RSS

Ocehan waktu kelas 4

Jadilah Tanah, Jangan Jadi Genteng...

Mengingat kembali memori 6 tahun yang lalu, ketika aku masih kelas 4 SD...
Waktu itu, aku masih hobi banget gowes sama temen-temen ngajiku di kampung. Aku dengan Nur sepedaan berdua dari Watu-Watu. Tiba-tiba, di perjalanan pulang, Nur berkata, "Nis, kamu mau jadi genteng apa jadi tanah?"

"Genteng," jawabku.
"Hah? Genteng? Kok aku lebih suka jadi tanah ya?" sangkalnya.
"Kan tanah di bawah. Mending genteng kan. Di atas. Bisa melindungi orang-orang..." sangkalku juga.
"Gini wes. Genteng, emang di atas. Tapi sekali dia jatuh, dia akan hancur. Pecah berkeping-keping." katanya sambil menyejajari langkah sepedaku.
Aku terdiam, berpikir sebentar. Tapi nggak mudeng kenapa masih istimewa tanah. Daripada bingung, akupun tanya ke Nur, "Apa coba istimewanya tanah?"

"Tanah, meskipun diinjek-injek, dia tetep menghasilkan banyak manfaat sama kita. Dia rendah hati,  bukan rendah diri. Kita terbuat dari tanah. Meninggal pun ditaruh di dalam tanah. Tapi, tanah tak pernah mengeluh bukan. Sedangkan genteng itu sombong. Dia maunya terus aja di atas. Emang sih, dulunya dia di bawah. Tapi setelah jadi genteng, mana pernah dia mau di bawah." sahutnya santai.

Ok, jadi saat itu juga aku berjanji : aku nggak mau jadi genteng ah. Takut pecah kalau jatuh. Sakit kan rasanya. Mending jadi tanah. Meskipun diinjek-injek, tetep semangat untuk memberikan kebahagiaan untuk makhluk hidup di atas dan di bawahnya.