RSS

Jangan Telat Po'o....


Terlambat.
(Artinya => tidak tepat waktu, molor, nelat yang tentu saja berkorelasi dengan suka menunda)

Kawan, terlambat, nelat, ngaret, molor, dan sebagainya ini... percayalah
sungguh sangat-sangat merugikan. Merugikan diri sendiri dan orang lain.

Tapi, herannya... budaya "LATE" ini sudah mengakar di masyarakat kita. Secara sadar atau tidak, budaya terlambat ditanamkan sejak kecil.
Contohnya waktu kita pertama kali sedang semangat '45 karena akan masuk sekolah pertama kita, TK. Walaupun kata Bu Guru bel baru bunyi jam 7, jam 6 pagi kita sudah merengek-rengek minta diantar saat itu juga. Ini adalah gara-gara saking semangatnya. Pasti orang tua kita bilangnya begini, "Nanti dulu, Nak... Ini masih jam enam. Masih satu jam lagi."

Eh, jam sudah menunjukkan angka 7 dan 12. Bukankah itu sudah waktunya masuk kelas? Ya, mungkin waktu itu kita belum tahu jam berapa itu. Tapi setidaknya, kita tahu bahwa matahari sudah tinggi dan seharusnya kita duduk manis di kelas. Saat itu juga, kita merayu Mama dan Papa untuk segera berangkat. "Haduh, paling-paling, Bu Guru datangnya lima menit lagi. Sebentar ya, Sayang."

Nah, akhirnya kita pun akan kebiasaan dengan jawaban-jawaban seperti itu. Jawaban-jawaban yang mengandung kata: NANTI dan SEBENTAR. Bukan menyalahkan orang tua. Ada baiknya, kita introspeksi diri lah.

Lucunya lagi, keterlambatan ini sudah mencapai tahap yang sangat parah. Bahkan, sidang paripurna DPR (lihat di sini) sampai diundur satu jam! Apalagi masalahnya kalau seluruh anggota sidang belum hadir. Nah lho. Padahal ya, sidang ini adalah sidang penting yang membahas kemakmuran rakyat. Lha kalau sidang para pemimpinnya saja terlambat, bagaimana dengan bawahan rakyatnya?

Bicara soal keterlambatan, artinya bicara soal pentingnya waktu. Ada sebuah rangkaian kata-kata bijak:
Untuk bisa menghargai waktu SATU TAHUN, tanyakan kepada orang yang gagal dalam ujian tahunannya
Untuk bisa menghargai waktu SATU HARI, tanyakan kepada wartawan media massa yang terbit harian
Untuk bisa menghargai waktu SATU DETIK, tanyakan kepada orang yang selamat dari kecelakaan


Tidak bisakah kita mencontoh Jepang, salah satu negara yang pernah menjajah kita dan menanamkan nilai kedisiplinan yang sangat tinggi kepada bangsa ini?
Kemanakah budaya super disiplin yang dulu pernah ditegakkan oleh mereka kita?

Indonesia memang terkenal ramah dan mudah bergaul.
Tetapi saya malu, karena ternyata Indonesia juga negara karet. Tentu bukan hanya dalam makna sebenarnya, tapi juga konotasinya: suka menunda dan akhirnya TERLAMBAT!

Baiklah, cara termudahnya adalah...
Instrospeksi diri. Mulailah dari diri sendiri dulu. Karena Allah akan selalu mengumpulkan kita dengan orang-orang yang cenderung berperilaku sama dengan kita.
Jangan terlambat lagi ya, Kawan.... :)