RSS

The Precious Moments



Sweet seventeen tinggal udah H-3, aku ingin sekali flashback ke masa lalu.Hm... tiba-tiba, ketika aku membuka postinganku pertama kali di blog ini, aku merasa
"Wah, aku lucu sekali. Itulah saat-saat di mana masa kecilku berakhir"
Aku bisa merasakannya melalui tulisan-tulisanku di sini.
Saat itu, aku masih polos, belum terkontaminasi mindset-mindset apapun.



Sekali waktu ini, aku ingin Ayah dan Mama juga ngeksis di blog ini. Aku ingin menunjukkan pada dunia, ini lho orang-orang yang sangat berarti buatku. Ini lho, mereka-mereka yang nggak pernah berhenti memberikan sayang dan cintanya buatku. Merekalah, sekali lagi yang membuatku bertahan. Dan sedikit sesalku, aku baru mengetahuinya sekitar... setahun yang lalu.

Izinkan aku mereview ulang, walaupun aku tak ingat 100% kejadiannya. Tapi, biarlah ini menjadi memori terindah.

satu.
Hari itu, pertama kalinya Ayah mengucapkan, "Maaf ya, Sa. Ini memory card-nya udah ketemu." kata beliau. Yang setahuku, kalimat ini hanya diucapkan waktu sungkeman setelah shalat Ied. Karena sebelumnya, aku diinterogasi habis-habisan soal memory itu. Tapi, entah kenapa aku sudah bisa kebal dan bertahan, sabar.

dua.
Hari itu, pertama kalinya Ayah dan Mama mengucapkan "Kamu pasti bisa, Nak! Kami akan selalu mendukungmu. Lihatlah (menunjuk printer+scanner yang masih baru), ini semuanya buat kamu. Jangan putus asa, ya. Kami tahu, kau pasti mampu!" aku masih ingat, ucapan itu 2 tahun yang lalu. Dan mentari pun mulai memancarkan cahanya. Membuat suasana di ruang tamu berukuran 3x4 meter itu sesak oleh kebahagiaan.

tiga.
Ayah seringkali bilang, soal kriteria cowok-cowok yang seharusnya kupilih. Harus shalih, bisa diajak hidup bersama dan mampu berpikir. Tapi, aku baru sadar sekarang, itu benar. Padahal, aku bermain-main dengan yang namanya "the wrong love". Aku menganggap, Oh pasti semua cowok bisa diubah kok buruknya. Dan buktinya adalah mustahil selain Allah yang mengubahnya.
Ayah mana yang tak ingin putri kecilnya mendapatkan yang terbaik? Yang bisa melindungi dan bertanggung jawab atasku jika Ayahku sudah tak mampu lagi menjaga.

empat.
Mama sharing masa lalu beliau soal... cinta. Aih, kalo udah ngomong yang satu ini, pembahasannya bisa lebar. 3 hari nonstop juga bisa. Paling susah kalo udah ngomong masalah "Kamu jangan lama-lama jomblo ya... Perempuan itu susah cari jodohnya." atau
"Mama pingin kenalan sama temen-temen kamu." kata beliau.
"Temen apa, Ma? Cowok?" tanyaku pura-pura nggak ngerti.
"Iya, siapa lagi," rayunya.
"Biasa aja kok Ma, nggak ada yang spesial."
"Mbujuki yo... (Bohong ya). Tapi, ya wes lah, yang penting kamu ada yang naksir,"
Mama lho.... (''-______-)
Kalo udah gini, aku pasti bilang, "Mama... aku pingin pergi ke Jepang dulu, kuliah di sana. Pokoknya izinkan aku pergi ke Jepang setelah SMA. Aku kan masih 17 tahun, Ma. Perlu pendidikan yang lebih tinggi. Ya... ya...?"
Mama pun terdiam dan (tampak) menyerah. \(^_^)? Yesss!

lima.
Ketika aku keluar rumah terlalu lama, Mama menerorku dengan banyak telepon. Aku di mana, pulang jam berapa, sama siapa, dan lagi apa. Wajar, kurasa. Aku adalah gadis kecilnya yang akan tumbuh dewasa dan bisa saja dikibuli orang di luar sana. Suatu saat, aku pulang malam tanpa memberitahu dulu; jam 8 malam (saat itu, aku pulang jam segitu sendirian bukanlah hal wajar). Bukannya senang, aku malah mendapati wajah Mama yang setengah ingin menangis, khawatir, dan kecewa. Tapi, aku tahu sebersit kelegaan terpancar dari sudut mata beliau. Keesokan harinya, Mama bilang, "Sa, tahu nggak. Setiap kali kamu keluar, Mama selalu mendoakan kamu. Supaya kamu selamat di jalan, supaya nggak terjadi apa-apa sama kamu. Tolong jangan diulangi yang tadi malam."
Dan hingga kini, doa itulah yang jujur saja, membuatku selamat di jalan. Aku pernah beberapa kali jatuh di jalan raya, tengah jalan lagi. Tapi alhamdulillah, aku masih utuh nggak kesambar apa-apa. Aku juga pernah kena razia SIM, tapi alhamdulillah aku lolos dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Aku pernah bermotor ria di tengah hujan badai. Takut? Pasti! Tapi alhamdulillah, aku selamat sampai di rumah. Semua itu, berkat doa-doa tulus yang dipanjatkan oleh Mama tercinta.

enam.
Tak perlu kuceritakan. Intinya, pertemuanku dengan Ayah dan Mama, di hadapan mushaf Al-Qur'an.

tujuh dan seterusnya, aku tak ingat. Begitu banyak momen berharga yang diberikan Allah padaku dan kedua orang tuaku.

Allahumma Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku. Sayangilah mereka. Cintailah mereka dengan sebesar-besarnya cinta, dengan seagung-agungnya cintaMu. Berkahilah setiap langkah mereka. Dan jadikanlah keluarga kami, keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Himpunlah kami kelak dalam jannahMu. Kuatkanlah ikatan cinta di antara kami, wahai Rabbi. Berilah kami hidayahMu selalu, agar kami tetap mampu menapaki jalanMu. Amin, Amin, Ya Robbal 'Alamiin.