RSS

Debating





Debating...
is not just writing and reading your script in your brain

It's about case building, rebuttal, repeating statement, and destroying (a.k.a menjatuhkan dengan segala cara yang terhormat) your rival.

Dan aku bukanlah orang yang bisa berpikir spontan. Ngomong juga klagep-klagep. Kalo gak penting ya gak ngomong. At least, Ijad @irsyadaneh menghasutku agar aku mau diajak jadi lomba debat. Lucunya, aku tertarik sama fase penulisan esai sebagai tahap penyisihan debat yang paling awal. Pikirku, halah onok Irsyad kok. Tapi celakanya, kami kurang seorang lagi. Karena Farhad gak bisa.

Cling... Ijad pun mencetuskan Mas Rifqi @RifqiAlfian. Wos, tambah ndewo pindho wong iki...
Yah... akhirnya, kami hanya punya waktu seminggu untuk berlatih debat ke Sir Rizal (dosen b.ing @PENS plus pelatihnya Glass).

Aku jujur, hampir putus asa. Bayangin aja, aku yang gak pernah ahli public speaking tiba-tiba disuruh jadi 2nd speaker yang fungsinya pemapar data yang buanyak dan harus hafal (lek iki relatif) dan harus disampaikan dalam waktu 3 menit 20 detik. Dan aku, biasanya speechless di depan umum! Masalahku tentu aja yang terakhir, SPEECHLESS.

Ijad dan Mas Rifqi udah mencoba berbagai cara supaya membuatku ngomong. Mulai dari ngitungin waktu lah, pidato di depan mereka lah, sampe via ngomong birama yang gak ada mirip2nya kek debat. Tapi tidak cukup efektif. Rupanya, tempaan diklat dan mos gak cukup membuatku ngomong banyak. Tapi, yoweslah. Untung temane gampang. Alhamdulillahnya, kami lolos ke semifinal.

Ugh, tapi pas itu wes aku ngomongnya gak banget (AIB). Ngeblank.

Oke, setelah selama Kamis berleha-leha, Jum'at tiba dan aku ngefull latihan @PENS. Well, gara-gara aku gak bisa ngomong, akhirnya Sir Rizal ngomong sesuatu, intinya motivasi pake Inggrisan pula (ini membuatku cepet lupa). Tapi yang jelas aku mudeng pokoknya. Dan ada sederet kalimat yang kayaknya gak bakal bisa kulupain. Intinya ae wes...

"Di sini kamu bekerja sebagai satu tim. Kamu kalo nggak berusaha, kamu akan membuat saya kecewa, membuat tim mu kecewa, dan yang lebih parah, membuat sekolahmu kecewa! Lakukanlah yang terbaik. Dan biarkan Allah yang menentukan segalanya besok. Feel the hot stage."

Yang kupikirkan adalah kekecewaan banyak pihak tambahan yang akan kutimbulkan jika aku tak berusaha.
Ketika itu, aku sudah menimbulkan kecewanya banyak pihak. Dan aku nggak mau menciptakan kekecewaan lagi bagi pihak-pihak selanjutnya. So, akhirnya aku mengingat kata-kata Mario Teguh,

"Yang dilakukan seorang pemenang adalah bukan terus mengeluh. Tetapi ia akan memanfaatkan semua hal yang bisa dia lakukan untuk mencapai tujuannya. Mencapai kesuksesannya."

Aku pun berpikir. Aku punya kelebihan dengan menulis. Maka, satu-satunya cara yang bisa kulakukan sementara dan dalam waktu yang sangat mendesak ini adalah menuliskan semua ide-ideku di sebuah skrip yang terstruktur. Cara ngomongnya, ntar aja. Pasti ada jalan!
Hm... alhamdulillah. Jadilah sebuah skrip itu. Bukan hanya kerangka, tapi naskah jadi dari apa yang akan kusampaikan waktu debat keesokan harinya.

Setelah menulis skrip, efeknya luar biasa. Aku ngomong lebih dari 3 menit! Woow. Itu sebuah prestasi bagiku. Lantas, Sir Rizal menyuruh kami (Ijad, Mas Rifqi, dan aku) untuk berteriak-teriak di luar ruangan. Sekencang-kencangnya. Ya, akhirnya aku bisa!

Dan keesokan harinya, aku meskipun agak gugup, tapi paling tidak aku sudah berbicara jauh lebih banyak. Oke, dan tim Smala masuk FINAL, tanggal 20 Mei 2012.
Kami hanya diberi waktu kurang dari 24 jam untuk merumuskan mosi "Parpol sebagai Pencetak Pemimpin Bangsa".

Di sini, aku bingung lagi. Maklum, aku udah terlalu science minded. Dan kurang mengikuti perkembangan sos-pol di Indonesia. Pelajaran PKn pun jarang. Akhirnya Sabtu malam kemarin, full time searching about parpol. Mpe kudu yaopo ngono mocone. Well, bahkan sampai Minggu pagi pun, aku masih kebingungan akan menyusun skrip seperti apa. Setali tiga uang sama Mas Rifqi dan Ijad. Walopun kenyataannya udah dipandu sama Mas Rizal. Tetep aja bingung.

But, alhamdulillah. Di menit-menit terakhir kami berhasil case building tentang apa yang akan kami bicarakan. Jadi pas maju debat, aku udah punya skrip yang ajaibnya bisa kusampaikan dengan suara yang super cepat tapi tetap bisa dicerna oleh juri dan penonton :)
Golku masuk dengan waktu yang tepat. Sebuah prestasi lagi.

Yah, perkara hasil akhir, aku sudah tak peduli lagi. Karena bagiku, lomba debat pertamaku ini menjadi rangkaian hari yang sangat indah dan berkah (semoga). Banyak pelajaran yang bisa kuambil selama 2 minggu ini. Di kompetisi ini, menang bukan berarti segepok uang, selembar piagam, dan sebuah piala. Tetapi sungguh menjadi suatu prestasi sejati, kemenangan yang berbekal usaha, doa, dan kepasrahan yang tinggi kepada Allah. Aku benar-benar mengamalkan tiga hal itu. Dan, berhasil :)

Aku sadar, tanpa Allah tim kami tidak akan membuat statement2 yang begitu memukau
Tanpa Mas Rizal, tim kami tidak akan pernah sadar bahwa sebenarnya kami mampu (terutama aku)
Tanpa Mas Rifqi, tim kami tidak akan pernah menjadi debaters yang untouchable dan superstar
Tanpa Ijad, tim kami tidak akan pernah menjadi tim dengan strengthen yang 'sangar'

Irsyad (megang piala) - Sir Rizal (megang piagam) - Mas Rifqi (the 'suangar' speaker) - and... you know who :)
Buat kalian bertiga, aku sungguh-sungguh mengucapkan terima kasih. Kalian adalah para juara yang sesungguhnya. Terima kasih karena sudah mau menemuiku di episode kehidupan kalian.
Doumo arigatou gozaimasu yo :D