RSS

Hear Our Heart

Jalan Cinta Para Pejuang-Sallim A.Fillah.

Di kalangan aktivis dakwah, nama Sallim A.Fillah pasti bukan nama yang asing. Setiap untaian kata dalam buku-bukunya mengalun indah. . .
Menerangi setiap hati yang gundah. Biar gak galau kali ya.

Seorang (mantan) teman sekelasku yang (merasa) sangat imut-imut sekali, datang ke kelas. Menenteng-nenteng buku itu. Aku pun dengan tidak seberapa anarkis meminjam bukunya.

Sreet... Terbukalah halaman itu:


NURANI...

Cita dan tujuan selalu ada jauh di depan
Gairah dan hasrat membuatnya terasa dekat
Jikapun kemudian ia masih tampak gelap atau buram
Itu karena mata yang kita pakai untuk melihatnya 
terletak dalam hati
APAKAH KAU MENDENGAR SUARANYA SAAT MEMOHON UNTUK TAK DIKOTORI?

Kemudian, ada suatu hadits riwayat Muslim:

~Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya. dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati. Meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu~

Setiap manusia zaman sekarang memang nggak punya pemahaman yang sama dengan wahyu Allah. Begitu pula dalam mengenali Rasulullah secara total dan meniru apa-apa yang diperbuat beliau. Tapi, Allah menitipkan satu chip untuk mendeteksi kebenaran. Yaitu hati nurani.

Hati nurani akan selalu berdering ketika ada sesuatu yang salah dengan diri ini. Tetapi ia juga akan semakin tertutup seiring dengan kemaksiatan yang kita lakukan. Percayakah?

Misal, ketika kita akan nyontek. Pasti 'sesuatu' dalam jiwa kita melarang untuk berbuat itu. Bisikannya begitu halus, tapi sangat tajam. Invisible, tapi terasa. 
Misalnya lagi, ketika kita akan bohong. Hati nurani dengan sangat tegas memperingatkan kita. Tinggal kita memilih, mau melakukan itu atau tidak.

Jangan biarkan Allah mengunci hati nurani kita. Karena ialah penghubung kita denganNya.

Ya Allah, jangan kau berikan kunci hati ini sebelum waktunya.