RSS

Belajar dari Tukang Parkir

Di suatu malam, aku mengikuti kajian di jalanan sempit kampungku. Dan aku mendapatkan sebuah great story tentang tukang parkir.

Ustadz: "Mau belajar ikhlas kalau beramal?"

Kami: "Mau ustadz..."

Ustadz: "Belajar gih sama Tukang Parkir."

Kami: (terdiam dan bertanya-tanya)

Ustadz: "Kira-kira, kenapa tukang parkir bisa merasa ikhlas? Taksih mboten ngertos?*"

Kami: "Dereng, Ustadz."

Ustadz: "Tukang parkir itu, sadar sepenuhnya bahwa seluruh kendaraan yang dijaga itu bukan      miliknya. Dia hanya bertugas menjaga mobil-mobil dan motor itu sementara. Toh, waktu sore juga dikembalikan."

Kami: "Lantas, Ustadz?"

Ustadz: "Nah, begitu juga dengan harta kita. Awak dewe kudu sadar lek sugih'e awak dewe iku titipan saking Allah Subhanahu Wata'ala... Nggih ta nggih?"

Kami: "Nggih..."

Well, pada dasarnya, kita memang hidup layaknya tukang parkir. Sadarkah kita?
Kita dititipin nyawa, nafas, kesehatan, harta benda, dan lain-lain. Sadarkah kita?
Dan faktanya adalah kita DIPINJAMI oleh Allah. Jadi, sewaktu-waktu jika Allah ingin mengambil titipanNya, ya harus ikhlas.
Atau kalau Allah memerintahkan kita untuk mengeluarkan sebgaian daripadanya, ojok nesu-nesu.

^_^

Tukang Parkir wajib bertanggung jawab+siap ngembaliin