RSS

Dead Poets Society

1989. Breakable film!

Carpe Diem...

Dead Poets Society

Aneh aja begitu tahu dapet tugas menganalisis film ini dari guru Bahasa Indonesia-ku. Kenapa harus film barat dan bukan film Indonesia? Kayaknya pernah denger dan setelah browsing sana-sini, film ini adalah salah satu film lawas yang dibuat pada tahun 1989.

Awalnya sempet mengira ini film standar anak sekolahan yang cuma cerita soal percintaan ala Hollywood. Mana pembukaannya upacara penyambutan murid baru di sebuah sekolah unggulan; terus lighting filmnya juga belum sebagus sekarang. Duh, pasti ngantuk ya.

Weits, saya salah besar! Robin Williams sukses berat meranin captain John Keating yang dengan berani-beraninya melawan empat pilar (jadi teringat sesuatu mengenai pilar-pilar, lupakan) yang menjadi prinsip turun temurun sekolah itu. Tau nggak pilarnya apa?

TRADITION-HONOR-DISCIPLINE-EXCELLENCE

Nah, tugasnya Pak Keating adalah menjadi guru Bahasa Inggris pengganti seorang guru yang pensiun. Sama kayak saya, pertama masuk kelas murid-muridnya juga bete abis karena ternyata beliau nyuruh baca "definisi puisi secara komprehensif" dari profesor siapa gitu. Setelah selesai, Pak Keating malah nyuruh, "RIP THE BOOK, we don't need any trash like that."
Ngapain itu? Disuruh nyobek-nyobek bukunya. Heh? Sumpah, bener. Pak Keating bersikap begitu karena bagi beliau, puisi adalah manifestasi (ciyeh) dari perasaan seorang manusia.

Pandang dengan cara berbeda!
Menurut Pak Keating, manusia menulis puisi karena ia "berperan aktif" dalam kehidupan. Kan muncul masalah-masalah tuh, jadi ada beberapa manusia yang mengungkapkan curhatannya melalui puisi. Jadi, pengertian puisi yang sebegitu ruwet dan kompleksnya memang benar, itu kalo mahami pake akal. But, ketika kita memahami puisi dari perasaan dan benar-benar menggunakan hati, makna puisi itu sebenernya simpel banget. 

Perbedaan mengajar yang out of the box ini tak berhenti di situ saja. Ia bahkan menerapkan mantranya kepada seluruh muridnya. CARPE DIEM. SEIZE the DAY. BUATLAH HARI-HARIMU BERBEDA. Beliau pingin banget murid-muridnya sukses dengan cara yang nggak biasa. Dengan cara yang spektakuler dan sekaligus menunjukkan jati dirinya masing-masing. Seperti semboyannya, "Lihatlah segala sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda."

Kata Pak Keating soal puisi

Cara itulah yang sukses membuat Pak Keating disenangi dan disegani oleh para muridnya; terutama oleh Neil dan keenam sohibnya. Hingga ketujuh cowok keren itu menemukan skandal Dead Poets Society, sebuah perkumpulan pecinta puisi rahasia di sekolah itu. Yep, Pak Keating menjadi anggotanya, dan artinya dulu Pak Keating juga pernah menjadi murid sekolah itu.

Dipelopori oleh Neil, mereka bertujuh sering banget mengadakan pertemuan di dalam gua malem-malem. Dengan tema Dead Poets Society 2. Walopun awalnya mereka cuma bahas soal puisi, tapi akhirnya malah saling bertukar ide buat protes ke sekolah khusus yang peraturannya sangat ketat itu. Bahkan di sinilah setiap cowok itu mulai berani meraih mimpi-mimpi mereka. Pak Keating tentu saja senang dengan keberanian itu.

Dead Poets Society jilid 2

Well, masalah muncul pas mendadak ayah Neil dateng ke kamarnya dan memintanya buat berhenti terobsesi jadi aktor. Padahal Neil dapet peran utama dalam drama yang dibintanginya. Selain itu, Charlie juga berani mengedarkan artikel "harusnya cewek diterima di sekolah itu" di koran sekolah. Mereka berdua pun dimarahi habis-habisan; Neil oleh ayahnya, Charlie oleh Pak Kepsek.
Pak Keating pun mengatakan, "Be wise, not stupid" dan tetap menyemangati mereka.

Pak Keating dan 7 Muridnya


Malang bagi Neil, dia harus pulang dan memilih jalan yang sesat-sesesat sesatnya. Sementara, dari insiden itu, akhirnya Dead Poets Society ketahuan juga. Di sini, Pak Keating merasa bersalah dan sangat menyesal atas Neil. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana nasib Pak Keating?

Ending

Penasaran kan? Yuk, tonton aja filmnya. Dijamin nggak bikin kecewa!
(jangan lupa sediain tisu yah)