RSS

Dilema The Struggle Way


Entahlah, selama ini aku belum pernah mendengar orang tua sebagai kunci pertama untuk penunjang kesuksesan. Taat pada Allah? Tentu modal utama. Tetapi apakah kita bisa disebut taat pada Allah jika kepada orang tua saja kita masih berkata “Ah”; “Males, Ma”; “Ntar aja”; “Jangan ganggu aku dulu. Aku sibuk.”; dan beribu bentuk ucapan lain bernada sama yang sudah pasti tertuju kepada orang tua kita di kala kita sudah penuh dengan amanah.

Kita menganggap bahwa amanah adalah sesuatu yang sangat wajib dipertanggungjawabkan kelak. Tapi… dibalik itu, tentu saja, tetaplah amanah utama kita adalah menjadi seorang anak yang shalih/shalihah dan berbakti kepada kedua orang tua kita. Bukankah ini juga termasuk menaati perintah Allah?

Aku jadi bertanya-tanya, apakah kita yang selama ini selalu disibukkan dengan bejibun aktivitas, jadi melupakan kewajiban paling utama tersebut? Apakah kita yang selama ini digaung-gaungkan menjadi aktivis, jadi melupakan kewajiban untuk membantu pekerjaan rumah tangga yang tengah dilakukan Ibu kita? Apakah kita yang selama ini getol mencatat skala prioritas, sama sekali tak mencantumkan daftar "Kapan menggantikan tugas Ibu"?

Mungkin, banyak yang bilang "Di rumah adalah zona nyaman. Dan zona nyaman sangat tidak baik bagi tumbuh kembang kita. Bagi luasnya pergaulan kita dalam arti yang positif. 
Namun, lihatlah faktanya...

Saat kita terseok-seok berjalan di "The Struggle Way", siapakah yang menolong kita pertama kali dan bahkan sering mencemaskan kita?
Keluarga -- orang-orang di rumah.

Saat kita menangis di kamar, mengadukan perbuatan rekan kita yang sangat tidak berkenan, siapakah yang pertama kali tahu dan terus-menerus menasehati agar kita menguatkan diri?
Ibu -- keluarga -- orang-orang di rumah.

Saat kita kelelahan dan pulang malam karena banyaknya aktivitas hari ini, siapakah yang membuatkan kita segelas coklat panas dan roti?
Ibu -- keluarga -- orang-orang di rumah.

Tapi, begitu Ibu, atau siapapun orang-orang di rumah meminta bantuan kita, bahkan untuk sekedar datang ke acara keluarga pun, seringkali kita acuh. 
Sadarkah, lama-kelamaan kita telah terlalu banyak melontarkan kata maaf yang tak beralasan.
Bahwa selama ini kita terkesan menyisihkan mereka dari sisi bahagia kehidupan kita.
Justru, terasa semakin egois.
Dan menganggap mereka -- orang-orang di rumah itu -- sebagai penganggu.

Memang, kita memerlukan The Struggle Way,
justru, fungsinya adalah untuk menyiapkan kita menjadi pribadi yang peduli dengan lingkungan terdekat
justru, fungsinya adalah bagaimana cara kita menghargai senyum ketulusan yang selalu mereka tampakkan
dan yang lebih penting lagi adalah, ia berfungsi untuk menjadi sarana pelatihan mental kita menghadapi kehidupan tanpa melalaikan orang-orang tercinta di rumah.

Itulah fungsi The Struggle Way sebenarnya.

Ketika The Struggle Way mengikis niat-niat kita dengan kejam,
Datanglah sebuah kelembutan tanpa embel-embel imbalan yang dipancarkan dari Ibunda, Ayahanda, bahkan dari Adik dan Kakak kita
Dari mereka yang mungkin belum pernah merasakan ganasnya gelombang The Struggle Way, 
Namun selalu menyiapkan gelombang cinta yang dahsyat untuk membuat kita bertahan

Akankah kita terus mengacuhkan mereka?