RSS

Ada Apa dengan Maksimal

Astaghfirullah hal adziim... Kemarin, kena semprot seseorang. Tapi, di sisi lain aku juga sadar soal introspeksi diri ini. Ya, EVALUASI DIRI SENDIRI sebelum evaluasi orang lain.

Dan pengartian kata-kata maksimal, adalah sebuah perbedaan mutlak yang perlu dimiliki seseorang. Kadar kemaksimalan adalah hal yang paling menarik untuk dibahas saat ini.

Maksimal? Dari kata Maxim dan Al? Ya pokoknya gitu lah.
Sesuatu bisa dikatakan maksimal jika ya... sesuatu itu Out of the Box!
Tapi kadang-kadang, kita SERING menilai sesuatu itu sesuai keinginan kita. Kita mengukur kemaksimalan kita melakukan sesuatu itu terlalu cepat dan terlalu rendah. Dan inilah yang kadang membuat kita cepet merasa bosan dan malas.

Untuk maksimal, diperlukan cinta dari diri kita. Diperlukan sesuatu yang sangat kuat dan seribu alasan agar kita tetap menyadari bahwa apapun yang sekarang sedang kita kerjakan belum maksimal. Cinta itulah salah satunya. Entah kenapa, aku kadang terlalu sering membenarkan diri sendiri dan malah menyalahkan orang lain. Terutama ketika kita sedang capek, kesal, atau marah.

Ketika sedang mengetik tulisan ini aku pun sedang berpikir, sudah maksimalkah aku selama 16 tahun ini? Sudah benarkah sikap yang kulakukan? Tadi pagi aku memarahi diri sendiri seperti aku memarahi orang lain. Aku marah karena aku masih banyak kekurangan, dan belum mau melengkapi kekurangan itu.

Aku merasa kurang maksimal di lingkungan yang sekarang. Aku banyak merasa kurang. Dan, sekarang aku berjanji kepada diri sendiri bahwa aku akan memaksimalkan setiap kemampuan dan keistimewaan yang diberikanNya padaku.

Hingga waktu itu tiba.

Aku pernah membaca satu kalimat ajain dari Hasan Al-Banna yang intinya :

Istirahat itu hanya akan terjadi di surga.