RSS

Nyaman cs Prestasi?


Jauh, kawan... Kondisi kita jauh dari mereka.  
Empat orang masuk ke kelasku, tepatnya Bapak-bapak komite sekolah sih. And then, setelah mereka menjelaskan keperluannya, salah satu temenku usul (ini merupakan uneg-uneg seluruh anak kelas 12 sakjane);
"Pak, kelasnya panas. Kenapa kelasnya nggak dipasangi AC sih?"
"Iya, jadinya suasana belajar nggak kondusif, nggak enak, dll,"

Kapan kita mendapat kesempatan seperti ini?

Dan, Paknya cuma bisa tersenyum dan bilang, "Anda itu kepanasan di sini karena di mobil, di rumah, di mall, di mana-mana terbiasa memakai AC... Kalau di sini kan nggak. Iya, kan?"

Speechless sudah temanku. Dan dia menghadap ke belakang, berbisik sambil kipas-kipas, "Panasnya..."
ke-GR-an, aku manggut-manggut ngerti.

Baiklah, actually, I'm totally agree with the old man, guys. Ya, yang ngerasa panas juga all student yang kelasnya di koridor kelas 12. Termasuk aku, kamu, dan penghuni koridor itu.
Tapi, aku jadi kepikiran sama zona nyaman. Dulu, waktu pengaderan, bukankah kita semua sering mendengar para Mbak-Mas bersabda, "Keluar dari zona nyaman kalian!"

Keluar dari Zona Nyaman :)


Nah, bukankah dengan tidak adanya AC ini juga merupakan salah satu kondisi yang "tidak nyaman"? Panas, memang. Aku baca di Yahoo! hari ini kalo Surabaya sedang dalam suhu 38 derajat celcius. Berasa demam, ya? Surabaya lagi demam nih. :)

Entah kenapa hujan tak kunjung tiba (lagi). Aku hanya mencium bau-bauan air yang menggantung di langit dan bersatu dengan pepohonan yang tersisa di sekelilingku :(

Well, balik lagi soal zona nyaman... Kembali lagi, aku ditampar sebuah memori dari zaman kelas 10.
Tiba-tiba, aku diingatkan tentang potret anak-anak Afrika, Palestina, dan negara-negara berkonflik. Negara yang gersang, yang panasnya lebih dari 38 derajat celcius, yang bahkan bajunya pun mungkin tak selayak baju kita di sini. Yang makanannya mungkin hanya seekor binatang atau gandum, tanpa es buah, es teh, es krim, atau es-es lainnya yang bikin tenggorokan seger.

Mereka masih mau belajar lho :)


Jauh, kawan... Kondisi kita jauh dari mereka.

Sekali lagi aku bertanya, haruskah kita terus mengeluh, ketika kita harus menahan diri dengan materi dan kondisi seperti itu? Bukankah nanti, di rumah, pasti kita akan kembali disambut ruangan yang ber-AC (tapi rumahku nggak ada AC-nya, karena memang jendelanya banyak sekali).

Anak-anak Papua


Pernahkah membayangkan, bahwa suatu hari mungkin kondisi kita lebih dari sekedar kepanasan dan kepuyengan memikirkan banyak hal. Lebih parah dari kondisi kita sekarang. Jadi, masalah AC mungkin tak sebesar masalah ketika harus remidi Fisika, Kimia, Bio. Ah, buktinya, anak-anak pedalaman yang belajar tanpa AC pun, mereka jauh lebih berprestasi daripada kita yang sering merengek minta ini itu kepada orang tua. Mereka yang ada nun di perbatasan sana, justru mengambil nilai-nilai kehidupan, lebih dari kita yang bergelimang fasilitas.

Teringat pesan Bundo nya Alif,

Tempat belajar itu penting, Nak. Tetapi kesungguhan hati itulah yang lebih utama


Tenang.... masih ada kipas angin dan kipas tangan. ^_^