RSS

Pepi-chan

Pembaca, kenalkan! Dia adalah salah satu adik saya yang paling kecil. Namanya Pepi-chan. Dia baru saja ulang tahun. Bukan, itu nama panggilan saya kepadanya. Nama aslinya tak perlu lah, saya publish di sini :D

Nah, baiklah. Dia adalah prototype anak balita zaman sekarang yang masyaAllah... proses pendewasaannya cepat sekali. Mainannya saja dari kecil sudah HP, laptop, dan banyak disuguhi (paling tidak, mendengarkan) cerita-cerita sinetron yang hanya pantas ditonton orang dewasa.

Pepi-chan masih berumur 6 tahun saat ini. Di sini, saya tak akan membahas kelakuannya yang seperti setengah kelakuan orang dewasa di sekitarnya. Tapi, saya ingin mengungkapkan bahwa dialah yang selalu mengingatkan saya tentang keberanian, tekad yang kuat, dan ketulusan yang justru semakin langka saya dapatkan dalam Dunia Dewasa.

Pernah, suatu ketika saya takut dan nangis, dia nyeletuk "Mbak, aku di sini sama Mbak ya. Jangan nangis, Mbak..."

Pernah, saya berjanji padanya untuk hadir di acara sekolahnya di pantai. Padahal, waktu itu, saya sedang ada banyak agenda yang penting. Saya sempatkan datang, walau sebentar untuk memenuhi janji yang mungkin, sangat sepele. Tapi, begitu saya datang, Pepi-chan langsung senang sekali. Senyumnya tak henti-henti melihat saya datang. Kata Mama, sejak pagi dia cerewet bin merepotkan. Saya tahu, betapa besar arti janji kepada seorang anak kecil. Itulah, kenapa saya memaksakan diri datang sebentar.

Ya, Pepi-chan, semoga kau tahu, you're my best little sister.

Mencari Jati Diri

Bismillah.

Jadi ini temanya Flashback 2012. Kalo sekedar flashback tanpa resolusi yo percuma ae. Dan, tiba-tiba aku teringat kata sensei (guru). Beliau bilang gini, "Kalian itu harusnya sudah menemukan jati diri. Bukan pencari jati diri lagi. Udah mau kuliah gitu masih mencari-cari..."

Aku cuma garuk-garuk kepala.

Well, menginjak usia 18 tahun, tantangan dan antitesis itu banyak sekali. Dan aku harusnya membesarkan impian untuk bisa menghadapi itu semua. Ya, tahun 2013, impian dan usaha harus lebih besar dari suguhan hidup. Percaya kan, kalau kuasa Allah jauh lebih besar?

Pelangi ada setelah mendung dan hujan, kan?
Bantuan selalu menyertai kesulitan, itu pasti
Yakinkan diri, menatap masa depan!

Dream Flowers   Rainbow Wallpaper by farwen07
Add caption

Habibie & Ainun: Full of Love

Film yang... pol romantis, sarat hikmah, dan diwarnai kesetiaan.
Cinta Mereka Sejati


*bagi yang masih bujang, wajib menonton film ini; biar punya gambaran ketika berumah tangga
*bagi yang sudah berkeluarga, malah wajib nonton; biar gak gampang selingkuh
*bagi yang sudah janda/duda, wajib juga; biar inget kalo suami/istrinya menantinya di surga

Dengarkanlah...

Dengarkanlah dengan Hatimu

"Cobalah dengar orang lain, nanti pasti kamu akan belajar lebih banyak...."

Jujur saja, berorganisasi di masyarakat jauh lebih menantang dibanding di sekolah atau di suatu komunitas. Karena, tentu faktor 'keberagaman' (anggota yang totally heterogen) lah yang menjadi penyebabnya. Meskipun, pada intinya kita itu satu tujuan, tapi tetap saja masalah penyatuan persepsi, etos kerja, dan kemampuan berorganisasi nggak bisa sama. Karena ya itu tadi, ada perbedaan prinsip yang mendasar dan lebar di antara pribadi yang menghuninya.

Dan, well aku baru saja belajar dari seseorang yang super koleris (entah orang ini mengetahui kepribadiannya atau tidak), tentang cara mendengarkan orang lain. Beliau adalah salah satu Dewan Pembina di Remas (Remaja Masjid). Beliau SD memang nggak tamat, tapi kemauan untuk belajar dari lingkungan, alam, dan kekayaan dalam masyarakat plus ngaji, masyaAllah, itulah yang membuat sosok ini menjadi segelintir orang 'super' di kampungku yang... yah, bisa dikatakan masyarakatnya masih terlalu sederhana dalam berpikir.

Aku sendiri, mengenal organisasi dari sekolahku tercinta, Smala. Aku berkecimpung di beberapa organisasi. Tetapi, namanya juga masih remaja, kan? Pasti masih terbalut emosi yang meluap-luap dan susah dimengerti. Tahulah ya, remaja cewek. Baru seneng-senengnya. Alhamdulillah, positif. Kan yang penting nggak terjerumus di bidang negatif.

Karena 'merasa' sudah mendapatkan bekal yang cukup dari sekolah, aku pun ingin menjajal yang di rumah. Soalnya di rumah cuma ada Remas, lagi pula, di TPA tempat Remas bernaung, aku dulu sempat menjadi santrinya. Jadi, apa salahnya kalau aku mencoba mengabdi di sana. :)
Baiklah, aku pun mulai sotoy dan masih bingung menyesuaikan. Di sekolah dan di Remas, jauhnya seperti langit dan bumi.

Di sekolah, pantesan semua berjalan lancar. satu komunitas, satu latar belakang, satu prinsip, satu tujuan. Enak, udah sama semua. Tinggal meningkatkan etos kerja. Lah di Remas, beda prinsip, beda latar belakang, beda komunitas! Bagaimanakah menyatukan orang dengan sebegitu banyaknya perbedaan? Oh, jadi gini ya, susahnya kalo jadi Presiden, hehehe.
Mau ngambil keputusan gini, ntar yang sana masih nggak ngerti. Mau gitu, yang Dewan Pembina nolak. Mau pergi ke sana, beberapa komunitas gak setuju. Ya Allah, banyak tantangannya.

Katanya Uti (eyang putri) yang biasa kuajak curhat, simpel aja, "Yo, jenenge ae wong akeh (namanya saja orang banyak). Mau diapakan lagi? Kamu ndak bisa menyamakan, Ndhuk,"

Walopun aku gak jadi ketua, tapi biasanya aku menjadi inisiator. Soalnya, ketuanya sendiri nggak pernah punya pengalaman organisasi. Duh, kan? Ini tambah gimana gitu ya?? Muncullah perasaan superior, astaghfirullah. Aku tau, itu nggak boleh. Tapi ya mau gimana? Ketuanya jauh lebih plegmatis (lagi-lagi Ketuanya nggak tau kepribadiannya tipe apa) dariku :(

Dan, salah satu Dewan Pembina Remas yang kusebutkan di atas cuma ngomong simpel, "Kamu itu cuma perlu komunikasi, Nis. Kalo kamu pinter koordinasi, bisa komunikasi, apapun lancar. Coba dengarkan orang lain. Belajarlah dari sana," oke Pak.

Oke. Sekarang, kita fokus pada kegiatan mendengarkan. Jauh-jauh hari sebelum menulis post ini, aku sudah berkali-kali mendapatkan kalimat itu: DENGARKAN ORANG LAIN, MAKA MEREKA AKAN MENDENGARMU.

Ya, tapi mendengarkan yang seperti apa. Perasaan, selama ini aku sudah mendengarkan orang lain. Ng... aku juga sudah mencoba memahami orang lain. Tapi, kenapa aku masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya? Kenapa aku masih saja ketakutan berpijak di kaki sendiri?

Ternyata, malam ini, aku menemukan sebabnya:
- Cara mendengarkanku kurang benar. Aku menggunakan kata 'perasaan', yang masih berarti ada keraguan di dalamnya.
- Kurang mempertahankan prinsip. Prinsip apa? Prinsip yang sesuai dengan syariatNya dan qadarullah yang terjadi pada diri kita.

Hei, mendengarkan 'maksud' orang lain, beda dengan mendengarkan 'perkataan'nya. Maksud, seringkali terletak di dalam hati yang implisit. Dan hanya orang-orang yang peka-lah yang bisa mengerti maksud orang lain.

Maka, setiap kali orang-orang di sekitarmu bereaksi atas sesuatu, mengatakan sesuatu, pahami maksud mereka. Dengarlah perkataan mereka. Maka kau akan belajar sesuatu darinya.

3 Kunci Sukses

Baru dapet materi TFT dari Uswah Student Center. Kemarin, berasa gimanaa gitu. Meskipun belum jadi trainer, tapi well setidaknya aku bisa mencuri sedikit ilmu dari Kak Ilo @hermansusilo dan Kak Syam @tanyasyamsudin.

Berpikir Positif : as always, di mana-mana, berpikir positif itu adalah yang paling penting. Soalnya, Allah itu sesuai prasangka hambaNya. Jadi, ya berpikir positif sajalah :)
Toh, nggak ada ruginya. Justru dengan kita berpikir positif ini, akan menghambat proses penuaan dini.

Pro-Aktif : beda dengan re-aktif. Kalau reaktif itu hanya akan melakukan ketika mendapat permintaan. Tapi orang-orang proaktif sudah jelas orientasinya ke mana, apa saja dan apa yang harus dia lakukan. Lebih-lebih, orang proaktif memiliki motivasi yang besar untuk tetap stay closed dengan tujuannya melalui langkah-langkah efektifnya. Sifat proaktif, juga nggak asal merespon. Hanya merespon sesuatu yang perlu dan penting direspon

Terbuka : Mind-nya terbuka dan nggak terbelanggu dengan rantai gajah. Apa itu? Ketakutan yang nggak ada alasannya dan hanya dibuat-buat oleh pikiran kita sendiri. Rantai gajah itu, terbentuk melalui kebiasaan. Sehingga, muncullah semacam mind-blocked yang membuat kita enggan melakukan sesuatu yang baru. Caranya adalah: self-asking secara kontinyu sampai rasa takut itu hilang dengan sendirinya.

Key of Succes

Agak susah sih, kalo buat orang yang mendapatkan rantai gajah ini dari tradisi orang tua/saudara yang mendidiknya. Karena ya mau gimana lagi, masa kecil kan dihabiskan dengan mereka. Apalagi, golden periodic ada di masa-masa tersebut.

Triknya, sering-sering aja kumpul sama orang baik yang pemberani ato nonton film yang tokoh utamanya pemberani seperti 3 Idiots. Kalo punya temen pemberani, masak iya sih kita tetep memertahankan ketakutan kita. Lama-lama, insyaAllah kita juga akan ikut berani dengan cara yang benar. Kalo sering nonton film dengan tokoh utama yang pemberani, pola pikir kita sedikit demi sedikit akan ikut berubah kok. Berubah menjadi orang baik dan benar yang pemberani.

Keep learning!

Puzzle Pertama Kesederhanaan

Setelah mengalami berkali-kali remidi Fisika, sudah saatnya aku berpikir:

Aku mungkin bukan orang yang terlalu rumit memandang sesuatu. Dan aku memang tidak dilahirkan untuk menghadapi sesuatu yang rumit. Sekarang aku baru tahu, apa yang dimaksud Mama dengan 'cara hidup sederhana'.

Karena memang tidak semua orang ditakdirkan menghadapi masalah-masalah rumit dalam hidupnya. Dan tentu saja itu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Ya kan?

Simpulannya adalah, jalani saja hidup ini. Allah sudah emngatur semua skenario sejak kita belum ada. Sudah paten itu. Telah tertulis atas rezeki, jodoh, kehidupan, dan kematian. Ngapain pake ribet? Asal kita mau sedikit usaha. :)

Semangat dong !

When I'm Being "Galau"

Saat semuanya tak sesuai harapan...

 1. Makan cokelat banyak-banyak. Terbukti, cokelat bisa menurunkan rasa marah-marah dan jengkel. Sebaliknya, cokelat itu, bisa meningkatkan rasa gembira. Gak percaya? Dicoba deh. Ng... tapi, buat yang kelebihan BB (udah tau singkatannya kan), jangan kebanyakan yah makannya.

2. Bolak-balik halaman Qur'an. Cari ayat yang bisa menghibur hati. Menguatkan hati itu ternyata jauh lebih penting daripada menguatkan menguji kekuatan gigi dengan banyak-banyak makan cokelat :)
Wudhu, shalat, istighfar juga recommended banget bagi yang muslim. Intinya, berdoa. Memohon biar gak galau lagi.

3. Nulis. Apapun yang ada di kepala, kukeluarkan dalam paragraf-paragraf singkat di laptop. Kadang, laptop juga jadi sasaran amukanku dengan menggebrak-gebrak keyboardnya. Lalu kusesali karena habis itu ternyata laptopku heng. ^_^. Yah, kalo bukan nulis, lakukanlah hobimu. Sesukamu.

4. Curhat sama sohib-sohib seperjuangan (ceileh). Tapi asli, curhat sama mereka, serasa ada embun penyegar atau mata air yang menyegarkan di tengah gurun pasir galau. Great thanks to them. You all bring me back to His path, Ukhti... Jazakillah. Btw, apa itu sohib seperjuangan ya? Yaitu mereka-mereka yang bersamaku membentuk sebuah bangunan kokoh, di mana jika salah satu bangunan itu nggak terisi, maka ia akan runtuh seketika. #DakwahSekolah

5. Represhing singkat, naik motor terus keliling Surabaya. Ngabisin bensin, entahlah mau ke Kampung Ilmu Jalan Semarang, Togamas Pucang, Togamas Diponegoro, ato cuma mampir buat beli es krim di KFC Delta.

6. Nangis dan kemudian terTidur. Adalah cara terakhir dan teraman plus ternyaman. Beningkan dulu hati, baru dihadapi esok pagi. Kita perlu kepala jernih untuk berpikir ulang menghadapi masalah-masalah yang ada.

^_^

5 cm.


kita perlu...

~ tangan yang bekerja keras lebih dari biasanya
~ kaki yang melangkah lebih jauh dari biasanya
~ mata yang melihat lebih lama dari biasanya
~ leher yang selalu melihat jauh ke depan
~ tekad yang seribu kali lebih kuat
~ dan mulut yang akan terus berdoa

letakkan mimpi itu 5 cm di depan matamu
agar ia tak mudah hilang dari jangkauanmu

Add caption

Tentang Husnudzon

Kembalikan masalahmu pada Allah
Tidak.

Tidak ada yang perlu disikapi secara berlebihan dalam hidup ini.
Teoriku tentang hidup itu ya cuma ada tiga:

1. Segala kemungkinan hidup itu bisa saja terjadi; mau sejuta, sepuluh juta, bisa. Tapi, yang namanya pilihan itu tetep aja cuma dua. Tolong, ini jangan dibantah.

2. Untuk menghadapinya, dibutuhkan kesungguhan dan keikhlasan dalam melakukan persiapan. Dalam hal apa? Ya apa saja. Mulai dari kesiapan pribadi, mental, materi, apapun. Terutama, kesiapan rohani. Supaya kalo kemungkinan itu menyakitkan hati, kita masih punya stok rohani yang lapang dan pikiran jernih, seluas telaga. Dan itu adalah pemberian terindah dari Allah Yang Maha Bijaksana.

3. Tetaplah menjadi orang jujur yang kuat untuk terus berusaha, belajar, dan berdoa padaNya. Karena Allah mencintai kejujuran dan kekuatan hati yang berserah diri, setelah berusaha. Setelah itu, tawakkal saja. Tak ada yang perlu dirisaukan. Karena sekali lagi, apa yang terbaik menurut Allah, mungkin tidak menurut kita (Al-Baqarah:216).

Karena hidup itu adalah sebuah puzzle yang kita tak pernah tahu wujud lengkapnya seperti apa. Iya, kan? Biarlah Allah yang berkehendak. Toh, kita ini milikNya. Asal kita tetap berusaha fastabiqul khairat dan mencari ridhoNya dalam segala aktivitas kita. Asal di sisi kita ada Allah, maka apa yang harus kita takutkan?

How to Make the Best of Lectures at School

Reblogged from this


As Muslims, we must be proficient in whatever we do: be it our worship, our career, or our academic lives. The Muslims in the so-called ‘Dark Ages’ excelled not only in Islamic sciences, but advanced sciences of medicine, astronomy, and mathematics. The host of contributions in that golden age could not have been possible without their self-discipline in both their ‘Ibaadah(worship) and in their academic routines. Both in our quests for Islamic knowledge and that of the worldly sciences, we must make the most of the resources available to us.  The time spent during school lectures is the best time to glean and retain information – so how can we make the most of this time? Read on!
  • Pray First, pray sincerely to Allah to grant you knowledge. Here are two du’as that you can incorporate into your routine:
    • On waking up in the morning, read the following du’a: Allaahumma ‘innee ‘as’aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan tayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. O Allah, I ask You for knowledge that is of benefit, a good provision, and deeds that will be accepted . [i]
    • Read the following du’a from the Qu’ran (Surah Taha, verse 114): Rabbi Ziddni ‘Ilmaa. My Lord, increase me in knowledge.

  • Be Involved – During the lecture, try to be as actively involved as possible. Ask questions if you don’t understand something, or offer your opinion on any of the points mentioned. This will help you retain and understand material much better than if you just listen passively!

  • Focus – Don’t be afraid to sit in the front row – it helps you avoid distraction. Needless to say, your cellphone must also be safely tucked away so that you don’t get tempted to text someone (or to Google the lecture material)!

  • Plan and prepare – Go over notes from the last class before the next lecture. If you can arrive 10 minutes before your class begins, this is the best time to scan your previous notes. It is also good to get an idea of the lecture material ahead of the lecture by getting copies of the syllabus or course outline. If possible, get previous exam papers from the same lecturer so that you know which points to focus on during class.

  • Eat well – Have a healthy snack before the lecture. This is vital as numerous studies show the relationship between a good breakfasts and attention levels at school.

  • Make great notes – There are more than a few ways to make better notes; and your notes are the best aid to retaining information.
    • Make your notes colorful and interesting. Carry colored pens and highlighters with you so you can quickly emphasize the important points during the lecture. Use colored index tabs or sticky notes to neatly organize your notes.
    • Write clearly. Although this might seem unnecessary, I cannot emphasize the importance of this. There have been times when I have not understood formulae or concepts because my handwriting simply was not legible enough!
    • Try learning shorthand so that you can write quicker in class and spend more time listening. The most common methods of shorthand are Gregg’s, Pitman and Teeline. Learning shorthand will be worth your time and will be useful in any career you choose in the future.
    • I have recently discovered the Cornell method, which is a highly effective way to condense and organize your notes. This process was developed in the 50s by Walter Pauk of Cornell University, and it will help you enormously when it is time to study for your exams! See a sample of the Cornell method below:How to Make the Best of Lectures at School

Build My Future

Di saat mereka ketawa-ketiwi gembira,
mungkin belum saatnya.
Di saat mereka jalan-jalan ke sana-sini, nenteng ini itu,
sama; belum saatnya juga.
Di saat mereka cerita habis beli ini itu,
juga belum saatnya.

Hahaha.
Tak apa.
Belum saatnya bukan berarti tak bisa
Hanya saja menundanya untuk hal yang lebih penting

Dewasa dulu,
senang-senangnya nanti
pasti ada waktunya.

^_^

Kotak

Lagi ngerjain tugas seni rupa tentang desain eksterior rumah...
Hm... semoga saja Pak Taufik nggak ngomel kalo desainku melengkung-melengkung begini.
Hihihi ^_^

Kemarin sih, nyontohin anak-anak di papan tulis desain rumah kotak yang berlapis genteng segitiga. Klasik sih, modelnya. Tapi keren, soalnya beliaunya bisa memadupadankan desain klasik dan modern di bagian depan pintu rumah. So sweet deh, pokoknya.

Well, mungkin di sini aku nggak akan bahas apa itu desain eksterior dan gimana gambarnya ya. Just give my private feeling to my design which is absolutely "not using square design".
Nggak tau, ya nggak suka aja sama desain rumah yang pasaran (baca: berbentuk kotak).
Entah kenapa, aku lebih memilih lingkaran. Setengah lingkaran dengan outfit yang juga nggak begitu mencolok, tapi adem dipandang.

Hm, karena kotak itu, menurutku...
1. Lambang keteraturan
Ya, semua memang perlu keteraturan. Tapi, entahlah aku agak antitesis dengan yang satu ini. (Seeing my bedroom appearance...). Aku cuma suka keteraturan yang sifatnya nggak ngekang. Sementara kotak, harus dikekang dengan 8 titik sudut, 12 rusuk, dan 6 sisi. Wuah, banyak!
Dan lingkaran (tabung) adalah satu-satunya bangun ruang yang cuma punya 2 rusuk dan 3 sisi. Tanpa titik sudut. Berasa free \(^_^)/

2. Ada titik awal dan akhir
Semua emang ada awal dan akhir, tapi itu kehidupan di dunia. Sementara di akhirat? Ada awalnya, tapi nggak ada akhirnya. Kekal. Entah di surga. Entah di neraka.
Kotak, mempunyai titik awal dan titik akhir. Bahkan untuk membuat garisnya pun cenderung terpisah-pisah. Sementara tabung, tinggal 2 garis di tepi, sambunglah dengan dua lingkaran sempurna di atas dan bawahnya. Garis pun lantas menyambung menjadi satu dengan mudah. Yang lebih penting, nggak pernah berakhir.

3. Statis
Kotak kan nggak bisa menggelinding dengan sendirinya. Mesti harus diberi gaya yang jauh lebih besar daripada tabung untuk membuatnya bergerak. Tapi tabung, dengan sedikit gaya saja, ia akan langsung bereaksi secara spontan.

Jadi Orang Jujur

Be Honest

Aku kok semakin merasa aneh pada Dunia Dewasa ini ya. Ada saja hal baru tiap hari yang kadang-kadang bikin roller-coaster di hati. Sumpah.

Dan, kali ini aku mendapati bahwa:
SEMAKIN ORANG BERTAMBAH USIA, TINGKAT KEJUJURAN MEREKA SEMAKIN MENURUN
*Sigh.

Dan untuk ini, aku pun menemukan berbagai alasan. Bagiku, yang paling konyol tentu saja seperti ini, aku nggak jujur demi kebaikan bersama.  Bersama opone, yang ada itu untuk kepentingan dirimu dan golonganmu, Nak. #Sarkas

Tapi well, kalo memang niatnya untuk kebaikan bersama, gunakanlah ketidakjujuran untuk sesuatu yang benar. Misal, lagi suka sama lawan jenis (kepentok VMJ ceritanya), ya jangan jujur ke orangnya. Ntar berabe jadinya. Cius nih. Jujurnya ke Allah aja. Nanti, pasti ada waktunya untuk jujur yang model seperti ini. 

Misalnya, lagi nolong temen yang butuh perlindungan dari penjahat. Ya masa tega sih nunjukin tempat temenmu sembunyi. Itu namanya sama dengan menusuk temen dari belakang. Sama saja dengan mengkhianati temen sendiri. Innalillahi. Jangan sampe ya.

Kalo gini, jadi inget soal PPKn waktu SD yang berbunyi, "Kalau mengerjakan ujian, dilarang..."
Jawabannya pasti nyontek (baca: tidak jujur). Nah, aneh aja. Ketika kecil dan menjadi 'sang pembelajar' kita diajari jujur, tetapi kenapa justru sekarang ketika kita menjadi 'sang pengajar', kita sendiri tidak jujur? 

Padahal kita pun sebenarnya sedang mengajarkan kepada mereka, adik-adik kita, tentang kejujuran itu sendiri. Tidak sadarkah kita ketika suatu saat, adik-adik kita mencoba berbohong lantas kita berkata, "Dik, jangan bohong sama Kakak ya"? Lalu, kenapa justru kita sendiri yang mengadakan kebohongan-kebohongan?

Harusnya, ketika umur kita semakin bertambah, kita memang seakan-akan mengetahui segalanya. Kita juga lebih paham implisitnya makna kehidupan ini. Tapi jangan jadikan pengetahuan ini untuk ketidakjujuran. Beda kasus. Karena implisitnya makna itu adalah tentang kerahasiaan, bukan ketidakjujuran.

Jadi, jangan salahkan negara Indonesia kalo dari dulu statusnya masih "negara berkembang" karena memang perkembangan kejujuran masyarakatnya lambat sekali. Mereka, di negara-negara maju, justru hidupnya jujur. Mereka lebih sportif, terbuka, dan lebih legowo dari kita yang bahkan lebih ngerti arti kata legowo. Kata-kata itu rasanya cuma diketahui maknanya tanpa tahu aplikasinya. Ffffuu.

Jujur itu awalnya memang pahit, tapi hasil akhirnya akan sangat manis. Lebih manis daripada madu. Seperti kata Rasulullah (diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud R.A) "Wajib atas kalian semua untuk jujur, karena jujur akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Seseorang senantiasa berbuat jujur dan memilih kejujuran sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta akan membawa kepada keburukan. Dan keburukan akan menyeret ke neraka. Seorang hamba senantiasa berdusta dan dia memilih kedustaan, sheingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta."

HR. Al-Bukhari-Muslim

Kurang apa tuh? Jujur = Surga!

Take it, or leave it!

Keep the Track

This can be, how I really get too lonely.

Sometimes there isn't an obvious explanation 
Why the holiest hearts can feel the strongest palpitations
That's when you can build a bridge of light,  

That's what turns the wrongs all right  
That's when you can't give up the fight
That's when love turns nighttime into day, 

That's when loneliness goes away,  
That's why you gotta be strong tonight,  
Only love can build us a bridge of light

About Love. Even I've forgotten how to take and give the love to others. 
I just, feel that I'm in the wrong situation.
Can you all, teach me (once again) how to share a love?

Tell me please.
I need it.
And I didn't want to lose it, again.

Ikhlas vs Kepercayaan


Just do it

Gadis itu mengeluarkan semua uangnya berjumlah Rp 20.000,00 yang terdiri atas pecahan  sepuluh ribu, lima ribu, dan sisanya seribuan. Pinginnya sih dimasukan dompet, tapi karena dompetnya masih ada di dalam tas, ia pun menunduk lagi, mengaduk isi tas, mencari dompetnya.

Setelah dompetnya ketemu, ia kaget, "Lhoh, uang sepuluh ribuku ke mana? Aku yakin banget tadi ngelihat ada uang warna ungu itu..."
Wajahnya pucat. Ia bingung. Hari Senin masih 4 hari lagi. Tinggal itulah sisa uangnya. Ia langsung terbayang bensin dan pulsanya yang habis. "Pasti nggak boleh minta lagi," tapi ia terus berpikir positif.

Lantas, duduklah sahabatnya yang ikutan panik melihatnya bingung. "Kamu cari apa, sih?"
"Uangku 10 rb... Duh, di mana ya? Perasaan, aku tadi naruh uang Rp 10.000, 00 di sini..." kata gadis itu sambil mengecek ke sekitar tempat duduk dan tasnya. Nihil.
Hatinya berkata, ya udahlah, pasrahkan saja... Pasti ada ganti yang lebih baik, kok.

Tiba-tiba, sahabatnya bertanya, "Kamu, percaya sama orang nggak?"
"Ya, tergantung sih. Kalo aku udah kenal banget dan tahu watak orang itu seperti apa, atau aku nggak kenal orang itu sama sekali, aku nggak percaya2 amat sama dia. Tapi kalo orang itu biasa aja, dan kenalnya dengan aku pun sebatas kenal, aku percaya."
Sahabatnya itu, tersenyum2 sendiri, "Kamu biasa positive thinking sama orang, nggak?"
"Tergantung, sih. Kalo lagi mood baik, every person is kind. Kalo lagi jelek, ugh, bisa jadi jelek semuanya."
"Terus, sekarang, moodmu apa?" tambah lama, sahabatnya itu makin aneh pertanyaannya.
"Setengah-setengah," bingung lebih tepatnya.

"Hahahahahaha. Kasihan aku sama kamu. Nih, kukembaliin uangnya. Kenapa nggak curiga sama aku sih, kan cuma aku yang di sebelahmu..."
kata sahabatnya itu sambil mengipas-ngipaskan uang 10 ribu ke hadapannya.

Dan, sisa hari itu menjadi indah plus berkah. Mereka pun tertawa. Pergilah kau, wahai kesedihan....

Nyaman cs Prestasi?


Jauh, kawan... Kondisi kita jauh dari mereka.  
Empat orang masuk ke kelasku, tepatnya Bapak-bapak komite sekolah sih. And then, setelah mereka menjelaskan keperluannya, salah satu temenku usul (ini merupakan uneg-uneg seluruh anak kelas 12 sakjane);
"Pak, kelasnya panas. Kenapa kelasnya nggak dipasangi AC sih?"
"Iya, jadinya suasana belajar nggak kondusif, nggak enak, dll,"

Kapan kita mendapat kesempatan seperti ini?

Dan, Paknya cuma bisa tersenyum dan bilang, "Anda itu kepanasan di sini karena di mobil, di rumah, di mall, di mana-mana terbiasa memakai AC... Kalau di sini kan nggak. Iya, kan?"

Speechless sudah temanku. Dan dia menghadap ke belakang, berbisik sambil kipas-kipas, "Panasnya..."
ke-GR-an, aku manggut-manggut ngerti.

Baiklah, actually, I'm totally agree with the old man, guys. Ya, yang ngerasa panas juga all student yang kelasnya di koridor kelas 12. Termasuk aku, kamu, dan penghuni koridor itu.
Tapi, aku jadi kepikiran sama zona nyaman. Dulu, waktu pengaderan, bukankah kita semua sering mendengar para Mbak-Mas bersabda, "Keluar dari zona nyaman kalian!"

Keluar dari Zona Nyaman :)


Nah, bukankah dengan tidak adanya AC ini juga merupakan salah satu kondisi yang "tidak nyaman"? Panas, memang. Aku baca di Yahoo! hari ini kalo Surabaya sedang dalam suhu 38 derajat celcius. Berasa demam, ya? Surabaya lagi demam nih. :)

Entah kenapa hujan tak kunjung tiba (lagi). Aku hanya mencium bau-bauan air yang menggantung di langit dan bersatu dengan pepohonan yang tersisa di sekelilingku :(

Well, balik lagi soal zona nyaman... Kembali lagi, aku ditampar sebuah memori dari zaman kelas 10.
Tiba-tiba, aku diingatkan tentang potret anak-anak Afrika, Palestina, dan negara-negara berkonflik. Negara yang gersang, yang panasnya lebih dari 38 derajat celcius, yang bahkan bajunya pun mungkin tak selayak baju kita di sini. Yang makanannya mungkin hanya seekor binatang atau gandum, tanpa es buah, es teh, es krim, atau es-es lainnya yang bikin tenggorokan seger.

Mereka masih mau belajar lho :)


Jauh, kawan... Kondisi kita jauh dari mereka.

Sekali lagi aku bertanya, haruskah kita terus mengeluh, ketika kita harus menahan diri dengan materi dan kondisi seperti itu? Bukankah nanti, di rumah, pasti kita akan kembali disambut ruangan yang ber-AC (tapi rumahku nggak ada AC-nya, karena memang jendelanya banyak sekali).

Anak-anak Papua


Pernahkah membayangkan, bahwa suatu hari mungkin kondisi kita lebih dari sekedar kepanasan dan kepuyengan memikirkan banyak hal. Lebih parah dari kondisi kita sekarang. Jadi, masalah AC mungkin tak sebesar masalah ketika harus remidi Fisika, Kimia, Bio. Ah, buktinya, anak-anak pedalaman yang belajar tanpa AC pun, mereka jauh lebih berprestasi daripada kita yang sering merengek minta ini itu kepada orang tua. Mereka yang ada nun di perbatasan sana, justru mengambil nilai-nilai kehidupan, lebih dari kita yang bergelimang fasilitas.

Teringat pesan Bundo nya Alif,

Tempat belajar itu penting, Nak. Tetapi kesungguhan hati itulah yang lebih utama


Tenang.... masih ada kipas angin dan kipas tangan. ^_^

Passing

Hari ini, di sekolah ada tes passing. Passing voli, maksudnya. Passing atas dan passing bawah
Terus, well, really i don't feel so good today. Sadly, setelah pengurangan bola hingga jadi 4 biji, aku dapet bola yang sedikit lebih berat dari bola puith yang kemarin kubuat latihan...
Meskipun kalo aku pake bola putih yang ringan dan easy catching itu, lemparanku bakalan lebih mantap dan tinggi. But well. Daijoubu ne.
Mungkin sudah takdirnya. (*lebaynya... urusan bola aja mpe ke gini) :)

Alhamdulillah, tadi aku dapet porsi latihan lagi. Dari sini, aku udah ngerasa nggak enak. Nggak tahu. Ya, ada yang aneh aja gitu. Nggak nyaman, lebih tepatnya. Entah apa, tapi aku nggak tahu. Yang kubisa ya, lempar dan pantulkan bolanya sebisa mungkin. Syaratnya biar lulus, aku wajib passing bawah lima kali dan atas lima kali.

Begitu aku dinilai, entah kenapa aku nggak bisa santai kaya latihan minggu kemarin. Aneh, rasanya bola yang kupakai datang lebih cepat dan aku kewalahan. Alhasil, lemparanku tidak begitu banyak. Sekali lagi, meski sulit, aku bersyukur dalam hati karena tercetak angka 43 dalam kolom penilaian.

Tapi, saat aku melihat nilai teman-temanku yang ndewo... ah, mungkin remidi. Jumlah passing yang gak karu-karuan berjumlah 43 itu rasanya masih kurang memenuhi target.  Hei, aku sedih sementara? Mungkin. Setelah itu, pembacaan nama-nama yang remidi, aku berhasil lolos dari remidi passing voli itu. Ah, leganya. Alhamdulillah.

Mungkin aku sudah ditakdirkan menggunakan bola yang lebih berat dari yang kupakai saat latihan. Mungkin aku sudah ditakdirkan terjatuh ketika tes. Dan mungkin aku ditakdirkan melemparkan bola voli itu sebanyak 43 lemparan. Tapi, matematika Allah nggak sama dengan matematikan manusia kan? Bisa saja, guruku melihat dari hal lain dariku. Yang entah itu apa.

Benar, Allah itu Maha Melihat. Melihat latihan-latihanku di lapangan tengah kemarin.
Benar, Allah akan memberikan bola yang lebih berat ketika aku sudah menguasai bola yang ringan. Itu artinya, benar, bahwa Allah akan memberikan ujian yang lebih berat hingga aku mampu memperbaiki kualitas diriku.

Alhamdulillah.

Passed

Just be Patience


Terkadang, di awal kita harus menjadi orang yang sama sekali berbeda untuk mencapai apa tujuan kita. 
Sulit?
Tidak, selama kau tetap mau dan mampu membesarkan cita-citamu;
Menyertakan Allah di setiap langkahmu

The Dream

Banyak yang ngomong soal mimpi. Tapi, merealisasikan mimpi itu penuh liku-liku nggak sih ?
Iya dong. Nah, menurutku, merealisasikan mimpi sendiri itu seperti going an extra miles. Kita harus berusaha, mikir, dan berdoa ekstra supaya mimpi kita benar-benar terwujud. Dan tersadarlah aku pas mau tidur tadi malam:

Mimpi memang membawamu sukses, tapi pencapaian mimpi adalah sebuah perjalanan seorang manusia. Misalkan, sekarang inilah rumahmu. Mimpimu ada jauh di seberang sana. Dan kau ingin menggapainya. Maka, sebelum melangkah keluar, Niatkanlah untuk hal yang baik. Ketika kau keluar dari pintu pagar, jalan pertama yang kau lalui bernama Do'a. Di sini, kau bisa meminta apa saja kepada Allah -terutama untuk kekuatan hati dan keimanan-, mintalah. InsyaAllah dia akan mengabulkan.

Kini di ujung jalan pertama ada sebuah gunung yang sangat tinggi. Ia disebut gunung usaha. Merasa malas mendakinya? Please, di balik gunung itu ada mimpimu! Ada kebahagiaan yang besar di sana. Dan ingatlah, kau memiliki bekal yang tak terbatas untuk mendaki gunung itu! At least, kau punya Allah. Dengan namaNya, apapun kegiatanmu menjadi ringan, karena ada Dia yang selalu siap membantumu. Hati-hati, seimbangkan dirimu agar tak jatuh. Jurang di sebelah kirimu sangat dalam. Hati-hati. SEIMBANGKAN DIRIMU.

Medan paling terjal tentulah dijumpai di gunung itu. Tak apa, ini hanyalah rintangan kecil. Kau mampu melewatinya. Merasa tak suka dan mual? Percayalah, semua itu ada obatnya: fokuslah dengan mimpimu. Masih banyak yang harus kau pikirkan selain rasa sakit itu. Jangan coba-coba memprovokasi otak dengan hal-hal yang tak penting seperti itu. Terus motivasi hati dan perasaanmu. Sekali lagi, ketika kau kehilangan kekuatan, mintalah padaNya. Jangan putus asa. Jangan menyerah!

Merasa hilang arah dan terluka? Kembalikan dirimu dulu kepada Penciptamu. Kembalikanlah hatimu ke jalan yang benar. Lalu, bangkitlah pelan-pelan. Tidak apa-apa. Kau bukan malaikat, bukan? Mungkin kau perlu beristirahat sejenak atas perjalananmu. Allah tahu itu, kok. Ingat, tetap melangkah dengan namaNya ya. Tak perlu takut. Ada yang selalu menjaga dan mengawasimu. Kau aman.

Menemukan teman seperjalanan? Silakan diterima bila ia searah denganmu. Kalau tidak, tak perlu ragu mengatakan pada temanmu itu. Tentunya, perjalanan panjangmu tak akan membosankan. Ada ia yang mengajakmu bercanda, membagi bekal, semangat, sekaligus saling mengingatkan tentang tujuan. Mimpimu. Berbahagialah.

Lihat, di ujung itu, sebuah sinar telah menunggumu. Ia sangat indah, bukan? Jauh melebihi bayanganmu. Begitulah, doa dan usaha mu telah didengarkan olehNya. Tentunya, itu sebanding dengan kesulitan-kesulitanmu di tengah jalan tadi. Bukan begitu?

See u @mimpiku.

Dunia Dewasa

Novel yang intinya berkisah tentang bagaimana cara mengalah yang benar.

A gift from my friend, yang nggak nyangka ternyata isinya sangat berbobot (emang bacanya totally mikir) dan sangat menohok untukku.

Isinya penuh dengan benturan-benturan. Tapi, dengan novel ini aku mendapatkan sedikit gambaran; gimana sih dunia dewasa  itu. Berhubung sekarang sedang memasuki fase dewasa tanggung. Belum sepenuhnya dewasa. Yang jelas, masih berkutat dengan idealisme membara dan tanpa sadar terselip keegoisan di sana-sini.

Dunia dewasa dalam Rinai (itu judul novelnya), adalah dunia yang penuh pilihan hidup beserta konsekuensinya. Dunia yang penuh dengan pengambilan sikap di luar nalar sekaligus harga yang harus dibayar. Ketika aku akhirnya tahu bahwa Rinai bisa ikut terbang ke Gaza, Palestina karena dia seorang penurut, bukan pemberontak seperti teman-temannya; aku jadi bertanya-tanya, apakah dunia dewasa penuh dengan intrik?

Jika ya, well. Aku sama sekali bukanlah orang yang suka dan cakap mengatasi intrik. Buat apa gitu meracuni hidup dengan intrik? Kalau toh masih bisa diusahakan dengan keaslian dan ketulusan, intrik sangat tidak diperlukan. Ah, mungkin konsep intrik hanya berlaku bagi manusia yang tak berTuhan. Yang bahkan tak percaya setiap tindak tanduknya akan dilihat olehNya.

Di tengah kebingunganku dengan intrik, Gaza menawarkan perilaku yang lebih manusiawi. Mereka berhasil menunjukkan tentang cara bertahan, mengalah, dan menghargai sekaligus menghormati yang benar. Mereka juga paham bagaimana menjalin persahabatan yang benar. Kurasa, di Gaza-lah ukhuwah berdasarkan keimanan benar-benar terwujud. Gambaran ideal kehidupan sebagai muslim/muslimah terajut di sana.

SMALA!

Lambang SMAN 5 Surabaya
Sebuah keprihatinan atas sedikit-banyak hal yang berubah
Tentang Smala-ku
----------------------------------------------------------

SMA Negeri 5 Surabaya itu, setahuku adalah sekolah yang super kueren. Bahkan, walaupun ketika SD aku belum tahu bagaimana kehidupan Smala seluruhnya, tapi aku berani berkata, "Aku akan sekolah di SMAN 5 Surabaya setelah menamatkan SMP di SMPN 1 Surabaya."
Tahukah yang terjadi?

BOOM!
Tiba-tiba saja aku sudah di sana mengenakan seragam putih abu-abu dan sebuah pin lambang SMA Negeri 5 Surabaya. Segera saja kisah-kisah baru bergulir mewarnai hari-hariku di sini. Berawal dari BIRAMA (Bimbingan Rohani Lima) yang wajib dijalani siswa kelas X. Hari itu, aku dan teman-teman baruku dipertemukan dengan dua mentor yang di kemudian hari akan kupanggil master, Mbak Qomi dan Mbak Hanif yang notabene adalah para petinggi Smala. Dari mereka berdualah aku mulai sedikit-demi sedikit tahu tentang sekolah para calon pemimpin peradaban ini.

Pengalaman-pengalaman beliau-beliau itu sangat banyak; terutama tentang organisasi dan pengaderan. Hingga akupun tahu, Smala zaman dulu adalah Smala yang siswa-siswinya balance antara pelajaran dan organisasinya. Gak manja. Gak hedon. Sederhana. Merakyat.
Dan, selayaknya itu dipertahankan hingga sekarang. Dan nanti. Sampai nanti.

PERISAI
Cheerliar Gen Songo

Koridor Lagi Sepi

Ini kelas pertamaku lhoo ^_^ (X-9)

4H-3N

Aneh, ajaib, dan... indah.

Aneh, karena aku tiba-tiba bertransformasi jadi orang yang kuat dan tegar; nriman. Dan bisa merasakan perasaan orang-orang yang mencintaiku. Fakta kecil itu kudapat di malam tak berbintang, hanya terdengar suara gemerisik air, serangga, dan desau angin.
Merasakan betapa aku kehilangan mereka. Merasakan bahwa aku sangat mencintai mereka.

Ajaib, karena aku tiba-tiba mendapatkan suntikan spirit from the mother nature about going to school. Feeling the precious friendship and the real teamwork. Walopun tentu saja ada beberapa hal yang tidak mengenakkan -(tapi he, kalo gak gitu hidupku lak terus-terusan monoton warnanya)- yang wajib dihadapi.
Hm... bukankah itu tergantung dari bagaimana cara kita menghadapinya?
"Jadikan hatimu seluas telaga."

Indah, karena aku menemui orang-orang dengan pribadi yang sama sekali berbeda ketika di sekolah. Padahal aku berjumpa dengan mereka setiap hari di sekolah. Aku juga selalu menyapa beberapa dari mereka (yang benar-benar aku kenal). Tapi di sana, mereka seolah menunjukkan jati dirinya. Dan perpaduan kami benar-benar indah.

Ah, walaupun ada bonus terjemahan dalam arti indah, biarlah itu kusimpan dalam memoriku.
Biar kisah satu itu terendap di relung sana.

So much thank you to Allah...

Ayumi (Step)

だれしもぶくらおもいあぐね、いろんなしがらみをかけて
Dare shimo bokura omoi agune ironna shigarami wo kakaete
かなえたいゆめにむかうとちゅう
Kanaetai yume ni mukau tochuu
まだえないゆめをつかいたくて

Mada enai yume wo tsukamitakute
はをくいしばってかおをあげて

Ha wo kuishibatte kao wo agete
なにくそまけるか!とこころきめ

“Nani kuso! Makeru ka!” to kokoro kime
少しずつまえすすめばいい

Sukoshi zutsu mae e susumeba ii

いつかはさかすたいりんのはな
Itsuka wa sakasu tairin no hana
いまはどこでもひたすらむねに
Ima wa doro demo hitasura mune ni

てをあてがってすべてやれてるかい
Te wo ategatte “subete yareteru kai?”

さあいこうきみのいまこえていこう
Saa ikou!!! Kimi no ima koete ikou


きずけばいつかみえるあした
Kizukeba itsuka mieru ashita 
どんあいっぽもむだにはならない
Donna ippo mo muda ni wa naranai

たいせつないまひびのなかで
Taisetsu na ima hibi no naka de 

ただむねはってあゆみつずけよう
Tada mune hatte “ayumi” tsuzukeyou


そりゃだれだっておもいどおりいかずに
Sorya dare datte omoi doori ikazu ni 
つまずきひととくらべ
Tsumazuki hito to kurabe

自分だけなんだときめつけてじぶんまけたんだこころしめて
Jibun dake nan da to kimetsukete jibun maketan da kokoro shimete

ばかにされてかなしくなって
Baka ni sarete kanashiku natte

まただれかのせいにしてにげて
Mata dareka no sei ni shite nigete

そんなじぶんがゆるせなくて
Sonna jibun ga yurusenakute


いつかであえるさいこうのじぶん
Itsuka deaeru saikou no jibun 
みじめなときはわらえばいいさ
Mijime na toki wa waraeba ii sa

だいじなことはみえていますか
Daiji na koto wa miete imasu ka?

さあいこう!きみならいけるあした
Saa ikou!!! Kimi nara ikeru ashita


きずけばいつかみえるあした
Kizukeba itsuka mieru ashita 
どんあいっぽもむだにはならない
Donna ippo mo muda ni wa naranai

たいせつないまひびのなかで
Taisetsu na ima hibi no naka de 

ただむねはってあゆみつずけよう
Tada mune hatte “ayumi” tsuzukeyou


Hey yo! just keep on walking it!!!
ただそれだけでいい
Tada sore dake de ii

とくべつなんてほんとううそっぱちです
Tokubetsu nante hontou usoppachi desu 
あしですすんだひびがいまのきみえ
Ashi de susunda hibi ga ima no kimi e

まええすすんでえがいたMyselfがいてあせみずかいて
Mae e susunde egaita myself ga ite asemizu kaite

ナチ手内でマジでかいゆめつかむこころをわすれないで
Naite naide maji dekai yume tsukamu kokoro wo wasurenaide

きえないゆうきをこころきざみ
Kienai yuuki wo kokoro kizami 

みえないあすをきりひらくかぎ
Mienai asu wo kirihiraku kagi


築けばいつか見える明日
Kizukeba itsuka mieru ashita 
どんな一歩も無駄にはならない
Donna ippo mo muda ni wa naranai

大切な今日々の中で
Taisetsu na ima hibi no naka de 

ただむねはって歩みつずけよう
Tada mune hatte “ayumi” tsuzukeyou


きずけばいつかみえるはずさ
Kizukeba itsuka mieru hazu sa 
どんあいっぽもきみになってく
Donna ippo mo kimi ni natteku

たいせつないまひびのなかで
Taisetsu na ima hibi no naka de 

こぶしかかげてあゆみつずけよう
Kobushi kakagete “ayumi” tsuzukeyou

Trip to Samboja #1

Gelisah membuatku tak nyenyak tidur. Kenapa lagi kalau bukan gara-gara tanggal 18 kemarin aku bakalan trip ke Samboja, Kaltim. Walaupun aslinya memang mudik dan bersilaturahim ke saudara-saudara di sana.

Aku sudah packing sejak tanggal 15 dan searching di Google soal trip ke Samboja. Well, aku menemukan 2 tempat wisata: Bukit Bangkirai dan Pantai Tanah Merah (as known as: Tanjung). Lihat di sini.

Jam 6 lebih, 2 taksi sudah berhenti di depan rumah. Setelah cuap-cuap bentar dan minal aidzinan dulu sama keluarga besar plus tetangga kanan-kiri, meluncurlah aku berempat dengan adikku, Uti, dan Mbah Muk ke Juanda. Kenapa mesti 2 taksi? Karena kedua ortuku ikut. Mau nganter.
(Bayar taksi dari rumah: Rp 75.000, 00)

Di Juanda... hm, foto-foto dulu dong. Maklum, Mbah Muk belum pernah naik pesawat. Jadi gaya-gayaan dulu di bandara, menandakan kalau beliau ready to fly dan biar bisa ditunjukin sama teman-temannya. XD
Pukul 08.00, check in loket udah dibuka. Saatnya masuk.
(Btw, bayar peronnya Rp 40.000, 00 per orang. Naik 10 ribu rupiah seluruh Indonesia)

Setelah semua sudah beres, kami melenggang masuk ke waiting room. Untung pesawatnya ndak terlambat. Sementara itu, Pakde mengabarkan bahwa Kalimantan hujan deras. Rrrr.... berdoa semoga nggak terjadi apa-apa di pesawat.
(Bayar pesawat Rp 356.000, 00 - pake Batavia Air)

Samboja: warna hijau

Time to take off. Bismillah. Ya Allah selamatkan kami.
15 menit kemudian, Laut Jawa terhampar di bawahku. Indah sekali. Lautnya biru terkena pantulan langit.

Hm... karena aku duduk di sebelah jendela dan bisa melihat awan-awan indah (tapi aku belum bisa mengidentifikasinya), pas pesawat terbang di Kalimantan, rada ngeri. Awannya.... Awannya.... mengganggu pendaratan pesawat. Jadi, pesawatnya muter-muter dulu di atas Balikpapan. Tapi beberapa menit kemudian pukul 11.20 WITA, kami berhasil mendarat dengan mulus di bandara Sepinggan, Balikpapan.


Welcome to East Borneo!




Ternyata, Pakde sudah menjemput dengan mobil sewaan karena jam segitu udah gak ada taksi (jangan bayangkan taksi di Balikpapan sama dengan taksi Surabaya/Jakarta). Harga sewanya sekitar Rp 300.000 sekali jalan. Kalo naik taksi cuma Rp 150.000 aja berlima. Murah kan? Padahal jaraknya 60 km.

Jadi, taksi Balikpapan itu adalah sebuah mobil putih semacam colt L300 yang yah... sedikit tua. Dan hanya ada 5 taksi jurusan Balikpapan-Samboja. Jamnya juga tertentu. Ada yang jam 5, jam 8, jam 11, jam 14, dan jam 16. Karena aku tiba di sana sudah jam 11.40, maka naik mobil sewaan sajalah (Iya, gak ada taksi...). Sekalian bersantai, menikmati panorama Balikpapan-Samboja.

Ah, tiba-tiba aku melihat pemandangan yang... full of coconut tree. Samboja itu daerah pantai mamen. Iih... seneng banget begitu tahu kalo rumahnya Pakde daerah pantai. Alias, bisa main pasir seharian. Pasirnya model-model pasir yang di Bali. Bersih, halus, dan gampangnya, bayangkan aja kalo lagi ada di pesisir pantai Sanur. :)
Kebayang indahnya kaaan?

TRAPPED!

Trapped
Tiba-tiba mbaca sesuatu yang gak ngenaki itu asline yo nggarai BM. Kaya nelan obat yang puahit banget, tapi manjur.

Well, paling nggak aku sadar kalo sudah terperangkap di sini selama dua tahun dan memang banyak yang terjadi. Larikah aku dari kenyataan? Kok kesannya nggak strong-girlie banget ya?
Mungkin, karena mindsetku seperti ini, jadinya tindakanku juga terkesan "lupa kalo aku ada dalam perangkap".

Ha, sisi positifnya adalah aku berhasil membawa mimpiku (di mana dunia-sekolahku) nggak ada "perangkapnya" dengan caraku sendiri: menulis. Yap, menulis fiksi dan fakta, kadang-kadang mencampuradukkan keduanya. Itulah kenapa aku berhasil menjadikan setahun kemarin a year of a dream. Walaupun efek perangkapnya masih sedikit terasa menjerat langkah.

Jadi, sepertinya caraku itu tak akan berhasil di tahun ketiga ini. Karena sekali lagi aku disadarkan obat itu, jalan keluarku cuma satu. Jadi, daripada aku mimpi terus-terusan, inilah waktuku untuk bangun. Inget kata-katanya Mario Teguh;

Seorang pemenang tidak akan mengeluh terus-terusan, tapi ia akan melakukan apapun yang dia bisa untuk mencapai tujuannya.
Bisa dikatakan aku memang tidak minat, tapi takdirNya adalah minat nggak minat, aku harus MAU. Ya, aku MAU dan aku melakukannya. Bangun! Bangunlah dari mimpi indah! Ada kehidupan yang lebih indah di sini. Aku pantas memperolehnya dan aku harus mendapatkannya: EXIT DOOR!

Allah akan mengubah nasib seseorang ketika ia benar-benar bisa mengkombinasikan antara niat+doa+usaha. Bukankah itu harusnya sesuatu yang mudah? Ayolah, ada dua sosok yang pantas untuk dijadikan alasan+semangat! 

Walk to Exit Door-Walk to Exit Door-Walk to Exit Door

Dead Poets Society

1989. Breakable film!

Carpe Diem...

Dead Poets Society

Aneh aja begitu tahu dapet tugas menganalisis film ini dari guru Bahasa Indonesia-ku. Kenapa harus film barat dan bukan film Indonesia? Kayaknya pernah denger dan setelah browsing sana-sini, film ini adalah salah satu film lawas yang dibuat pada tahun 1989.

Awalnya sempet mengira ini film standar anak sekolahan yang cuma cerita soal percintaan ala Hollywood. Mana pembukaannya upacara penyambutan murid baru di sebuah sekolah unggulan; terus lighting filmnya juga belum sebagus sekarang. Duh, pasti ngantuk ya.

Weits, saya salah besar! Robin Williams sukses berat meranin captain John Keating yang dengan berani-beraninya melawan empat pilar (jadi teringat sesuatu mengenai pilar-pilar, lupakan) yang menjadi prinsip turun temurun sekolah itu. Tau nggak pilarnya apa?

TRADITION-HONOR-DISCIPLINE-EXCELLENCE

Nah, tugasnya Pak Keating adalah menjadi guru Bahasa Inggris pengganti seorang guru yang pensiun. Sama kayak saya, pertama masuk kelas murid-muridnya juga bete abis karena ternyata beliau nyuruh baca "definisi puisi secara komprehensif" dari profesor siapa gitu. Setelah selesai, Pak Keating malah nyuruh, "RIP THE BOOK, we don't need any trash like that."
Ngapain itu? Disuruh nyobek-nyobek bukunya. Heh? Sumpah, bener. Pak Keating bersikap begitu karena bagi beliau, puisi adalah manifestasi (ciyeh) dari perasaan seorang manusia.

Pandang dengan cara berbeda!
Menurut Pak Keating, manusia menulis puisi karena ia "berperan aktif" dalam kehidupan. Kan muncul masalah-masalah tuh, jadi ada beberapa manusia yang mengungkapkan curhatannya melalui puisi. Jadi, pengertian puisi yang sebegitu ruwet dan kompleksnya memang benar, itu kalo mahami pake akal. But, ketika kita memahami puisi dari perasaan dan benar-benar menggunakan hati, makna puisi itu sebenernya simpel banget. 

Perbedaan mengajar yang out of the box ini tak berhenti di situ saja. Ia bahkan menerapkan mantranya kepada seluruh muridnya. CARPE DIEM. SEIZE the DAY. BUATLAH HARI-HARIMU BERBEDA. Beliau pingin banget murid-muridnya sukses dengan cara yang nggak biasa. Dengan cara yang spektakuler dan sekaligus menunjukkan jati dirinya masing-masing. Seperti semboyannya, "Lihatlah segala sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda."

Kata Pak Keating soal puisi

Cara itulah yang sukses membuat Pak Keating disenangi dan disegani oleh para muridnya; terutama oleh Neil dan keenam sohibnya. Hingga ketujuh cowok keren itu menemukan skandal Dead Poets Society, sebuah perkumpulan pecinta puisi rahasia di sekolah itu. Yep, Pak Keating menjadi anggotanya, dan artinya dulu Pak Keating juga pernah menjadi murid sekolah itu.

Dipelopori oleh Neil, mereka bertujuh sering banget mengadakan pertemuan di dalam gua malem-malem. Dengan tema Dead Poets Society 2. Walopun awalnya mereka cuma bahas soal puisi, tapi akhirnya malah saling bertukar ide buat protes ke sekolah khusus yang peraturannya sangat ketat itu. Bahkan di sinilah setiap cowok itu mulai berani meraih mimpi-mimpi mereka. Pak Keating tentu saja senang dengan keberanian itu.

Dead Poets Society jilid 2

Well, masalah muncul pas mendadak ayah Neil dateng ke kamarnya dan memintanya buat berhenti terobsesi jadi aktor. Padahal Neil dapet peran utama dalam drama yang dibintanginya. Selain itu, Charlie juga berani mengedarkan artikel "harusnya cewek diterima di sekolah itu" di koran sekolah. Mereka berdua pun dimarahi habis-habisan; Neil oleh ayahnya, Charlie oleh Pak Kepsek.
Pak Keating pun mengatakan, "Be wise, not stupid" dan tetap menyemangati mereka.

Pak Keating dan 7 Muridnya


Malang bagi Neil, dia harus pulang dan memilih jalan yang sesat-sesesat sesatnya. Sementara, dari insiden itu, akhirnya Dead Poets Society ketahuan juga. Di sini, Pak Keating merasa bersalah dan sangat menyesal atas Neil. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana nasib Pak Keating?

Ending

Penasaran kan? Yuk, tonton aja filmnya. Dijamin nggak bikin kecewa!
(jangan lupa sediain tisu yah)