RSS

Dengarkanlah...

Dengarkanlah dengan Hatimu

"Cobalah dengar orang lain, nanti pasti kamu akan belajar lebih banyak...."

Jujur saja, berorganisasi di masyarakat jauh lebih menantang dibanding di sekolah atau di suatu komunitas. Karena, tentu faktor 'keberagaman' (anggota yang totally heterogen) lah yang menjadi penyebabnya. Meskipun, pada intinya kita itu satu tujuan, tapi tetap saja masalah penyatuan persepsi, etos kerja, dan kemampuan berorganisasi nggak bisa sama. Karena ya itu tadi, ada perbedaan prinsip yang mendasar dan lebar di antara pribadi yang menghuninya.

Dan, well aku baru saja belajar dari seseorang yang super koleris (entah orang ini mengetahui kepribadiannya atau tidak), tentang cara mendengarkan orang lain. Beliau adalah salah satu Dewan Pembina di Remas (Remaja Masjid). Beliau SD memang nggak tamat, tapi kemauan untuk belajar dari lingkungan, alam, dan kekayaan dalam masyarakat plus ngaji, masyaAllah, itulah yang membuat sosok ini menjadi segelintir orang 'super' di kampungku yang... yah, bisa dikatakan masyarakatnya masih terlalu sederhana dalam berpikir.

Aku sendiri, mengenal organisasi dari sekolahku tercinta, Smala. Aku berkecimpung di beberapa organisasi. Tetapi, namanya juga masih remaja, kan? Pasti masih terbalut emosi yang meluap-luap dan susah dimengerti. Tahulah ya, remaja cewek. Baru seneng-senengnya. Alhamdulillah, positif. Kan yang penting nggak terjerumus di bidang negatif.

Karena 'merasa' sudah mendapatkan bekal yang cukup dari sekolah, aku pun ingin menjajal yang di rumah. Soalnya di rumah cuma ada Remas, lagi pula, di TPA tempat Remas bernaung, aku dulu sempat menjadi santrinya. Jadi, apa salahnya kalau aku mencoba mengabdi di sana. :)
Baiklah, aku pun mulai sotoy dan masih bingung menyesuaikan. Di sekolah dan di Remas, jauhnya seperti langit dan bumi.

Di sekolah, pantesan semua berjalan lancar. satu komunitas, satu latar belakang, satu prinsip, satu tujuan. Enak, udah sama semua. Tinggal meningkatkan etos kerja. Lah di Remas, beda prinsip, beda latar belakang, beda komunitas! Bagaimanakah menyatukan orang dengan sebegitu banyaknya perbedaan? Oh, jadi gini ya, susahnya kalo jadi Presiden, hehehe.
Mau ngambil keputusan gini, ntar yang sana masih nggak ngerti. Mau gitu, yang Dewan Pembina nolak. Mau pergi ke sana, beberapa komunitas gak setuju. Ya Allah, banyak tantangannya.

Katanya Uti (eyang putri) yang biasa kuajak curhat, simpel aja, "Yo, jenenge ae wong akeh (namanya saja orang banyak). Mau diapakan lagi? Kamu ndak bisa menyamakan, Ndhuk,"

Walopun aku gak jadi ketua, tapi biasanya aku menjadi inisiator. Soalnya, ketuanya sendiri nggak pernah punya pengalaman organisasi. Duh, kan? Ini tambah gimana gitu ya?? Muncullah perasaan superior, astaghfirullah. Aku tau, itu nggak boleh. Tapi ya mau gimana? Ketuanya jauh lebih plegmatis (lagi-lagi Ketuanya nggak tau kepribadiannya tipe apa) dariku :(

Dan, salah satu Dewan Pembina Remas yang kusebutkan di atas cuma ngomong simpel, "Kamu itu cuma perlu komunikasi, Nis. Kalo kamu pinter koordinasi, bisa komunikasi, apapun lancar. Coba dengarkan orang lain. Belajarlah dari sana," oke Pak.

Oke. Sekarang, kita fokus pada kegiatan mendengarkan. Jauh-jauh hari sebelum menulis post ini, aku sudah berkali-kali mendapatkan kalimat itu: DENGARKAN ORANG LAIN, MAKA MEREKA AKAN MENDENGARMU.

Ya, tapi mendengarkan yang seperti apa. Perasaan, selama ini aku sudah mendengarkan orang lain. Ng... aku juga sudah mencoba memahami orang lain. Tapi, kenapa aku masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya? Kenapa aku masih saja ketakutan berpijak di kaki sendiri?

Ternyata, malam ini, aku menemukan sebabnya:
- Cara mendengarkanku kurang benar. Aku menggunakan kata 'perasaan', yang masih berarti ada keraguan di dalamnya.
- Kurang mempertahankan prinsip. Prinsip apa? Prinsip yang sesuai dengan syariatNya dan qadarullah yang terjadi pada diri kita.

Hei, mendengarkan 'maksud' orang lain, beda dengan mendengarkan 'perkataan'nya. Maksud, seringkali terletak di dalam hati yang implisit. Dan hanya orang-orang yang peka-lah yang bisa mengerti maksud orang lain.

Maka, setiap kali orang-orang di sekitarmu bereaksi atas sesuatu, mengatakan sesuatu, pahami maksud mereka. Dengarlah perkataan mereka. Maka kau akan belajar sesuatu darinya.