RSS

Filosofi Darah

Pas Biologi :

Kamu itu kalo jadi tamu, mbok ya seperti darah... Darah itu nggak langsung menuju ke biliknya. Tapi, ke serambinya dulu. Okay?

Hm.. emang orang sekarang pada langsung ke biliknya orang ya? Aku nggak kok. Tenang aja.

I Miss The Rain

Mr Rain...
I miss you,
I always wait for your coming

Mr Rain...
I've never felt cold with you
Eventough you make me wet
But, I miss you so much, Mr Rain

Don't ever go from my day
I like the day when you come with some happiness
No pain
No mind
I like to be free with you

Don't wanna let you go

Terms of My (New) Teachers

Life Observer?

Hmm, nice job. Haha, kudu minjem istilah Andrea Hirata dari buku 'Edensor'nya yang ndewo banget. Novel perjalanan yang sampai membuatku tergila-gila dengan segala pesona tempat dan keunikan yang dijelajahi Andrea. I wish, I was there.

Back to life observer. Tepatnya, my teacher's observer. Ah, hari ini lucu. Kurasa, kelas XI memang beda. Guru-guru yang kujumpai terasa berbeda, peduli, dan seru! Mereka lebih seperti anak muda dan enjoy. Tapi, tetep. Kredit yang dikejar tak tanggung-tanggung, 80!

Mendapatkan guru ideal yang tetap berorientasi pada tujuan. Ini merupakan tantangan yang sangat berat. Maap ya Pak, Bu, atas kelancangan saya. :)

Guru B.Indonesia :
-Bu Min : kadang suka gak jelas. Tapi, anyway she's okay.
-Bu Nur : suka teater dan berekspresi.

Guru Matematika :
-Bu Roes : paling kalem dan jarang bersuara keras. Tapi soalnya, ndewo banget. Ngerjain sepapan tulis juga gak bisa selesai kadang.

Guru Kimia :
-Pak Joko : suka nerangin intinya, tapi malah mbulet.
-Bu Tituk : favoritnya anak2. pun ketika beliau meremidi ulangan. Gak kaya remidi.

Guru Fisika :
-Pak Nur a.k.a wali kelas : kadang gj. Kalo bikin soal gak ribet. TAPI KUDU RAPI, tipikal orang Jepang. Gak boleh ada stipoan di kertas ulangan.

Guru Biologi :
-Bu Heni : top deh neranginnya. Saking nguasai materi beud, Buk nya kecepeten. Kan aku gak siap alat rekam kalo biologi. Biasanya versus Helmi.

Guru Kesenian :
-Pak A. Lamri : cinta keindahan

Guru Agama :
-Bu Rohimah : psikolog remaja banget, menerapkan metode Islam yang gaul tapi syar'i.

Guru Olahraga :
-Bu In : lebih suka proses daripada hasil

Guru PKn :
-Bu Puji : Smalane true lovers! jangan coba-coba ganggu Smala. kalau tidak, akan berhadapan langsung dengan beliau.

Guru Komputer :
-Mas Koko : lumayan sih kalo nerangin. Tapi mas nya ganti-ganti. Mpe gak tau semua namanya masing-masing. Bingung sama yang ngajar... But, I always lova computer lessons. I can browse, up to ME!

Guru B.Inggris :
-Mrs. Fauzia : pelajarannya bonus.
-Ms. Anisa : always speaking. You must speak or you've no mark on your final report.

Guru B.Jep :
-Hanif Sensei : menerapkan cara pengajaran yang berbeda dari waktu ke waktu. Mesti dakwah di setiap pelajaran (support him). Oh ya, suka dievaluasi sama anak2. Ganbatte Sensei.

Ocehan waktu kelas 4

Jadilah Tanah, Jangan Jadi Genteng...

Mengingat kembali memori 6 tahun yang lalu, ketika aku masih kelas 4 SD...
Waktu itu, aku masih hobi banget gowes sama temen-temen ngajiku di kampung. Aku dengan Nur sepedaan berdua dari Watu-Watu. Tiba-tiba, di perjalanan pulang, Nur berkata, "Nis, kamu mau jadi genteng apa jadi tanah?"

"Genteng," jawabku.
"Hah? Genteng? Kok aku lebih suka jadi tanah ya?" sangkalnya.
"Kan tanah di bawah. Mending genteng kan. Di atas. Bisa melindungi orang-orang..." sangkalku juga.
"Gini wes. Genteng, emang di atas. Tapi sekali dia jatuh, dia akan hancur. Pecah berkeping-keping." katanya sambil menyejajari langkah sepedaku.
Aku terdiam, berpikir sebentar. Tapi nggak mudeng kenapa masih istimewa tanah. Daripada bingung, akupun tanya ke Nur, "Apa coba istimewanya tanah?"

"Tanah, meskipun diinjek-injek, dia tetep menghasilkan banyak manfaat sama kita. Dia rendah hati,  bukan rendah diri. Kita terbuat dari tanah. Meninggal pun ditaruh di dalam tanah. Tapi, tanah tak pernah mengeluh bukan. Sedangkan genteng itu sombong. Dia maunya terus aja di atas. Emang sih, dulunya dia di bawah. Tapi setelah jadi genteng, mana pernah dia mau di bawah." sahutnya santai.

Ok, jadi saat itu juga aku berjanji : aku nggak mau jadi genteng ah. Takut pecah kalau jatuh. Sakit kan rasanya. Mending jadi tanah. Meskipun diinjek-injek, tetep semangat untuk memberikan kebahagiaan untuk makhluk hidup di atas dan di bawahnya.

Ada Apa dengan Maksimal

Astaghfirullah hal adziim... Kemarin, kena semprot seseorang. Tapi, di sisi lain aku juga sadar soal introspeksi diri ini. Ya, EVALUASI DIRI SENDIRI sebelum evaluasi orang lain.

Dan pengartian kata-kata maksimal, adalah sebuah perbedaan mutlak yang perlu dimiliki seseorang. Kadar kemaksimalan adalah hal yang paling menarik untuk dibahas saat ini.

Maksimal? Dari kata Maxim dan Al? Ya pokoknya gitu lah.
Sesuatu bisa dikatakan maksimal jika ya... sesuatu itu Out of the Box!
Tapi kadang-kadang, kita SERING menilai sesuatu itu sesuai keinginan kita. Kita mengukur kemaksimalan kita melakukan sesuatu itu terlalu cepat dan terlalu rendah. Dan inilah yang kadang membuat kita cepet merasa bosan dan malas.

Untuk maksimal, diperlukan cinta dari diri kita. Diperlukan sesuatu yang sangat kuat dan seribu alasan agar kita tetap menyadari bahwa apapun yang sekarang sedang kita kerjakan belum maksimal. Cinta itulah salah satunya. Entah kenapa, aku kadang terlalu sering membenarkan diri sendiri dan malah menyalahkan orang lain. Terutama ketika kita sedang capek, kesal, atau marah.

Ketika sedang mengetik tulisan ini aku pun sedang berpikir, sudah maksimalkah aku selama 16 tahun ini? Sudah benarkah sikap yang kulakukan? Tadi pagi aku memarahi diri sendiri seperti aku memarahi orang lain. Aku marah karena aku masih banyak kekurangan, dan belum mau melengkapi kekurangan itu.

Aku merasa kurang maksimal di lingkungan yang sekarang. Aku banyak merasa kurang. Dan, sekarang aku berjanji kepada diri sendiri bahwa aku akan memaksimalkan setiap kemampuan dan keistimewaan yang diberikanNya padaku.

Hingga waktu itu tiba.

Aku pernah membaca satu kalimat ajain dari Hasan Al-Banna yang intinya :

Istirahat itu hanya akan terjadi di surga.

Pengarang

Ketika sedang mbantuin Antok bikin cerita pendek yang akan dijadiin komik, aku ditanya temen A, "Nis, kamu kok mau sih, ngarang gitu? Gratisan lagi."

Jawabku,"Ya, karena aku suka. Meskipun nggak dibayar, ya gapapa."

Temen B komentar : "Oh, berarti hidupmu dikarang-karang ya?"

Hm... Haha, dikarang-karang?

Ada benernya juga. (epek jadi pengarang : hidup juga kadang bisa dikarang...)

Izinkan Aku Memberikan yang Terbaik

Alhamdulillah... Hari ini, aku masih diperkenankan 'mendapatkan banyak uang'. Meskipun itu uang sakuku. Minggu ini, aku dapet sekitar 3x lipat dari uang sakuku yang biasanya.
LAntas, aku pun bingung, mau kuapakan uang ini? Hutang? Hmm.. Ada. tuh. Tapi, sederet pengeluaran nampaknya sudah terbayang di benakku.

Tapi, kemudian aku memandangi sosok - sosok yang menjadi perantaraku dan uang ini. Pastinya mereka adalah kedua orang tuaku, dan... UTIku.

Sejak aku duduk di bangku SMA, aku jarang sekali membantu tugas-tugas berat mereka di rumah. Padahal, dulu aku adalah anak rumahan yang tipenya HOUSE WIFE banget. Sekarang? jadi anak "jalanan" deh. Eh, bukannya aku ditelantarin di jalanan, tetapi aku lebih sering di jalanan daripada di rumah. Aduh, gimana ya, ngomongnya. Wes, pokoknya gitu deh. Intinya di rumah itu, cuma kugunakan buat makan, minum, dan tidur.

Kalo pun aku nyuci baju, paling-paling seminggu sekali. Nyapu rumah pun jarang buanget, kalo nggak bener-bener disuruh. Maaf yah, my lovely family.. :)
Tapi, yang jelas, aku sayang kalian.

Nah, aku masih inget permintaan Utiku. Beliau pingin banget dapetin buku Membuka Pintu Langit karya H. Mustofa Bisri. Sepertinya beliau ingin mendapatkan buku itu secara gratis. Ya Allah, izinkan aku kali ini untuk mendapatkan buku itu, dan buku itu akan kupersembahkan khusus untuk Uti. Aku tahu, Uti tak pernah meminta apapun dariku. Tapi, aku ingin seklai memberi beliau sesuatu yang berharga. Sesuatu yang bahkan sangat beliau idam-idamkan. Walaupun itu bukanlah sebuah berlian, emas, atau pakaian mewah. Tapi, karena aku lebih suka di bidang teknologi daripada beliau, maka aku ingin sekali memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasihku. Walaupun kenyatannya, buku itu belum lah cukup mewakili rasa terima kasihku pada beliau.

Please ya, Ya Allah. Aku niatkan untuk ikut undian itu karenaMu. Karena rasa cinta dan rasa terima kasih yang telah Kau berikan kepada kami. Dan jika aku menang, buku itu menjadi milik Uti.

Dear October

Hay... bulan Oktober... Well, aku tahu diriku tak akan pernah bisa diterima orang lain jika aku tak mengubahnya lebih dulu. Hari ini, karena masih tanggal 2 Oktober yak, jadi aku pingin membuat list target + evaluasi singkat :

Target Bulan ini :
-Kalo ada ulangan/try out, NGGAK BOLEH NGGAK TUNTAS!
-Nyelesaikan Mading Det Con tepat waktu.
-Jadi 3 besar di DetCon 2k11
-Belajar efektif
-Ngafalin minimal 5 surat di Juz 'Amma
-Memperbanyak infaq
-Sukses di Latuska, be the best :)
-Shalat Malem 3x Seminggu
-Min. ikut 2 Lomba Menulis
-Bayar Hutang

Evaluasi Bulan Lalu :
-Masih belum bisa bagi waku
-Masih gak konsisten
-Masih gak bisa nepatin janji
-Masih belum bisa concern ngerjain PK (pekerjaan rumah)
-Kurang introspeksi
-Kurang respek sama orang
-REMIDI... Masya Allah...(Lagi-lagi) Kimia-Fisika...

Well, semoga daftar di atas bisa lebih menyemangatiku lagi. Ya Allah.. bantuin Nisa menuhin target-target itu dan mengurangi evaluasi yang udah ditulis di atas...
Entah kenapa, aku merasa beberapa hari ini kaya kena hukum karma deh. Tapi... Innallaha Ma'as Shobiriin. Amiin.