm not being set on speaking mode. I think, I'm appropriate in writing skill. I'm a phlegmatic one that (maybe) I just can hear all your problem and give you a very simple and short solution. I'm not a "reaction-freak" girl.
2. Masalah sama temen, yang entahlah mencapai ketidakjelasan. Aku dewe yo bingung sakjane. Kok lek diterusno gak enak... Tapi kalo dipendem terus juga gak baik. Percaya deh, aku agak entahlah itu vertigo, anemia, atau darah rendah gara-gara hal ini.
3. Tiba-tiba pula, semua pekerjaan numpuk di kamarku! Tanpa tahu apa yang seharusnya kulakukan. Duh, mau ngerjain, tapi godaan ngenet itu besaaar banget. Kaya malem ini nih. Nyambi-nyambi. Padahal, besok Senen ulangan Kimia 3 bab.

Ya, dari ketiga kondisi tersebut, aku bisa menyimpulkan bahwa aku harus BERANI BERBICARA, BERANI MINTA MAAF dan MEMAAFKAN, serta BISA MANAJEMEN WAKTU.
See... aku harus bisa melewati 3 tantangan ini di awal usiaku yang ke-17. Mungkin, ini memang modal paling dasar untukku (tapi gak tau lagi buat orang lain) dan berguna di kehidupanku selanjutnya. Percayalah... perjalanan ini sangat menarik untuk disaksikan. Karena Allah sudah menyiapkan skenario yang indah bagi setiap makhlukNya. Ganbatte kudasai ya, Nisa-chan... ^__^

Ya Allah... akhirnya aku hanya bisa bergantung padaMu. Engkau adalah Sang Pemilik Segalanya.

The Main Particle

Well, kembali lagi  bersama saya... ニサちゃん。。。^_^

今は”Particle"をべんきょうしてますね。

Partikel objek langsung 「を」

Partikel pertama yang akan kita pelajari adalah partikel objek karena merupakan yang paling mudah dimengerti. Huruf 「を」 ditempelkan ke akhir suatu kata untuk menandakan bahwa kata tersebut merupakan objek langsung verbnya.

Contoh

(1) 食べる。 (さかなをたべる)   
- Makan ikan.
(2) ジュース飲んだ。( ジュースをのんだ)
- Tadi minum jus.

Kalau kamu menggunakan 「する」 dengan nomina, partikel 「を」 bisa dihilangkan dan kamu bisa menganggap seluruh [nomina+する] sebagai satu verba.
(5) 毎日日本語勉強する。 (まいにち、にほんごをべんきょうする)
- Belajar bahasa Jepang setiap hari.
(6) メールアドレス登録した。( メールアドレスをとうろくした)
- Telah mendaftarkan alamat email.

Partikel target 「に」

Partikel 「に」 menyatakan target dari verba. Ini berbeda dengan 「を」, di mana verbanya melakukan sesuatu terhadap objek langsung. Dengan 「に」, verbanya melakukan sesuatu menuju kata yang ditandai 「に」. Contohnya, tempat tujuan verba gerakan ditandai dengan 「に」.

Contoh

(1) ジャヤは日本行った。 ( ジャヤはにほんいいった)
- Jaya pergi ke Jepang. (lampau)
(2) 帰らない。 (うちにきらない)
- Tidak pulang ke rumah.
(3) 部屋くる。 (へやにくる)
- Datang ke kamar.

Bisa dilihat di contoh (3) bahwa partikel target selalu berarti tujuan ("ke") dan bukan asal ("dari"). Kalau kamu ingin mengatakan misalnya "datang dari", maka kamu perlu menggunakan 「から」 yang artinya "dari". Dengan 「に」, artinya adalah "datang ke". 「から」 sering berpasangan dengan 「まで」 yang artinya "sampai".
(4) イチャは、インドネシアからきた
- Icha datang dari Indonesia. (lampau)
(5) 宿題今日から明日までする
- Akan mengerjakan PR dari hari ini sampai besok.

Partikel arah 「へ」

Walaupun 「へ」 umumnya diucapkan "he", saat digunakan sebagai partikel dia selalu diucapkan "e". Beda utama antara partikel 「に」 dan 「へ」 adalah bahwa 「に」 memandang targetnya sebagai tujuan akhir (baik kongkrit maupun abstrak). Di lain pihak, 「へ」 lebih menyatakan bahwa kita bergerak ke arah tertentu, tapi tidak menjamin bahwa itu adalah tujuan akhirnya. Karenanya, 「へ」 hanya digunakan untuk verba gerakan. Dengan kata lain, partikel 「に」 menyatakan targetnya dengan pasti sedangkan 「へ」 lebih samar-samar tentang tujuan akhirnya. Sebagai contoh, kalau kita mengganti 「に」 dengan 「へ」 pada tiga contoh yang tadi telah muncul, nuansanya sedikit berubah.

Contoh

(1) ジャヤは日本行った
- Jaya pergi ke arah Jepang. (lampau)
(2) 帰らない
- Tidak pulang ke arah rumah.
(3) 部屋くる
- Datang ke arah kamar.
Untuk memperjelas, misalnya kita mengatakan "Orang itu lari ke arah utara". Kita bisa mengatakan hal tersebut tanpa perlu tahu tujuan sebenarnya si orang itu. Bisa saja, setelah berlari beberapa ratus meter orang tersebut ternyata belok ke timur karena memang tempat yang ditujunya ada di situ. Inilah esensi 「へ」 yang lebih menyatakan arah gerakan namun tidak menjamin apapun mengenai tujuan akhirnya.
Kita tidak bisa menggunakan partikel 「へ」 untuk verba yang tidak memiliki arah fisik. Contoh berikut salah:
(誤) 医者なる
- (Versi salah dari 「医者なる」.)
Ini tidak berarti 「へ」 tidak bisa digunakan untuk konsep abstrak. Bahkan, karena arti arah yang samar dari partikel ini, 「へ」 juga bisa digunakan untuk membicarakan sasaran masa mendatang dan harapan.
(4) 勝ち向かう
- Menuju kemenangan.

Partikel konteks 「で」

Partikel 「で」 memungkinkan kita menyatakan konteks pelaksanaan verbanya. Misalnya, jika seseorang makan ikan, di mana dia makan? Lalu, jika seseorang pergi ke sekolah, dengan kendaraan apa dia pergi? Dengan alat apa kamu makan? Semua pertanyaan tadi bisa dijawab dengan partikel 「で」. Ini beberapa contohnya.

Contoh

(1) 映画館見た
- Melihat di bioskop.
(2) バス帰る
- Pulang dengan bis.
(3) レストラン昼ご飯食べた
- Tadi makan siang di restoran.
Pada dasarnya, 「で」 berarti "dengan cara". Namun untuk tempat, kata bahasa Indonesia yang lebih cocok adalah "di".

Oke, みんあさん。
ありがとう ございました。:)

The Precious Moments



Sweet seventeen tinggal udah H-3, aku ingin sekali flashback ke masa lalu.Hm... tiba-tiba, ketika aku membuka postinganku pertama kali di blog ini, aku merasa
"Wah, aku lucu sekali. Itulah saat-saat di mana masa kecilku berakhir"
Aku bisa merasakannya melalui tulisan-tulisanku di sini.
Saat itu, aku masih polos, belum terkontaminasi mindset-mindset apapun.



Sekali waktu ini, aku ingin Ayah dan Mama juga ngeksis di blog ini. Aku ingin menunjukkan pada dunia, ini lho orang-orang yang sangat berarti buatku. Ini lho, mereka-mereka yang nggak pernah berhenti memberikan sayang dan cintanya buatku. Merekalah, sekali lagi yang membuatku bertahan. Dan sedikit sesalku, aku baru mengetahuinya sekitar... setahun yang lalu.

Izinkan aku mereview ulang, walaupun aku tak ingat 100% kejadiannya. Tapi, biarlah ini menjadi memori terindah.

satu.
Hari itu, pertama kalinya Ayah mengucapkan, "Maaf ya, Sa. Ini memory card-nya udah ketemu." kata beliau. Yang setahuku, kalimat ini hanya diucapkan waktu sungkeman setelah shalat Ied. Karena sebelumnya, aku diinterogasi habis-habisan soal memory itu. Tapi, entah kenapa aku sudah bisa kebal dan bertahan, sabar.

dua.
Hari itu, pertama kalinya Ayah dan Mama mengucapkan "Kamu pasti bisa, Nak! Kami akan selalu mendukungmu. Lihatlah (menunjuk printer+scanner yang masih baru), ini semuanya buat kamu. Jangan putus asa, ya. Kami tahu, kau pasti mampu!" aku masih ingat, ucapan itu 2 tahun yang lalu. Dan mentari pun mulai memancarkan cahanya. Membuat suasana di ruang tamu berukuran 3x4 meter itu sesak oleh kebahagiaan.

tiga.
Ayah seringkali bilang, soal kriteria cowok-cowok yang seharusnya kupilih. Harus shalih, bisa diajak hidup bersama dan mampu berpikir. Tapi, aku baru sadar sekarang, itu benar. Padahal, aku bermain-main dengan yang namanya "the wrong love". Aku menganggap, Oh pasti semua cowok bisa diubah kok buruknya. Dan buktinya adalah mustahil selain Allah yang mengubahnya.
Ayah mana yang tak ingin putri kecilnya mendapatkan yang terbaik? Yang bisa melindungi dan bertanggung jawab atasku jika Ayahku sudah tak mampu lagi menjaga.

empat.
Mama sharing masa lalu beliau soal... cinta. Aih, kalo udah ngomong yang satu ini, pembahasannya bisa lebar. 3 hari nonstop juga bisa. Paling susah kalo udah ngomong masalah "Kamu jangan lama-lama jomblo ya... Perempuan itu susah cari jodohnya." atau
"Mama pingin kenalan sama temen-temen kamu." kata beliau.
"Temen apa, Ma? Cowok?" tanyaku pura-pura nggak ngerti.
"Iya, siapa lagi," rayunya.
"Biasa aja kok Ma, nggak ada yang spesial."
"Mbujuki yo... (Bohong ya). Tapi, ya wes lah, yang penting kamu ada yang naksir,"
Mama lho.... (''-______-)
Kalo udah gini, aku pasti bilang, "Mama... aku pingin pergi ke Jepang dulu, kuliah di sana. Pokoknya izinkan aku pergi ke Jepang setelah SMA. Aku kan masih 17 tahun, Ma. Perlu pendidikan yang lebih tinggi. Ya... ya...?"
Mama pun terdiam dan (tampak) menyerah. \(^_^)? Yesss!

lima.
Ketika aku keluar rumah terlalu lama, Mama menerorku dengan banyak telepon. Aku di mana, pulang jam berapa, sama siapa, dan lagi apa. Wajar, kurasa. Aku adalah gadis kecilnya yang akan tumbuh dewasa dan bisa saja dikibuli orang di luar sana. Suatu saat, aku pulang malam tanpa memberitahu dulu; jam 8 malam (saat itu, aku pulang jam segitu sendirian bukanlah hal wajar). Bukannya senang, aku malah mendapati wajah Mama yang setengah ingin menangis, khawatir, dan kecewa. Tapi, aku tahu sebersit kelegaan terpancar dari sudut mata beliau. Keesokan harinya, Mama bilang, "Sa, tahu nggak. Setiap kali kamu keluar, Mama selalu mendoakan kamu. Supaya kamu selamat di jalan, supaya nggak terjadi apa-apa sama kamu. Tolong jangan diulangi yang tadi malam."
Dan hingga kini, doa itulah yang jujur saja, membuatku selamat di jalan. Aku pernah beberapa kali jatuh di jalan raya, tengah jalan lagi. Tapi alhamdulillah, aku masih utuh nggak kesambar apa-apa. Aku juga pernah kena razia SIM, tapi alhamdulillah aku lolos dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Aku pernah bermotor ria di tengah hujan badai. Takut? Pasti! Tapi alhamdulillah, aku selamat sampai di rumah. Semua itu, berkat doa-doa tulus yang dipanjatkan oleh Mama tercinta.

enam.
Tak perlu kuceritakan. Intinya, pertemuanku dengan Ayah dan Mama, di hadapan mushaf Al-Qur'an.

tujuh dan seterusnya, aku tak ingat. Begitu banyak momen berharga yang diberikan Allah padaku dan kedua orang tuaku.

Allahumma Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku. Sayangilah mereka. Cintailah mereka dengan sebesar-besarnya cinta, dengan seagung-agungnya cintaMu. Berkahilah setiap langkah mereka. Dan jadikanlah keluarga kami, keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Himpunlah kami kelak dalam jannahMu. Kuatkanlah ikatan cinta di antara kami, wahai Rabbi. Berilah kami hidayahMu selalu, agar kami tetap mampu menapaki jalanMu. Amin, Amin, Ya Robbal 'Alamiin.

Tak Akan Pernah "SIA-SIA"

Sekali waktu, pernah pasti ya, mikir gini

"Ah, ngapain juga aku ngelakuin ini. Toh, nggak ada yang bakalan ndengerin aku."
"Halah, aku lho udah susah-susah ngerjain. Mereka nggak mau bantulah. Paling nggak, bantu apa gitu. Masa aku semua sih? Aku udah kerja berat-berat, tapi nggak dihargain..."
"Tau gitu... aku nggak bakalan mau lagi kerja di sini. Apa! Kayaknya aku dimanfaatin aja."

Intinya adalah, kita merasa sia-sia dengan apa yang kita lakukan. Well, pernah toh? Pernah pasti. Aku juga kok. Wajar, manusia...

Tapi, sebaiknya JANGAN pernah katakan hal itu jika sudah menyangkut urusan "membantu agama Allah", jangan pernah. Lho, kenapa? Bukannya sama aja? Bukannya melakukan hal yang sia-sia itu nggak boleh ya?
Mari simak ayat berikut:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka dibunuh atau terbunuh. Itu yang menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan, dan itulah kemenangan yang besar”. (At Taubáh: 111) 



Kita memang nggak boleh melakukan hal yang sia-sia. Yang dimaksud "sia-sia" di sini itu apa? Contoh: menggunjing orang, minum khamr (bir), maksiat, ya... pokoknya akhlak mazmumah deh. Tau kan? Itu baru namanya perbuatan yang sia-sia.


Yakinlah, Allah TIDAK akan pernah menyia-nyiakan hambaNya. 


(For writer: semoga, selftalkmu ini sedikit mengurangi apa yang terasa berat di hatimu hari ini. Selalulah memohon penjagaan diri padaNya)

SKILAS CUP 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Semoga Allah memberikan hidayahNya bagi orang-orang yang bertahan mencariya, bertahan memeliharanya, dan bertahan sesudahnya. Amin.

Assalamu'alaikum Akhi dan Ukhti.
Ya, langsung saja. Saya tidak akan memperpanjangnya.
Akhi, Ukhti, pernahkah kita melihat kondisi umat kita? Terutama, lihatlah para generasi muda Muslim kini.
Terasa jauh sekali bedanya ketika Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabat masih setia menemani.
Ah, saya rasa antum lebih tahu keadaannya. Bagaimana?
Ya! Daya juang, rasa berkompetisi, dan ukhuwahnya sangat rendah. Terkalahkan oleh buaian dunia yang begitu nikmat, indah, dan bersahabat; padahal HANYA sesaat.

Lalu, apakah yang bisa kita lakukan?
Diam? Membiarkan mereka bergumul dengan ajaran sesat?
Lantas, kapan Islam akan mengaumkan gemanya seperti sediakala jika kita sendiri yang tak mengaum ganas?!
Kapan Islam akan dipandang bermartabat tinggi jika bukan kita yang berperilaku beradab dan sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia?!
Kapan!

Akhi... Ukhti...
Di jalanNya lah kita menyeru!
Di jalanNya pula kita mengadu!
Akan nasib umat Rahmatan lil'alamiin ini.

Kerananyalah, izinkan saya dan teman-teman dari SSKI V,
peduli dengan kondisi ini.
Kami hantarkan sebuah bingkisan penuh cinta,
Yang berisi cokelat-cokelat manis peneguh jiwa,

"SKILAS CUP 2012"

Sekelumit kompetisi Islami
Yang membakar jiwa dan diri
Generasi Qur'ani

Sedikit Info mengenai SKILAS CUP 2012:
- Bagi siswa SMP dan SMA sederajat (muslim/muslimah)
- Jenis Lomba:
  Kategori SMP : Cerdas Cermat, Ceramah, Kaligrafi Bebas, Tahfidzul Qur'an, dan Esai
  Kategori SMA : Cerdas Cermat, Stand Up Dakwah, Kaligrafi Bebas, Tahfidzul Qur'an, dan Esai
- Tanggal pelaksanaan : 19-20 dan 26 Mei 2012 di SMA Negeri 5 Surabaya
- Hadiah : Total 17 Juta+piagam+trofi
- Info lengkap di www.skilas.co.cc

Akhi... Ukhti...
Tentu, bukanlah hadiah yang terpenting.
Namun semangat fastabiqul khoiroh (berlomba-lomba dalam kebaikan),
Penjagaan ukhuwah,
serta tempaan diri dengan berkompetisi;
adalah tak ternilai harganya dibanding 17 Juta!

Mohon info ini disebarkan kepada seluruh saudara-saudari kita yang masih berstatus sebagai siswa SMP dan SMA di manapun mereka berada
Agar kita bisa berbagi semangat, kebaikan, dan kelak dapat berkumpul di jannahNya
Jazakumullah Khoiron Katsiro

Alhamdulillahirabbil 'Alamiin.

"Tugaskulah untuk berusaha. Tetapi sudah menjadi tugas Allah untuk memenangkan orang-orang beriman yang yakin akan kuasaNya dan kerja kerasnya."
Amiin.

Memaafkan, Dimaafkan, dan Permintaan Maaf

Ada 3 ranking derajat hamba yang bertaqwa di sisi ALLAH (QS 3:34), 
- Ranking ke 3 dulu, ”Alkaazhimiinal goizho”, mampu menahan marahnya walaupun mampu & punya peluang u membalasnya, 
- Ranking ke 2, "Al aafiina aninnaas”, mampu menahan marah & mampu memaafkan, sayangnya belum mampu melupakannya, Kadang kadang masih ingat. Sedangkan
- Ranking tertinggi, ”Almuhsiniin”, bukan hanya mampu menahan marah, memaafkan & melupakan tetapi bahkan mampu & senang mengajak u membuka lembaran baru, " Yang lalu yg lalu, mari kita mulai dari yg baru lagi", 

Lantas kita ada pada ranking yang mana, Sahabatku?  

Mempunyai masalah memang suatu pertanda bahwa orang tersebut hidup. Tapi...
Mempunyai masalah juga merupakan hari-hari yang tidak mengenakkan. Tapi...
Mempunyai masalah itu mendewasakan.
Dan akhir-akhir ini, aku memiliki masalah dengan beberapa orang-orang yang... sulit kuhadapi.
Walaupun tak semua. Tapi...
Aku juga menyalahkan diriku sendiri karena telah menciptakan masalah ini.
Siapapun yang pernah merasa kudzolimi, aku minta maaf ya, Kawan.
Masih banyak kekurangan di diriku.
Kurasa, biar Allah yang menunjukkan jalan pulang padaku. 
Tugasku hanya minta maaf.
Terima kasih karena telah memaafkanku.

"Semoga ALLAH senantiasa memperbaiki keadaan kita dengan HIDAYAHNYA...aamiin".

Marilah kita buka lembaran baru yang lebih indah dari hari kemarin :)

~ Ciri-ciri orang yang mencintaimu ~




Tak bisa menyebutkan alasannya kenapa-mengingat setiap hal yang berkesan darimu-menyupportmu di setiap keadaan-selalu ingin tahu tentangmu-selalu menunggumu.

Karena dia mengerti, bagaimana itu cinta.