RSS

Hukuman Indonesia Raya

Hukuman yang sangat aneh.
Mestinya aku malu, eh, yang ada malah ngguya-ngguyu.

Hihihi, terima kasih ya Pak Polisi

Engkau sudah berbaik hati

Membiarkan gadis berjilbab ini pergi

Lantaran belum punya Surat Izin Mengemudi

Berdirilah aku dengan menyanyikan lagu
"Indonesia Raya, Merdeka.. Merdeka...
tanahku negeriku, yang kucinta
Indonesia Raya, Merdeka... Merdeka...
Hiduplah Indonesia Raya..."

Hm... aku tertawa... merasa lucu.

Oh, tidak.
Seharusnya aku malu, dengan lagu Indonesia Raya.
Malu karena aku telah melanggar sumpah dari para pendiri bangsa dulu

Terutama di kalimat ini, "Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku"

Bagaimana aku bisa menjadi seorang pemandu yang baik, jika aku sendiri melanggar hal yang sepele

Oh, malahan lebih seharusnya aku bersedih.

Sedih karena tak bisa menaati peraturan yang berlaku

Jujur, ada seribu perasaan berkecamuk ketika aku menyanyikan lagu Indonesia Raya di depan Pak Polisi itu. Senang (gara2 nggak dapat surat tilang), malu (suruh nyanyi lagi Indonesia Raya tp sebagai hukuman), bingung (apakah dosaku bener2 diampuni gara2 surat tilangnya nggak kudapatkan), sedih (gara2 aku sudah melanggar peraturan), apes (gara2 kena setopan pemeriksaan), pingin ketawa mulu (ndengerin suara cemprengku yg gak karuan, padahal pas jaman SMP aku ahli banget nyanyiin lagu ini) dan berbagai perasaan lainnya.

Yang jelas....

Tak ada lagi aura-aura "keagungan" Indonesia Raya.

Tak ada lagi kewibawaan yang tersirat dari lirik-lirik heroik-romannya.

Tak ada lagi kebanggaan yang muncul saat aku menyanyikannya



Pak Polisi, sebenarnya yang ingin kutanyakan saat itu adalah,

Kenapa Bapak menyuruhku menyanyi lagu kebangsaan kita lantaran tak mendapati adanya uang damai dariku?