RSS

Sebuah Cerita

Suatu hari, ada seorang pemuda yang ingin memberikan sekarung singkong ke rumah Pak Kiai. Niatannya ikhlas memberikan singkong tersebut kepada Kiai sebagai bentuk syukurnya kepada Allah.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam, pemuda. Ada apa?" kata Pak Kiai.
"Ini Pak Kiai. Saya mempunyai singkong untuk Bapak. Alhamdulillah, singkong saya panen banyak." katanya sembari menyerahkan singkong tersebut.
"Wah, terima kasih."
"Sami-sami, Pak Kiai. Monggo, saya pulang dulu. Assalamu'alaikum..." kata si Pemuda yang bergegas pulang.

Tetapi, di luar dugaannya, Pak Kiai tadi menahannya."Sebentar toh... kamu jangan pulang dulu. Duduk sini, dulu."
"Lho, saya buru-buru."
"Sebentar! Ayo duduk lagi."
Mendapatkan paksaan seperti itu, si pemuda akhirnya duduk lagi karena sungkan dengan Pak Kiai.
Pak Kiai akhirnya pergi ke belakang dan tiba-tiba membawa seekor kambing untuk si pemuda.
"Ini untukmu."
"Lho, Pak Kiai. Saya ikhlas... Demi Allah, saya ikhlas. Nggak usah repot-repot."
"Kamu ikhlas toh tadi? Ya sudah, saya juga ikhlas menyerahkan kambing ini padamu. Ini, rawat baik-baik ya."
Si pemuda masih saja menolak, tetapi berkat kepiawaian Pak Kiai, pemuda tersebut akhirnya mau juga membawa kambing barunya.

Konon, cerita tersebut didengar seantero kampung. Ada seorang pemuda lain yang sampai berpikir aneh.
"Wah, kalau dia saja menyumbang sekarung singkong dapat kambing, berarti aku nanti menyumbang kambing pasti dapat seekor sapi. Wah, aku harus menemui Pak Kiai itu."
Berangkatlah pemuda 2 ini ke rumah Pak Kiai.

"Assalamu'alaikum, Pak Kiai."
"Wa'alaikumussalam."
"Pak Kiai, ini Pak Kiai. Saya ikhlas! Saya ikhlas memberikan kambing ini kepada Pak Kiai." katanya menggebu-gebu, sambil berharap yang tidak-tidak.
"Oh, ya sudah." kata Pak Kiai tanpa menahannya lebih lama.
"Lho. Sebentar Pak Kiai. Kan, saya ikhlas..."
"Ikhlas toh?"
"Tapi.. maksud saya... Anu... Ya... saya ikhlas. Ikhlas, ikhlas, Pak Kiai..."

Pak Kiai tersenyum, kemudian berkata, "Ya sudah, tunggu di sini sebentar."
Tak lama kemudian, Pak Kiai membawa sekarung singkong dan memberikannya kepada pemuda kedua.
"Kamu ikhlas kan, memberi saya kambing. Makanya, saya juga ikhlas memberimu sekarung singkong ini."

Si pemuda dua akhirnya pulang denganm perasaan sedih.

Bagaimana pendapat Anda semua?