RSS

Seribu Bangau Kertas



Seribu bangau kertas untuk sang kekasih tercinta. Di dalamnya berisikan seribu alasan yang ditulis oleh seorang cowok (sebut saja X) untuk ceweknya --berjilbab-- (sebut saja Y); nama bunga dan joko tidak berlaku. Kronologinya, Y datang ke sebuah restoran dengan X. Tiba-tiba, mengalunlah lagu favoritnya Y. Lantas seorang pelayan memberinya sebuah bangau kertas. Y membacanya hingga tersipu malu. Sorot keduanya bertatapan mesra, Y mengaku perasaannya terbang tinggi ke angkasa.

Sembari didampingi X, Y membuka bangau-bangau kertas yang ada di depannya. Hingga tibalah pada satu meja. Di sini, ratusan bangau-bangau kertas menunggu untuk dibuka. X dan Y tak pernah berhenti tersenyum satu sama lain. Oh, ternyata lebih dari itu. X menghadirkan lukisan mereka berdua yang diedit sedemikian rupa dengan warna-warni yang mencolok. "Karena kita sudah menjalani hari-hari yang berwarna. Ini juga karena ada kamu." kata X kepada Y.

Menurut pengakuan X, dia sempat diopname sehari sebelum seribu bangau kertas itu komplit dan bahkan dia berusaha menguatkan diri demi sang kekasih yang telah membuatnya bahagia tersebut. Dan di hari itu, X dan Y akhirnya bisa duduk berduaan di sebuah jembatan mungil nan cantik di tengah danau buatan yang ada di restoran itu.

Ternyata, mereka baru saja menjalani hubungannya selama 1 tahun 4 bulan!

Kisah ini memenangkan event kado paling romantis yang diadakan oleh salah satu media massa besar di Indonesia.

Oh well, mari kita telisik lebih jauh. Di sini, bukannya aku ingin mengkritisi ya. Hanya saja, aku gak ngeh dengan fakta kecil yang (barangkali) sweet ini.

Pertama, tentang lamanya hubungan. Masih setahun empat bulan. Hmmm... Itu mah, masih sebentar. Kalo diibaratkan motor, masih 1400 km. Padahal, ganti oli-nya haruslah 2000 km. Apa, ya... menurutku hubungan yang belum pasti (instead of illegal relationship), setahun empat bulan aja udah dianggap lama itu terlalu berlebihan. Toh, yang dijalani juga begitu-begitu aja kan? Kalo gak dinner, hang out, ya semacamnya lah.

Kedua, faktor yang paling bikin gak ngeh adalah, ceweknya berjilbab. Ya... maaf kalo agak anarkis gini. Tapi, apa ya. Muslimah yang berjilbab itu harusnya tahu batas. Terus, apa dong fungsi jilbabnya? Oke, aku sangat menghargai usaha si Y mengenakan jilbab. Ya, yang penting berjilbab fisik dulu. Jilbab hati menyusul.

Kuakui, menjilbabi hati memang berat banget tantangannya.
Weits... tapi, bukankah Allah telah berjanji bahwa Allah akan memberikan balasan yang sangat-lebih baik daripada di dunia. Dan, tentu saja balasan itu tidak datang dengan kita berleha-leha tanpa berusaha lebih keras dong? Iya nggak. Please deh, hidayah datang kalau kita mencari. Bukan menunggu.
Kuakui, menjilbabi hati memang tak semudah membalikkan telapak tangan.
Tapi, bukankah Allah telah berjanji akan menunjukkan orang-orang yang benar-benar berserah diri padaNya? Dan, tahukah bahwa janji Allah merupakan sesuatu yang menjadi kemutlakan? Bukankah Ia sendiri yang menjamin orang-orang yang taat padaNya dan rasulNya dengan surgaNya?

Mungkin kalian (selainku) pasti berargumen, "Lhah kan susah untuk meninggalkan seseorang yang sudah begitu lama perhatian pada kita? Apalagi dia sudah melakukan hal-hal yang romantis untuk kita?"
Percayalah, berada di zona nyaman sama dengan mengerdilkan diri sendiri dan membunuh kesempatanmu untuk berkembang! Hubungannya adalah kalau kita mempertahankan hubungan yang sudah jelas-jelas nggak halal, itu sama saja kita sudah berenang di zona nyaman yang terlalu memanjakan kita dengan bayang-bayang semu. Pikir deh, itu cowok bakal jadi jodoh kita nggak?

Wong, kita aja nggak tahu apa yang terjadi pada kita sejam yang akan datang. Apalagi sok-sok'an nentuin di jodoh kita atau nggak. Atau, mungkin komentar kalian akan seperti ini, "Aku pingin tahu dia lebih jauh sebelum aku benar-benar menjadi pasangan legalnya."

Untuk menjawabnya, aku ingin menyatakan suatu analogi. Kita ingin beli pedang yang bagus, tajam, mengilat, dan blablabla. Pilihannya adalah kita beli di toko pedang atau ke tukang besi yang buat pedang supaya sesuai dengan keinginan kita? Hayo pilih yang mana? Pasti kita bakalan milih ke tukang besi dan memesan pedang seperti apa yang kita inginkan, bukan?
Sama juga kaya cari pasangan. Kalau dunia ini diibaratkan toko pedang (orang-orang yang kemungkinan menjadi pasangan kita), maka Allah-lah sang pembuat pedang tersebut (jodoh kita). So, ya mestinya kita minta ke Allah dong. Pesen deh, sesuka kita. Kriteria cowok kaya apa yang kita pingin.

Nah, kemudian masalah harga pedang. Tentu saja harga pedang sesuai pesanan jauh lebih mahal daripada pedang instan di toko. Begitu juga ketika kita minta sama Allah tentang kriteria pasangan. Harganya tentu lebih mahal. Tapi mahalnya pasti bisa kita penuhi kalo kita memang bener-bener pingin cowok itu hadir menemani kita. Kita harus jadi sosok muslimah yang kuat, terjaga, taat pada Allah dan Rasulullah dan hanif. Karena kualitas pasangan kita adalah setara dengan kualitas kita. Allah berkata, laki-laki yang baik hanya untuk wanita-wanita yang baik. Harganya sebanding, kan? Sepakat?
Ketiga. Masalah burung bangau. Walaupun aku ngefans banget sama negeri sakura ini, tapi aku tetep lebih percaya sama ketentuan Allah daripada mitos bangau itu. Well, burung bangau yang dijadiin origami emang bagus. Tapi fungsinya kan buat pajangan doang.
Dan lagi, Allah kan selalu mendengarkan kita sekaligus Maha Pendengar, jadi kenapa nggak langsung disampaikan aja ke Allah? Iya nggak? Allah juga melihat kita. Kenapa nggak menengadah ke langit atau menunduk dalam-dalam sembari mengucapkan doa-doa tulus nan jujur dari hati kita. Oh, ayolah.... selalu ada cara lebih simple dan halal yang disediakan Allah buat hambaNya yang mau berpikir. Mending, uang buat beli kertas itu, disumbangkan aja ke panti asuhan. Lebih bermanfaat kan?

#Epek geregetan