RSS

IPA cs IPS

Tadi baru saja ada pelajaran sejarah... Terus guru sejarah ku bersabda,

"Mengapa pendidikan Indonesia sekarang seperti ini?"
anak-anak hening
"Ya karena, selama ini kalian hanya dicekok'i pelajaran IPA saja. Coba, pelajaran Geografi, Sejarah, Ekonomi, itu kalian anggap remeh. Ini sudah terjadi sejak zaman penjajahan Belanda dulu. Jelas, kalau para penjajah itu dulu memberikan pelajaran ilmu sosial kepada pribumi, nanti pribumi jadi pandai dan bisa melawan kepada mereka.

Justru, orang-orang Indonesia lebih dipintarkan dengan pelajaran IPA supaya orang pribumi tidak tahu tentang seberapa besarnya kekayaan yang ada di negeri kita sendiri. Di sini memang banyak yang ahli teknologi, ahli komputer. Tapi, yang ahli di bidang ekonomi? Geografi?"

Bu, dulu aku sempat berkeinginan mengambil jurusan IPS. Namun, karena orang tua tidak merestui, akhirnya akupun beralih ke IPA. Tapi jujur, aku tidak akan pernah mendeskriminasikan IPS dari pelajaran yang wajib kukuasai. Aku masih terus belajar dengan esai-esaiku. Yang masih bisa kupublikasikan lewat blogku.

Dan melalui esai, akhirnya aku mengerti tentang betapa kaya sebenarnya Indonesia ini. Aku dapat menyingkap perlahan berbagai tabir yang belum aku ketahui. Aku mencoba mengenal Indonesia lebih dalam, apa yang harus kami lakukan untuk perdamaian bersama.

Seni Kehilangan

-Seni menerima kehilangan itu tidak sulit-

Benarkah? Untuk hal-hal kecil itu memang benar. Seperti ilang kunci, ilang modem, atau ilang buku. Tapi perkara ilang hati? no-no-no.
Kehilangan hati adalah sesuatu yang sangat menjadi bencana.

Dan berikutnya, aku pernah membaca kalimat,

"Rasakan setiap perasaan yang kau jalani. Rasakan dengan segenap hatimu, kemudian, pelajarilah. Maka kau akan mendapatkan sesuatu yang selama ini belum kau dapatkan."

Jika dihubungkan, kedua kalimat itu akan bersambung dan membentuk cerita seperti ini: 

Saat kau kehilangan sesuatu, maka pelajarilah. Rasakan dengan segenap hati dan pikiran. Hati akan membawamu dalam keadaan yang lebih baik. Karena di sanalah ada sambungan dariNya. Dan pikiran akan menyelaraskan reaksi-reaksi yang kau timbulkan terhadap rasa kehilangan itu sendiri. Membuatmu tetap logis dan melihat penyebab-penyebab dibalik peristiwa kehilanganmu. Sehingga kau bisa tetap berpijak di jalan yang benar dan berperilaku yang benar. Hasil akhirnya, kau akan berkata, seni menerima kehilangan itu mudah ya? Sekalipun kau harus kehilangan orang-orang yang kau cintai dan berarti dalam hidupmu.

Mana Perahu Kertasku?

Rasanya, sudah terlalu lama di dunia realitas, nggak mikir lagi yang namanya khayalan-dongeng-dan... the soul freedom. Rasanya, sudah terlalu lama bergelut dengan dunia Biologi, Fisika, Matematika, Statistika, Kimia, dan seluruh data penting yang berkaitan dengan kelangsungan hidup makhluk hidup. Intinya, fakta! Realitas! The Real World!

Dan kemarin aku memutuskan jalan-jalan sebentar di toko buku murah langgananku. Sebuah buku warna-warni bergambar perahu dengan dua orang sebagai kemudinya menarikku. Ada suatu magnet di sana. Sepertinya sebuah perjalanan yang aneh tapi indah.

Kubuka halaman demi halaman. Selalu hadir kejutan di dalamnya. Tetapi, jujur ada sesuatu yang kurang cocok denganku. Tokoh Keenan yang awalnya digambarkan sebagai orang yang "sepertinya" setia, tiba-tiba saja menjadi cepat berubah pendirian.

Tapi, well. Mari kita lihat keseluruhan ceritanya. Perahu Kertas-metafora indah yang berliku di antara segelintir manusia yang saling terkait. Seperti tersangkut di sebuah pusaran: Kugy dan Keenan. Hmm... aku bertanya pada diri sendiri, di manakah perahu kertasku? Di manakah semua khayalan indah tentang duniaku sendiri?

Menulis adalah passion. Menulis adalah ungkapan yang tak terkatakan. Sayangnya aku belum menemukan pelabuhan yang pas untuk melabuhkan perahu kertasku yang isinya itu.

Melirik Sekilas INDONESIA (1)

Hari ini, pelajaran PKn berbeda. Sebuah lagu yang abadi mengalun indah mengawali pertemuan kali ini.

Diiringi permainan akustik Dance, suara-suara emas mengungkapkan cinta untuk Indonesia.

"Kulihat Ibu Pertiwi...
sedang bersusah hati.
Air matamu berlinang, mas intanmu terkenang.
Hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan.
Kini Ibu sedang susah, merintih dan berdo'a.

Kulihat Ibu Pertiwi...
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu, menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta, putramu yang setia
Menjaga harta pusaka, untuk nusa dan bangsa"

Kami seakan disadarkan kembali tentang "dunia lain" dari Indonesia yang saat ini sedang sedih, purik, dan lemah. Terbayang oleh kami penderitaan yang ditanggung Indonesia saat ini. Kekerasan, kejahatan genosida, ricuh sana-sini, pemerintahan tidak becus, prestasi berkurang, dan sebagainya. Kemanakah keceriaan wajah Ibu kita, kawan?

Ibu yang telah memberikan segalanya untuk kita? Keadilan itu sudah hilang dari tangan Ibu. Dirampas siapa, entahlah. Tapi yang pasti sekarang kita tak akan pernah lagi melihat keadilan yang sama. Keadilan yang dulu pernah didapatkan anak-anaknya.

Setidaknya menyanyikan lagu itu (kembali) membuatku merinding. Semangat untuk perbaikan generasi muda. Semangat untuk reformasi dan demokrasi yang bisa dipertanggung jawabkan. Semangat untuk perubahan yang nyata.

Indonesia... Kami ada untukmu.

Malem...

Mencoba mengerti tentang diri sendiri itu jauh lebih sulit. Entah karena PMS atau apa, rasa keegoisan ini semakin tinggi. Nurani tak mampu lagi membendung setiap emosi yang hadir menjelang. Sepertinya perlu sebuah kekuatan yang maha dahsyat.

Aku ingin cerita, tetapi aku tak tahu mau cerita ke mana? Aku sudah banyak menyakiti orang-orang di sekitarku. Dan aku tak mau memaksa mereka untuk tetap mendengarkan ceritaku. Jadi, aku harus cerita ke mana? Allah? Well, satu-satunya tempat memang Ia. Aku sudah bercerita kepadaNya.

Awan itu terus meneteskan sisa-sisa air yang masih ditahannya. Seketika ia tampak ingin menangis. Tetapi seketika ia tampak ingin tegar. ia kini rentan. Bersiap untuk runtuh. Seperti mati segan, hidup tak mau.

Hear Our Heart

Jalan Cinta Para Pejuang-Sallim A.Fillah.

Di kalangan aktivis dakwah, nama Sallim A.Fillah pasti bukan nama yang asing. Setiap untaian kata dalam buku-bukunya mengalun indah. . .
Menerangi setiap hati yang gundah. Biar gak galau kali ya.

Seorang (mantan) teman sekelasku yang (merasa) sangat imut-imut sekali, datang ke kelas. Menenteng-nenteng buku itu. Aku pun dengan tidak seberapa anarkis meminjam bukunya.

Sreet... Terbukalah halaman itu:


NURANI...

Cita dan tujuan selalu ada jauh di depan
Gairah dan hasrat membuatnya terasa dekat
Jikapun kemudian ia masih tampak gelap atau buram
Itu karena mata yang kita pakai untuk melihatnya 
terletak dalam hati
APAKAH KAU MENDENGAR SUARANYA SAAT MEMOHON UNTUK TAK DIKOTORI?

Kemudian, ada suatu hadits riwayat Muslim:

~Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya. dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati. Meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu~

Setiap manusia zaman sekarang memang nggak punya pemahaman yang sama dengan wahyu Allah. Begitu pula dalam mengenali Rasulullah secara total dan meniru apa-apa yang diperbuat beliau. Tapi, Allah menitipkan satu chip untuk mendeteksi kebenaran. Yaitu hati nurani.

Hati nurani akan selalu berdering ketika ada sesuatu yang salah dengan diri ini. Tetapi ia juga akan semakin tertutup seiring dengan kemaksiatan yang kita lakukan. Percayakah?

Misal, ketika kita akan nyontek. Pasti 'sesuatu' dalam jiwa kita melarang untuk berbuat itu. Bisikannya begitu halus, tapi sangat tajam. Invisible, tapi terasa. 
Misalnya lagi, ketika kita akan bohong. Hati nurani dengan sangat tegas memperingatkan kita. Tinggal kita memilih, mau melakukan itu atau tidak.

Jangan biarkan Allah mengunci hati nurani kita. Karena ialah penghubung kita denganNya.

Ya Allah, jangan kau berikan kunci hati ini sebelum waktunya.

Wait for That Time

Kemarin... kudengar (oh gak, lupakan)
Jadi, tadi malam, aku kan diudnang spesial ke pernikahannya saudaraku yang diselenggarakan di gedung BKKKS. Well, there're some feeling. Happy? Not at all
Smile? Always
Tired? Tokidoki
Tapi, ada satu feeling yang sedikit membuatku risih. Ngg.. well, lupakan.

Hmm. ini akibat dari POSITIVE THINKING nih. Aku kan pakai gamis yang sederhana, jilbab juga gak banyak modifikasi kaya emak-emak. Simple aja tapi tetep syar'i lah, Insya Allah. Dan, aku berusaha positive thinking dengan apa yang aku punya waktu itu.

Subhanallah... Dampaknya manjur sekali lho dari positive thinking itu. Dan Allah benar-benar sesuai dengan prasangka hambaNya. Aku menemukannya dalam kenyataan!


Yah, meskipun aku agak gimanaa gitu, intinya aku nggak jaim. Semoga ini bisa sedikit menjadi gambaran bagaimana aku benar-benar berpikir positif. AKu berharap postingan kali ini benar-benar mempengaruhiku ketika aku ingin sekali saja berpikir negatif tentang suatu hal.

Btw, masih soal posthing juga yah...
Kemarin juga, aku dibilangi kaya gini sama seseroang:"Kalau kamu mau menerima kenyataan buruk yang ada sekarang pada dirimu, berarti kamu mau menerima kebodohanmu sendiri!"

Nah, aku mikirnya seperti ini: "oh, kalau UNTUK SEKARANG aku mikirnya terus nggak peduli sama hal-hal yang realistis, berarti aku bodoh dong. Yo aku nggak mau yo... Ya weslah, terima saja statusku sebagai anak IPA. Alhamdulillah."

Akhirnya, "Ya Allah Ya Robbi, maafkan hambaMu yang terlalu suka mengeluh ini."

Salahkah Aku?

Hmm. siapakah yang salah?
Ketika itu, aku koleng dan jujur, nggak seberapa fokus buat belajar Matematika.
Dengan berbekal Bismillah dan doa dari shalat dhuha, aku harap-harap cemas semoga soalnya nggak susah-susah amat. Maklum, contoh soal bab yang satu bab ini aja udah 30 an lebih variasi.

Lhah aku tadi malem baru pulang jam setengah 9, kehujanan, di tengah jalan cuma ditemani orang-orang asing plus petir yang nggak tanggung-tanggung suaranya! Jadi, sampe rumah udah males buka buku matematika dalam bentuk apapun lah. Langsung tidur, makan aja gak mau kok.

Well, Alhamdulillahnya, Allah mengabulkan semua doa-doaku ketika shalat Dhuha. Aku yakin Allah tak pernah menyia-nyiakan setiap usaha kita. NGgak pernah, asalkan kita termasuk orang-orang beriman.