RSS

Menjadi Hebat

Waaah... akhirnya kelas 12 juga. Hari ini, entah kenapa tiba-tiba begitu banyak yang harus dilakukan. Padahal, ini masih awal mula kelas 12. Entah ke depannya, pasti banyak lagi yang harus dilakukan.

Salah satunya adalah kumpul-kumpul sama anak-anak FIRST. Salah satu SS di Smala yang mengembangkan olimpiade sebagai basisnya. Tadi, aku meliqo' dengan para jawara OSN: Fisika (Dedy), Biologi (Denis, Auk, Helmi), Matematika (Diwis), Astronomi (Mahdi), dan Kimia (Dimas). Walaupun tema bahasan kami tadi tentang mading dan regen, tapi sumpah ada yang sangat annoying buatku.

Melihat mereka yang rasanya begitu hebat bisa memenangi olimpiade-olimpiade tingkat nasional dan internasional; aku jadi iri dan malu. Tiba-tiba aku merasa seperti itu karena belum bisa menghadiahkan apapun untuk Smala, kontribusi kurang maksimal, dan sebab-sebab lain yang tak bisa kuungkapkan di sini.

Aku tertegun dan bertanya dalam hati. Bagaimana aku akan bisa sehebat mereka? Sebenarnya, hebat itu harus menggunakan ukuran yang bagaimana? Karena setahuku orang-orang hebat adalah orang yang berhasil punya piala dan piagam segudang, dan biasanya dielu-elukan banyak orang. Begitukah? Atau penafsiranku saja yang salah ya?

Then, I see inside myself. Siapa aku? Apa prestasiku? Patutkah aku dibanggakan?
Mungkin, pandanganku soal orang-orang hebat itu perlu diluruskan. Mungkin, kontribusi tak baik jika hanya dilihat pada satu sisi. Aku cuma bisa meradang dalam hati. Apakah keputusanku salah ketika aku harus menuruti orangtuaku yang science minded sehingga aku masuk IPA, tapi tak pernah bisa maksimal? Apakah hanya aku yang berpikir seperti ini? Well, kurasa keputusanku itu sudah benar. Karena ridho orang tua kan, ridho Allah juga ya. Hmm...

Pernah di suatu siang, aku berkata aku ingin menjadi hebat pada Mamaku. Aku ingin sekolah di luar negeri (Jepang) dan menjelajah negeri-negeri asing seperti yang dikisahkan oleh penulis-penulis favoritku. Aku ingin tahu di sana seperti apa.
Sebagai jawabannya beliau hanya berkata, jadilah orang yang sederhana tapi yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Awalnya aku tak terima dengan pemikiran beliau yang seperti itu. Yah, wajar saja; orang tuaku hidup sederhana di salah satu sudut kampung di Surabaya. Tak pernah punya pikiran akan melepaskan anak-anaknya, jauh dari jangkauan mereka. Yang beliau pikir hanyalah bagaimana dan siapa yang akan membahagiakan mereka di hari tua kalau bukan aku dan kedua adikku?

Kecewa? Pasti. Satu hal ketika itu yang berusaha kuyakini, Allah hanya ingin aku tidak mendapatkan masalah yang justru akan merugikan diriku. Bukankah Ia tahu yang terbaik untuk hambaNya? Mungkin dari sini aku harus belajar berpikir dewasa yang tidak hanya mementingkan diri sendiri. Namun aku harus mulai berpikir tentang orang-orang terdekat.

Well, kembali ke topik 'Menjadi Hebat'. Setelah berpikir ini itu dan melibatkan segenap perasaan, keadaan, dan banyak hal lain. Kini hipotesisku sementaraku adalah jalani saja, tetaplah bermimpi, tetaplah berusaha, tetaplah berdoa. Karena aku juga gak tahu kejutan apa yang Allah siapkan nanti kan? Menurutku, menjadi hebat memang bukan hanya sekedar piala dan pengakuan, tapi lebih tentang pengertian dan semangat diri yang menular ke orang lain agar mereka juga ikut terseret menjadi orang hebat. Jadi inget sabda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam,
Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. (H.R.Daruquthni & Ath-Thabrani)
Akhirnya selesai satu masalah ini. Keep calm and trust your fate to Allah. He knows the best for you.

Ridhallah bi ridho walidain