RSS

Pertanyaan "Kesebelasan"

Well, Winna Zhonniwa, akan kujawab pertanyaanmu... Aku singkat-singkat aja yah jawabnya. Gak bisa nulis banyak2, soalnya kebanyakan nulis fakta (udah agak lupa menuliskan imajinasi).

1. Apa yang kamu lakukan saat kesedihan mendalam menghampirimu?
Jawab: berusaha kembali ke "Jalan yang benar". Istighfar dalam hati sebanyak-banyaknya plus nangis biar lega. Ndengerin lagu Insha Allah-nya M.Z. Terus selanjutnya, yang jelas aku akan berusaha membeli cokelat sebanyak2nya. Kalo lagi bokek, minta ke Mama atau adikku. Haha. Resep makan cokelat ini terbukti membuat perasaan lebih tenang.

2. Bagaimana kamu membuat dirimu kembali tertawa dan membuatnya seakan tak ada masalah?
Jawab: Berusaha mati-matian berpikir positif dengan mengafirmasi diriku bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah S.W.T. Itu kulakukan tiap detik. Terus, ketemu sama temen-temen dan enjoy bareng dengan mereka. Atau kalo gak, ngegodain adik2ku tersayang.

3. Apa yang membuatmu paling bahagia?
Jawab: Yang jelas kalau urusanku dimudahkan Allah S.W.T   

4. Apa kamu punya tempat favorit untuk dikunjungi? Seperti apa itu? dan mengapa?
Jawab: Pinggir laut nyaman banget. Khususnya di pantai utara Surabaya. Apalagi kalo ditambah naik perahu. Bayangkan saja, di depanmu ada bukit karang besar sepanjang 3 km. Dibalik bebatuan itu ada laut yang bening. Dengan pancaran sinar mentari yang mengintip malu-malu dibalik mega ketika ba'da Subuh. Jadi, sinarnya itu kaya kristal pecah di tengah-tengah laut. Subhanallah banget deh. (Ini kok jadi puitis). Karena setiap kali merenung galau di pinggir laut, aku merasa semua masalahku udah ditelan sama laut itu. Dan aku sadar buanget kalo aku hanyalah makhluk yang sangat kecil (sementara laut yg kupandang luasssss sekali). 


5. Kalau tempat favorit di dunia maya, dimana?
Jawab: Facebook+Blogspot

6. Siapa idolamu? kenapa?
Jawab: Para Shahabiyah jaman Nabi. Khususnya Fatimah dan Bunda Siti Khadijah. Karena beliau2 itu perangainya indah banget. Disayang Allah, suaminya, ortunya, dan orang2 di dunia. 

7. Apa yang kamu inginkan di ulang tahun ke 17 nanti?
Jawab: Do'ain ya, supaya aku bisa beraqiqah dengan hasil keringatku sendiri. Aku pingiiiin banget aqiqah.  

8. Perubahan apa yang sudah kamu rencanakan untuk menjadi pribadi yang lebih baik?
Jawab: Aku sudah dalam proses untuk menjadi muslimah sejati, yang nggak hanya pinter di "luar rumah", tapi juga di "dalam rumah".  Doa'akan semoga lancar.

9. Bagaimana masa depan yang kamu impikan?
Jawab: Masa depan yang kumimpikan adalah bisa membahagiakan ortuku, kuliah di luar negeri jurusan ilmu jurnalistik, dan bisa berhaji bareng suamiku tercinta kelak. Menjadi orang kaya yang bahagia (soale diridhoi Allah). Dan aku besok2 nggak mau kerja kantoran, tapi aku pingin jadi penulis kaya Asma Nadia biar bisa sekalian menjadi wanita sejati.

10. Lagu apa yang jadi favoritmu karena maknanya sesuai benget dengan kamu?
Jawab: Lagunya Maher Zain yang Insha Allah 'n For The Rest Of My Life.  

11. Karena aku ingin jadi arsitek, kira2 rumah seperti apa sih yang kamu impikan?
Jawab: Lho, temenan yo, mau buatin. Aku pingin rumah yg kalo dari luar itu sederhana, tapi dalemnya luas... banget. Jadi yg tampilan luar itu minimalis (kaya d perumahan), asri (banyak pohonnya), biar damai. Yg dalemnya itu ya diperluas biar lega n dibuat leyeh2 sekeluarga juga enak. Rumahnya 2 lantai, tapi terletak di perkampungan yg rame, banyak anak kecilnya. Bukan di perumahan yg biasanya sepi2 gitu. Sama deket masjid. 

Okeh semua sudah kujawab. Semoga dirimu puas ya Win. BTW, terima kasih sudah ngasih aku pertanyaan yg kaya gini. Pertanyaanmu benar-benar menyadarkanku. Syukron Katsiron, ukhti. 

Sebuah Cerita

Suatu hari, ada seorang pemuda yang ingin memberikan sekarung singkong ke rumah Pak Kiai. Niatannya ikhlas memberikan singkong tersebut kepada Kiai sebagai bentuk syukurnya kepada Allah.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam, pemuda. Ada apa?" kata Pak Kiai.
"Ini Pak Kiai. Saya mempunyai singkong untuk Bapak. Alhamdulillah, singkong saya panen banyak." katanya sembari menyerahkan singkong tersebut.
"Wah, terima kasih."
"Sami-sami, Pak Kiai. Monggo, saya pulang dulu. Assalamu'alaikum..." kata si Pemuda yang bergegas pulang.

Tetapi, di luar dugaannya, Pak Kiai tadi menahannya."Sebentar toh... kamu jangan pulang dulu. Duduk sini, dulu."
"Lho, saya buru-buru."
"Sebentar! Ayo duduk lagi."
Mendapatkan paksaan seperti itu, si pemuda akhirnya duduk lagi karena sungkan dengan Pak Kiai.
Pak Kiai akhirnya pergi ke belakang dan tiba-tiba membawa seekor kambing untuk si pemuda.
"Ini untukmu."
"Lho, Pak Kiai. Saya ikhlas... Demi Allah, saya ikhlas. Nggak usah repot-repot."
"Kamu ikhlas toh tadi? Ya sudah, saya juga ikhlas menyerahkan kambing ini padamu. Ini, rawat baik-baik ya."
Si pemuda masih saja menolak, tetapi berkat kepiawaian Pak Kiai, pemuda tersebut akhirnya mau juga membawa kambing barunya.

Konon, cerita tersebut didengar seantero kampung. Ada seorang pemuda lain yang sampai berpikir aneh.
"Wah, kalau dia saja menyumbang sekarung singkong dapat kambing, berarti aku nanti menyumbang kambing pasti dapat seekor sapi. Wah, aku harus menemui Pak Kiai itu."
Berangkatlah pemuda 2 ini ke rumah Pak Kiai.

"Assalamu'alaikum, Pak Kiai."
"Wa'alaikumussalam."
"Pak Kiai, ini Pak Kiai. Saya ikhlas! Saya ikhlas memberikan kambing ini kepada Pak Kiai." katanya menggebu-gebu, sambil berharap yang tidak-tidak.
"Oh, ya sudah." kata Pak Kiai tanpa menahannya lebih lama.
"Lho. Sebentar Pak Kiai. Kan, saya ikhlas..."
"Ikhlas toh?"
"Tapi.. maksud saya... Anu... Ya... saya ikhlas. Ikhlas, ikhlas, Pak Kiai..."

Pak Kiai tersenyum, kemudian berkata, "Ya sudah, tunggu di sini sebentar."
Tak lama kemudian, Pak Kiai membawa sekarung singkong dan memberikannya kepada pemuda kedua.
"Kamu ikhlas kan, memberi saya kambing. Makanya, saya juga ikhlas memberimu sekarung singkong ini."

Si pemuda dua akhirnya pulang denganm perasaan sedih.

Bagaimana pendapat Anda semua?

It Lost

Jadi inget posting soal kehilangan.

Kemarin, tanggal 23 Desember 2011, laptopku yang sangat kucintai itu hilang. Yah, hilang begitu saja. Tanpa jejak, tanpa bilang apa-apa padaku.
Sakit? Iya!
Gak Ikhlas? Belum!
Bingung? Jelas!
Semua data-data penting waktu SMA, foto-foto kenangan, rumus-rumus pascal, HTML, PHP, hilang dan lenyap bersama raibnya laptopku. Ya Allah... aku nggak bisa membayangkan kalo seseorang yang entah di mana yang sekarang sedang mengutak-atik laptop itu menghapus semua data-dataku!

Well. butuh data sebenarnya. Laptopnya, ambil aja deh. Tapi bagaimanapun sebenarnya ini semua salahku juga, kurang pengawasan dan MUDAH PERCAYA dengan semua orang, termasuk yang masih itungan sekeluarga besar denganku. Aku nggak mau su'udzon, tapi berhubung aku sudah tahu siapa pelakunya, yang kulakukan hanyalah menerimanya saja. Belajar ikhlas dengan hilangnya laptop beserta data-dataku.

Sekarang, aku hanya berdo'a. Semoga Allah menggantikan laptop itu dengan sesuatu yang lebih baik. Terserah Dia mau menggantikan apa. Hal ini karena tadi sore, salah seorang om ku dari Mojokerto datang dan menghiburku,

"Sa... semua yang hilang, ketika kau ikhlas, akan diganti dengan yang lebih baik! Cobalah, percaya itu. Dan untuk sekarang, pasti masih ada yang bisa kau syukuri."

Merasakan nasihat Om ku, aku berpikir, ah iya. Masih banyak nikmatNya yang belum kusyukuri. Banyak banget.

"Belajarlah mengikhlaskan."

Aku termenung. Menyahut dalam hati, "Aku berusaha, Om."

Selamat jalan, laptopku....

Kalimat Mutiara

Persiapan yang terbaik adalah penyelesaian yang tuntas.

Semua kejadian baik dan besar yang kau sebut keberhasilan itu, kau capai dengan menaiki tangga yang dibangun dari penyelesaian dari rencana-rencanamu.

Jika ada dari rencanamu yang tidak selesai, maka langkah naik berikutnya akan menjadi sulit, atau bahkan tidak mungkin bagimu.

Sesungguhnya, kehidupanmu ini adalah tangga naik yang dibentuk oleh urutan penyelesaian. Semakin banyak yang kau selesaikan, dan semakin baik engkau menyelesaikannya, akan semakin baik dan berderajat hidupmu.

Maka janganlah hanya bersemangat saat bermimpi dan berencana. Lebih bersemangatlah engkau bekerja dalam ketulusan yang sederhana, tapi yang setia kepada yang kau kerjakan, sampai selesai.
Penyelesaian yang tuntas dari sebuah rencana yang sederhana, lebih baik daripada kesibukan menjelaskan mengapa kehidupan ini tidak mendukung rencana-rencana besarmu.

Maka segera laksanakan dan selesaikanlah rencana terdekatmu.

Ingatlah,

Persiapan yang terbaik adalah penyelesaian yang tuntas.
--------------------------------------------
Jagalah impianmu tetap besar,
jadikanlah hatimu lebih kuat daripada keraguanmu,
pastikanlah kesungguhan kerjamu juga sebesar impianmu,
dan ikhlaslah bekerja keras dan jujur
dalam pekerjaan yang sederhana,
tapi yang menuntunmu menuju impianmu.

Syukurilah kesederhanaan dalam diri dan pekerjaanmu,
karena rasa syukurmu adalah penghubung
antara kerja kerasmu dengan kemurahan Tuhan Yang Maha Kaya.

Jujurlah, rajinlah, dan bersabarlah.

Engkau akan sampai.
------------------------------------------



Entah... dua Quotes dari Mario Teguh itu, ajaib sekali. Let's keep spirit. Allah akan menyediakan kejutan bagi orang-orang yang berusaha, berdoa, dan bertawakkal. Serta ridho atas keputusanNya. Amiin.

See.. The Right Path Way

~Jika amanah seseorang makin banyak, seharusnya ia mampu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan porsi yang lebih pula~

Menganalisis kalimat tersebut, kini aku sadar bahwa tak terasa Ia memberiku kepercayaan lebih. Tetapi, kenapa aku tak bisa beranjak dari tipe "orang kedua" yang selalu berada di tengah-tengah?

Ya Allah... kembalikan aku menjadi orang yang bersegera dalam kebaikan. Kembalikan aku dalam orang-orang yang ingat akan Engkau. Kembalikan aku menjadi orang yang selalu bersyukur atas semua nikmatMu. Amin.

Curhatan Seorang Akhwat

Tepat pukul 21.00, curhatan itu dimulai. Basa-basi sebentar sih. Tetapi, intinya akhwat seniorku di Remas ini bercerita soal karma tentang dirinya.

"Nis, aku merasa sudah menentang Allah. Aku merasa dijauhkan jodohku olehNya." begitulah kira-kira ucapannya.

Akhwat ini telah memasuki kepala 3, tetapi Allah belum mempertemukannya dengan lelaki yang dapat membimbingnya menuju cintaNya yang agung. Mbak ini bercerita padaku setiap kali ada ikhwan yang tertarik padanya dan meminangnya, hatinya menolak.

Penyebabnya hanya satu: Mbak ini menginginkan lelaki yang sepadan dengannya. Yang lebih tua darinya agar kelak bisa menjadi imam yang baik untuknya. Tetapi dia merasa dia belum menjadi akhwat yang beryukur karena telah menolak setiap lelaki yang ditakdirkan Allah bertemu dengannya.

Pikirku, Mbak ini nggak salah jika dia menginginkan seorang lelaki yang sepadan dalam dhohir dan batinnya. Karena memang dia adalah seorang akhwat sejati. Tetapi di sisi lain, Allah telah menentukan jalan hidup yang terbaik baginya. Jadi, kuyakinkan saja agar Mbak ini lebih yakin terhadap ketentuan Allah yang mengatur bahwa wanita-wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik. Dan setiap manusia itu diciptakan berpasang-pasangan.

Namun, rupanya keraguan itu masih menjadi suatu penanda yang sulit dihilangkan. Ingin rasanya kuberikan padanya sebuah puisi Wanita Suci dari forum SSKI di sekolahku. Agar dia tak merasa berkecil hati. Agar dia merasa menjadi akhwat pilihan Allah untuk menerima hadiah spesial di surgaNya.

Mbak, menemui Allah tanpa suami di sisimu adalah suatu kemuliaan. Jangan sedih, karena ada Allah yang akan langsung membimbingmu melalui kalamNya. Ia Maha Tahu yang terbaik melebihi diri kita sendiri. Semoga Mbak nggak berkecil hati dengan segala kondisi Mbak saat ini. Dan semoga Allah mengabulkan doa apapun yang menjadi kebaikan untuk Mbak. Amin.

Hallo, Desember \(^_^)/

Desember = deres-derese sumber. Amiin.

Desember = akhir tahun

Desember = evaluasi

Desember = liburan

Desember = UAS

Desember = menikmati hujan

Desember = dilarang mengeluh

Okeh! Memulai hari dengan optimis adalah salah satu aspek dalam hidup yang kukembangkan sekarang ini. Karena itu aku menyadari ada sedikit perubahan ke arah yang lebih baik. Manusia pasti berubah. Kadang sedikit waktu membuat hati terus bergejolak.

Dan karena ini sudah bulan Desember, berarti aku harus semakin lebih baik, semakin dewasa, dan semakin pengertian. Allah mengikuti prasangka hambaNya. Berpikirlah positif, Dia telah merencanakan yang terbaik untuk kita.

Well, sebenarnya ini sudah tahun baru sih (Tahun Baru Islam), jadi tidak ada lagi alasan untuk mengungkit-ungkit yang lama.
Desember ini akan jadi suatu alasan yang pas untuk proses ke depan yang lebih baik.

Persiapan UAS

UAS SEMAKIN MENDEKAT!

5 DESEMBER UAS DATANG...

Sedih? Takut? Atau Marah gara-gara bahan UAS gak lengkap?

Cara ampuh :
1. Persiapkan kesiapan batin. Ini menjadi sangat penting ketika kita menyadari bahwa Allah-lah yang bisa memberikan keajaiban untuk tidak remidi di pelajaran yang paling susah bagi kita. Jadi, banyak-banyaklah mendekat kepadaNya dan mohonlah pertolonganNya. Shalat Dhuha, Shalat Tahajjud, Shalat Hajat, dan Istighfar. Yakin. Oh ya, HINDARI maksiat!

2. Kuasai 10 cara dalam pelajaran eksak (matematika, fisika, kimia, akuntansi, dll). Soalnya, kalo kita mampet di satu cara saja, waduh. Nangis kita bisa-bisa karena mandeg di tengah jalan kenangan. Cara itu bisa dilakukan dengan kekreativitasan kita mengolah rumus dasar. Contohnya nih, misalnya rumus Fisika yang gravitasi (itu banyak banget...), tetapi dengan modal 2 rumus dasar, soal gimanapun kayanya gampang banget dikerjain. Cuma dibolak balik aja rumusnya.

3. Positive Thinking. Ketika belajar, yakinlah kalau itu yang bakal keluar. KArena, Allah itu mengikuti prasangka hambaNya. Dan jangan lupa bertanya sebanyak-banyaknya kepada orang yang kamu angap "dewa/dewi" di bidangnya.

4. Tularkan apa yang kamu tahu. Orang akan lebih mudah paham 100% ketika ia berhasil mengajarkan suatu materi kepada orang lain. Ya mungkin, perlu bertahap. Tetapi.. yang penting kita sudah berusaha menularkan ilmu pada orang lain. Itu adalah benih kebaikan, dan nantinya yang kita tuai juga kebaikan pula, InsyaAllah.

5. Minta do'a restu sama orang tua. Ini yang paling urgent. Jangan coba-coba merengut, bantah ortu, apalagi sampe marah2 gak karuan di depan ortu. Karena orang tua-terutama Ibu- adalah perwakilan Allah di dunia. Restu orang tua, adalah restu Allah juga. Jadi, buatlah mereka senyum dengan kehadiranmu, buatlah mereka bangga dengan nilai-nilaimu, dan buatlah mereka ikhlas mendoakan keberhasilan UASmu.

Sekian, terima kasih. Semangat menghadapi UAS!!!! :)