RSS

Pemimpin?




Berawal dari baca tag headline di salah satu TV swasta Indonesia. Teks berjalan itu bunyinya “Partai Demokrat akan mencalonkan Ani Yudhoyono menjadi Capres”.
Jadi pingin cerita sesuatu dan silakan dinikmati. :)

=========================================================================

Ketika itu, barisan topi abu-abu dan seragam putih abu-abu lengkap dengan atribut menyambut saya sebagai murid baru. Belum apa-apa, bahkan masih di pintu gerbang pun, saya terpaku menatap spanduk yang terletak tepat di depan saya. Inilah bunyinya: SELAMAT DATANG CALON PEMIMPIN PERADABAN.
Tentunya saya nggak tahu kenapa pakai dipasang spanduk begituan. Pikir saya waktu itu, ah ini paling penyambutan biasa. Kaya MOS yang di sekolah-sekolah lain, yang basisnya perpeloncoan dan pencarian kesalahan. Tapi etapi, pernyataan saya tersebut salah besar TERNYATA. Semakin saya mendekati barisan topi abu-abu itu, nyatalah di sana berjajar orang-orang yang tengah menyiapkan dirinya beserta seluruh komponen almamaternya untuk menjadi pemimpin peradaban!

Beginilah sambutan awal yang saya dapatkan dari Mbak-Mas saya di sekolah saya ini.

Ketika saya menelisik lebih jauh, justru tinggal tiga kata yang paling membekas di benak saya; “CALON PEMIMPIN PERADABAN”. Yah, kalau golongan teroris menyebutnya brainwashing, maka saya pun melakukan hal serupa. Tapi brainwashing ini murni saya lakukan sendiri dan dengan penuh kesadaran. Karena saya tahu pasti, di sekolah saya yang diajarkan hanyalah hal-hal yang baik. Mengapa? Jelas jawabannya, untuk menghasilkan CALON PEMIMPIN PERADABAN yang baik dan bertanggungjawab.
Dengan perasaan yang campuraduk antara senang, susah, bangga, marah, gatal, dan sebagainya saya diberi sebuah lagu yang berjudul KAMI PEMIMPIN BANGSA. Liriknya seperti ini:

Kami pemimpin bangsa tak kenal kata menyerah
Walaupun lelah, letih melanda
Badan ditegakkan lihat lurus ke depan
Dengan semangat baja
Jangan hiraukan tipu daya kemalasan
Pikiran jernih, hatipun suci
Dengan petunjuk Tuhan Yang Maha Pengasih
Meraih terus, Prestasi! Prestasi!

Oh, jadi inilah pribadi-pribadi yang saya hadapi di depan saya saat itu. Akhirnya, konklusi saya, seorang pemimpin bangsa itu haruslah tidak malas dan tak kenal menyerah, bekerja dengan hati yang suci. Sehingga pikiran juga jernih. Dan tentunya ini tidak lepas dari Yang Maha Kuasa, bukan? Terbukti, beberapa bulan setelahnya saya benar-benar membuktikannya. Dan setahun kemudian saya membuktikannya sendiri, via diri saya.

Baiklah, kembali lagi ke cerita awal. Begitulah hari-hari saya ketika MOS. Kami selalu diberi situasi dan kondisi di mana kami memang harus bersikap layaknya pemimpin. Saya masih ingat, ketika face to face dengan salah satu Mbak, saya ditanya. Apa bedanya pimpinan dengan pemimpin?

Saya jawab tidak ada bedanya. Begitu terus saya ditanyai. Dan dengan jawaban yang sama saya mengulang. Di batas waktu yang ditentukan, akhirnya saya diberitahu. Pimpinan itu beda dengan pemimpin. Gara-gara hal ini pula, sampai sekarang saya tidak pernah nyaman menyebut kata “pimpinan”. Jujur, saya nggak ngeh banget mendengarnya. Saya lebih suka istilah pemimpin yang mencerminkan seseorang yang dedikasinya tinggi, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.

Timbul pertanyaan, kenapa saya nggak ngeh mendengar kata “pimpinan”? Orang-orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai pimpinan, adalah orang-orang yang mengindikasikan bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak bertanggung jawab. Lihat saja, banyak orang yang menyebut bos atau kepala bagian atau ketua suatu organisasi dengan gelar pimpinan. Celakanya, orang yang disebut pimpinan malah seakan-akan lupa apa yang diembannya adalah amanah orang banyak. Nanti di akhirat itu lho ditanyai perkara kepemimpinannya. Mendengar istilah pimpinan, entah kenapa menurut survey kecil-kecilan yang saya buat; orang-orang menjadi sering kufur nikmat, gengsi, dan kejayaannya alay. Padahal nyatanya kejayaan itu fana.
Sekarang coba pikir, berapa orang yang digelari kata “Pemimpin” oleh rakyatnya? Sedikit sekali, kan? 

Kata Allah, setiap dari kita adalah pemimpin (khalifah) di bumiNya.
Kata Rasulullah, pemimpinlah yang akan mempertanggung jawabkan tugasnya di hadapan Allah
So? Masihkah kita nekad meminta-minta untuk diberi jabatan/amanah tanpa pembuktian yang layak? Mari tanya diri sendiri, apakah kita memang mampu? 
Apakah kita siap jika kelak kita akan diinterogasi mendetail mengenai kepemimpinan kita?

Kata Mario Teguh, pemimpin hanya punya dua tugas: Menciptakan tujuan beserta jalan untuk mencapainya.
Sudahkah kita memikirkannya? Sudahkah ada plan A-Z di pikiran kita?

Toh, kalaupun kita memang berkapasitas di bidangnya, Allah tahu kok. Dan Allah gak tidur. Dia pasti akan menjatuhkan amanah tersebut kepada kita. Tentu saja ini sekaligus sebagai ujian. Bila lulus, selamat! Nggak lulus? Ya Wallahu 'alam.

Jadi inget di sekolah saya, bagaimana kolengnya saya dan teman-teman bila diberi amanah yang kadang bukan kapasitas kami. Karena apa? Ya karena kita takut buat jadi PIMPINAN semata. kan sudah saya bilang, kata pimpinan itu agak gimanaa gitu. Alay barangkali. Di sekolah saya, berkat metode MOS tersebut semua orang menempatkan dirinya sebagai pemimpin. Semua memiliki tujuan terarah yang akan mengubah Smala menjadi baik lagi. Bukan. Kami ingin peradaban ini kembali menjadi baik. Kami ingin Indonesia menjadi negeri yang lebih baik dan bermartabat.

Saatnya menjadi PEMIMPIN, bukan pimpinan!